Huru Hara UKT di Masa Pandemi


Uang Kuliah Tunggal (UKT) masih menjadi sebuah permasalahan di tengah-tengah mahasiswa. Seperti di salah satu Perguruan Tinggi (PT) di Medan, Universitas Sumatera Utara. Salah seorang mahasiswa melakukan aksi tunggal untuk menuntut diberikan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Dimas (22) Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar aksi tunggal menuntut keringanan UKT di depan gedung Biro Rektorat USU, Senin (8/2). Pantauan Waspada Online, Dimas memulai aksi mulai sekira pukul 11.30 WIB. Pada aksi tersebut mengenakan topi caping, almamater USU, sembari memegang pengeras suara.

Sebenarnya permasalahan keringanan UKT bukanlah masalah baru. Di awal pembelajaran online banyak mahasiswa dari seluruh penjuru kota menuntut hal yang sama. Tentunya ini bukanlah hal yang lumrah, sudah wajar mahasiswa menuntut hak keringanan UKT, sebab di masa pandemi saat ini, masih dilakukan pembelajaran secara daring. Dan banyak mahasiswa yang merasa tidak memakai fasilitas kampus, maka wajar bila biaya kuliah seharusnya tidak dibayar penuh seperti biasanya. 

Belum lagi akibat dari pembelajaran daring mahasiswa harus menyisihkan uang lebih untuk membeli kouta internet. Mestinya dalam kondisi pandemi yang belum juga berakhir, pemerintah memberlakukan kebijakan penyesuaian administrasi untuk meringankan biaya kuliah mahasiswa. Disisi lain adanya kebijakan bantuan UKT masih terkesan tebang pilih. Padahal dampak perekonomian akibat Covid-19 dirasakan oleh setiap orang. Seharusnya semua mahasiswa mendapatkan keringanan bahkan penggratisan UKT dan pelayanan yang baik dari akademik termasuk transparansi dalam pengelolaan PT.

Serta, mendapatkan fasilitas yang sama selama proses pembelajaran meskipun dilakukan secara daring misalnya penggratisan kuota internet sebagai bentuk penunjang. Namun, hal itu hanya angan semata, yang membuat mahasiswa merasa kecewa terhadap kampusnya. Bahkan, sekarang negara seakan lepas dari tanggungjawabnya. Sistem pendidikan yang berlangsung saat ini diserahkan kepada pihak swasta (pihak sekolah sendiri).

Inilah permasalahan yang senantiasa kita dapati dalam dunia pendidikan saat ini. Pembelajaran jarak jauh diberlakukan hingga mengharuskan mahasiswa mengeluarkan biaya penunjang tambahan namun UKT tidak ada perubahan. Fenomena ini merupakan dampak dari ideologi kapitalisme-sekuler. Dimana dalam sistem kapitalisme, semua hal terkait pendidikan serba berbayar mahal. Tidak ada yang murah, apalagi gratis. Hal itu karena negara lepas tangan dari urusan pendidikan. 

Negara hanya menyediakan regulasi dan membiarkan rakyat berjuang sendiri demi mengakses pendidikan. Jika pun ada subsidi, jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan besarnya jumlah pelajar dan mahasiswa yang ada. Tentu saja ini akan memberikan pengaruh bagi adanya komersialisasi atau menjadikan ajang bisnis pada sektor pendidikan. Komersialisasi ini akan menjadi faktor semakin menganganya jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin. 

Sebenarnya di dalam sistem kapitalis sekuler hal ini sudah wajar sebab adanya pemberlakuan Tripel Helix yaitu dimana terjadinya kolaborasi antara penguasa, intelektual dan industry. Tentunya dalam kolaborasi ini yang paling banyak mendapatkan keuntungan ialah para kapital. Maka tak heran bila dunia pendidikan hari ini semakin rendah dan rapuh.

Karena itu solusi yang dapat memecahkan semua permasalahan ini hanyalah Islam. Dalam Islam, pendidikan adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan handal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu dan teknologi/PITEK), memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Dan di dalam Islam, negara lah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi PT, metode pengajaran dan bahan-bahan ajarnya, dan memberikan fasilitas yang lengkap dan memadai, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. 

Karena dalam Islam semua yang berstatus rakyat, berhak mendapatkan hak yang sama. Baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan rasa aman. Negara akan menjamin kebutuhan rakyatnya, tentu saja bila melihat kondisi saat ini yang penuh dengan permasalahan solusinya hanyalah Islam. Dalam sistem Islam distribusi harta oleh negara terjalur dengan rapi dan tepat sasaran. Wallahua’lam bishowab.[]

Oleh: Selvy

Posting Komentar

0 Komentar