Indonesia Dilanda Duka, Ini Saatnya Berubah


Awal tahun 2021 hingga hari ini, ibu pertiwi banyak menangis. Seluruh penjuru Indonesia dilanda duka, bencana yang datang susul menyusul. Gempa bumi mengguncang berbagai wilayah hingga 646 kali selama Januari (BMKG/kompas.com/03/02/2021). Banjir merendam DKI Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan menyambangi tanah Kalimantan yang sebelumnya bebas banjir. Tanah longsor menelan banyak jiwa dari Sumatera Barat hingga Jawa Barat. Sementara banyak keluarga masih bersedih atas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ke dalam perairan Kepulauan Seribu, badai di tengah laut masih banyak mengamuk, begitupun hingga ke daratan disertai tornado di banyak tempat. Berbagai gunung berapi juga mulai menyembur. Covid-19 juga sepertinya masih enggan cepat-cepat menghilang dari negeri ini. Rasa aman menjadi barang langka. Duka menjadi warna pekat dari Sabang sampai Merauke.

Namun sikap orang beriman ketika dilanda bencana bukanlah larut dalam duka dan tenggelam dalam tangisan. Sikap  orang beriman di saat seperti ini adalah sabar, menanggung perih hingga semua ini berlalu, dan pasti duka akan berlalu. Dan bagian dari kesabaran itu menuntut kita untuk sibuk mencari jalan keluar, hingga pedih ini cepat sirna. 

Sembari kita sibuk merenungi dan mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan yang mungkin menjadi sebab datangnya duka. Karena Allah sejatinya telah menegur dan memperingatkan manusia, terutama orang beriman, tentang kesalahan ini: Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan (perbuatan salah) manusia agar tampak jelas sebagian akibat dari perbuatan (salah) mereka supaya mereka mau kembali (bertaubat). (TQS. Ar-Rum: 41).

Bagi orang yang beriman kepada setiap ayat dan setiap huruf dalam Al-Quran, sebagai firman dari Allah Al-‘Alim Al-Mudabir, ayat ini menjadi pengingat bagi yang lupa dan penguat bagi yang ingat. Duka ini adalah teguran Allah atas kesalahan yang kita lakukan kepada bumi, baik daratannya maupun lautannya. Mungkin kita selama ini sudah terlalu jauh lupa menjaga dan melestarikan bumi, hingga bumi mendidih dan menggelegak seperti ini. Mungkin kita terlalu bebal, hingga kita menumpuk begitu banyak kesalahan pada air, tanah dan udara. Kesalahan kronis yang sekian lama kita lakukan dengan ringan tanpa ingat dosa. Maka, sikap orang beriman atas teguran Allah ini adalah tertampar lalu sibuk bertaubat: merenungi dan mengakui kesalahan, mencari jalan perbaikan lalu sibuk memperbaiki.

Bukankah manusia sendiri dengan penyakit serakahnya yang telah menggunduli bahkan membakar ratusan ribu hektar hutan? Akar-akar pohon tidak lagi mencengkeram tanah sehingga rawan longsor, hutan tidak lagi menyimpan air dan membantu peresapan air tanah hingga banjir melanda, tidak lagi berfungsi baik sebagai paru-paru dunia hingga dunia mendidih lalu angin mengamuk di laut maupun di darat, bahkan musim pun sulit diterka dan air laut naik permukaannya.

Bukankah manusia pula dengan ketidakpeduliannya yang membuang sampah ke sungai, ke laut. Bukan hanya makhluk hidup air yang menjadi korban perbuatan praktis namun merusak mereka itu, manusia sendiri menjadi korban ketika air tidak bisa mengalir dan menggenangi tempat tinggal mereka. Salahkah curan hujan ketika banjir terus datang sementara kita tidak juga menghentikan membuang sampah sembarangan?

Dan memang gempa bumi terjadi atas kehendak Allah yang Maha Berkehendak. Namun, sudahkah negeri ini memperbaiki semua sistem peringatan dini atas gempa bumi dan tsunami agar rakyat punya cukup waktu untuk menyelamatkan diri? Sudahkah semua gedung, rumah, jembatan, gorong-gorong dan jalan-jalan memperhitungkan dan menggunakan konstruksi dan teknologi anti gempa sehingga kerusakan dan korban bisa diminimalisir? Sudahkah negara memastikan bahwa setiap individu rakyatnya sudah mendapatkan pengetahuan cukup dalam menghadapi dan mengatasi musibah gempa? Usaha benar apa yang sudah manusia negeri ini, terutama negaranya, dalam mitigasi bencana gempa sehingga duka akibat bencana ini tidak sebesar sekarang?

Karena itu, mari kita hapus air mata kita. Kita hadapi musibah ini sebagai datangnya pintu berkah di hari berikutnya. Kita teliti kesalahan kita, kemudian kita perbaiki satu demi satu dengan saling bahu membahu. Rakyat biasa menjalankan peran taubat perbaikannya. Negara menjalankan peran taubatnya. Pengusaha juga taubat. Para intelektual sumber ilmu pengetahuan dan teknologi juga taubat. Semua pihak harus meniti jalan kembali kepada Allah. Jalan kembali berupa mencari tahu semua syariat Islam yang harus dijalankannya lalu bekerja sama satu sama lain untuk menjalankan ketakwaan ikhlas karena-Nya. Negara harus takwa, rakyat pun harus takwa. Sebab semua masalah dan duka telah diberi jalan keluar oleh Allah dalam Al-Quran, Al-Hadis, ijma’ sahabat dan qiyas syar’i. Bila kita tidak tahu, itu karena kita selama ini tidak atau kurang mencari tahu. Bila kita tahu tapi tidak peduli, duka ini menjadi titik balik kita untuk menjalani hidup dengan benar sesuai petunjuk Allah, wahai manusia ciptaan Allah! Dan  bila mungkin kita membenci aturan agama kita sendiri karena alasan apapun hingga tidak mau taubat total kepada Allah, maka segeralah kembali sebelum kita dijadikan Allah Firaun kedua, ditimpa azab yang tidak bisa lagi diselamatkan. Bagi Allah itu mudah, maka takutlah!

Inilah saat berubah, saat duka begitu pekat dan kita tak bisa lagi menutup mata. Maka kembalilah kepada ketakwaan yang sempurna. Gunakan keyakinanmu untuk kembali menjalankan seluruh syariat-Nya tanpa keberatan atau keraguan akibat bisikan setan. Jalankan negeri ini sesuai petunjuk Rasulullah SAW. Atasi bencana negeri ini sebagaimana para Khalifah Amirul Mukminin dulu mengatasinya berdasarkan petunjuk dari Allah dalam dalil syar’i. Kembalilah pada Allah, pada aturan-aturan-Nya, pada petunjuk-Nya, dan itulah jalan keluar negeri ini dari duka.[]

Oleh: Indah Shofiatin, Alumnus FKM Unair, Penulis Lepas

Posting Komentar

0 Komentar