Habis Terbit Pasal Kebiri, Terbenamkah Para Pedofil?

Hukuman kebiri bagi predator anak telah ditandatangani oleh Presiden Jokowi menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020. Dikutip dari JDIH laman Setneg pada 3 Januari 2021, Peraturan Pemerintah tersebut memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Dan dengan ditetapkannya hukuman kebiri kimia bagi predator anak ini, pemerintah berharap dapat menekan jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak dan menimbulkan efek jera kepada pelaku.

Pembahasan hukuman kebiri kimia ini sebenarnya telah mencuat dan menjadi perbincangan sejak tahun 2016, ketika Presiden Jokowi menerbitkan Perpu Nomor 1 Tahun 2016. Perpu tersebut kemudian disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016, yang didalamnya memuat tentang hukuman kebiri kimia bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak dalam undang-undang perlindungan anak. Akan tetapi pada kenyataannya, setelah Perpu tersebut disahkan sebagai undang-undang. Jumlah kasus kejahatan terhadap anak tidak juga berkurang. Berdasarkan data yang dirilis KemenPPPA pada 2020, kejahatan seksual terhadap anak di masa pandemi Covid-19 mengalami peningkatan kasus, ada 4.833 kasus kejahatan terhadap anak dan 2.556 anak yang menjadi korban kejahatan seksual. Sungguh Miris.

Dari data yang dirilis Kemen PPPA ini menunjukkan bahwasannya pemerintah gagal dalam menangani serta menanggulangi kasus kejahatan terhadap anak. Yang terjadi bukannya kasus berkurang akan tetapi semakin bertambah. Maka sudah sepatutnya ini yang harus dijadikan fokus oleh pemerintah. Mengapa kasus kejahatan terhadap anak ini terus terjadi dan apa penyebabnya? Lalu apakah dengan hukuman yang ada saat ini itu belum cukup untuk memberikan efek jera terhadap para pelaku pedofil? Dan apakah benar hukuman kebiri ini efektif untuk memberikan rasa aman dan tenang untuk semua pihak?

Kasus kejahatan seksual terhadap anak ini dapat terjadi disebabkan adanya kerusakan sistem pergaulan dan sistem politik yang tidak menempatkan kepentingan rakyat sebagaimana yang seharusnya. Rusaknya sistem pergaulan ini dapat dilihat dari tidak adanya batasan antara hubungan laki-laki dan perempuan. 

Kemudian tidak adanya edukasi atau penjelasan mengenai bagaimana menjaga kehormatan satu sama lain, dan diperparah dengan tontonan yang merusak serta tidak mendidik, keadaan lingkungan yang mendukung kebebasan, moralitas dan tingkat kewajaran diukur dari manfaat dan kesenangan semata. 

Akhirnya banyak orang menilai pacaran lebih baik dan mudah dibanding menikah yang dinilai sulit, tren berbangga dengan berpakaian mini dan tidak menutup aurat. Sehingga menjaga kehormatan seolah tidak ada artinya lagi, kehormatan ditempatkan di nomor sekian. Keadaan demikianlah yang membuat serta mendorong orang-orang itu menjadi pedofil, pemerkosa, pezina. Tidak ada keamanan dan rasa takut dosa sehingga hasrat seksual meledak. Kemudian juga tidaknya aturan yang tersistemasi yang dapat membuat satu sama lain saling menjaga kehormatan.

Kemudian tidak hanya dari sistem pergaulan yang rusak. Dari sistem politiknya, negara dan pemerintah tidak pernah menitikberatkan kepentingan untuk rakyatnya. Akan tetapi peraturan dan kebijakan dibuat hanya sebagai pemanis dan pelengkap dari tugas tahunan pemerintah. Solusi yang diberikan ibarat seperti jika terjadi banjir bandang, solusi kebijakan dari pemerintah adalah pel rumah masing-masing. Bukan menghentikan penyebab terjadinya banjir seperti membersihkan selokan dan upaya lainnya agar banjir itu dapat dihentikan untuk selamanya. 

Sehingga jika demikian kerusakan sistem pergaulan dan sistem politik ini akan terus menjadi penyebab utama terjadinya kejahatan seksual terhadap anak. Solusi yang diberikan tidak efektif dan tidak menimbulkan efek jera. Sehingga para pedofil itu tidak kapok dan dapat mengulangi kesalahan yang sama. Tidak adanya rasa aman dan nyaman  bagi anak-anak, orang tua akan selalu was-was dan tidak bisa tenang jika anak-anak berada di luar rumah. 

Maka sudah saatnya kita harus menyadari bahwasannya kejahatan seksual terhadap anak ini dapat terjadi merupakan hasil dari penerapan sistem yang rusak, yakni sistem kapitalisme yang diadopsi oleh pemerintah Indonesia. Sehingga apabila kita ingin kejahatan seksual terhadap anak ini berhenti dan para pedofil itu merasa jera. Maka kita harus mengakui bahwasannya Alquran dan as-Sunnah mempunyai jawaban tentang sistem pergaulan yang baik dan benar, kemudian bagaimana penguasa memberlakukan politik yang benar atas kepentingan rakyatnya. Kita harus mau kembali pada aturan Allah sang pencipta.
  
Dalam Islam sistem pergaulan menempatkan kehormatan adalah yang utama, laki-laki dan perempuan dididik sesuai dengan jenis kelaminnya. Kemudian tontonan akan dijaga sepenuhnya dan semua mendapatkan edukasi yang sama terkait bagaimana menjaga kehormatan satu sama lain. Sehingga akan ada rasa aman dan dan tenang. 

Semua rakyatnya mengetahui tentang bagaimana sistem pergaulan yang seharusnya agar supaya selamat dunia akhirat. Dan apabila sudah diterapkan sistem pergaulan islam secara sempurna dan masih ada pelanggaran atau kejahatan seksual terhadap anak. Maka akan ada hukuman yang berat bagi para pelaku, jika kejahatan yang dilakukan adalah pemerkosaan akan dijatuhi hukuman bagi pezina, jika sampai merusak organ akan dikenakan hukuman pezina dan jinayat, kemudian apabila jika kejahatan seksual itu menyebabkan kematian maka hukuman bagi pelaku adalah hukuman pezina jinayat dan hukum membunuh secara sengaja, qisos. Sehingga dengan hukuman yang yang adil ini akan memberikan efek jera dan dapat memberikan keadilan serta rasa lega bagi para korban dan keluarganya. 

Itulah solusi satu-satunya yang dapat menghentikan kejahatan seksual terhadap anak, solusi yang dapat menghentikan para pedofil untuk melakukan kejahatan. Maka, marilah kita segera bertaubat kepada Allah secara total dengan menyerahkan urusan negeri ini kepada syariat Allah di bawah pimpinan orang yang bertakwa kepada-Nya, khalifah atau amirul Mukminin. Inilah jalan keluar bagi orang beriman dan masa depan kita bersama.[]

Oleh: Qonita
(Alumnus Unair)

Posting Komentar

0 Komentar