Generasi Z: Penerus Estafet Peradaban Gemilang


“Beri aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia" sebuah kutipan yang penuh optimisme akan potensi generasi muda, generasi penentu yang akan melanjutkan sebuah peradaban. 
Apakah kita memilikinya? Jawabannya iya, Indonesia kini memiliki generasi muda yang kerap disebut sebagai generasi Z atau generasi yang lahir antara tahun 2015-2010, generasi milenial.

Indonesia dengan bonus demografi, memiliki jumlah usia produktif mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa. Data itu semakin mengukuhkan asa untuk menjadikan Indonesia yang terdepan di kancah dunia. Namun, itu semua tinggallah mimpi, ketika generasi Z yang menjadi tumpuan kebangkitan masih berkubang dalam kemaksiatan.

Sungguh tak diragukan kemampuan dan prestasi para milenial masa kini. Tak hanya prestasi lokal, Indonesia pun diperhitungkan saat hadir dalam percaturan global, namun yang disayangkan segudang prestasi tersebut menjulang di atas tumpukan kelamnya nasib generasi Z di kedalaman peradaban yang memuja kesenangan dunia. Ditambah saat pandemi ini, generasi Z menjadi kelompok yang mendapatkan pukulan paling telak.

Buktinya saat pandemi, ujian kehidupan begitu menghimpit semua lini. Termasuk para pemuda yang mengaku bermental baja, diuji daya juangnya dengan belajar dirumah tanpa ditanya kelengkapan fasilitas yang dipunya. Hingga tak sedikit jatuh korban dalam menjalaninya. Korban nyawa karena putus asa, fasilitas seadanya bahkan tidak ada, kendala jaringan yang memaksa anak didik bertaruh nyawa mencari sinyal hingga naik tempat yang tinggi tanpa perlindungan diri. Belum lagi yg tak punya dana untuk mengisi kuota, tak hanya anak yang frustrasi, orangtua pun semakin terbebani dengan kondisi saat ini.

Generasi Z yang terbentuk dari sistem pendidikan inkonsisten, sistem yang mengikuti kepentingan para petinggi. Alih-alih melahirkan generasi terbaik, malahan menorehkan luka dalam benak mereka, generasi ini bingung akan arah dan pelaksanaan pendidikan yang tidak jelas. luka itu menjadikan rasa kecewa dan putus asa, mengabaikan dan meremehkan pendidikan yang hanya berisi tugas tugas yang melelahkan, menjadikan mereka penat dan memilih gadget sebagai penghiburnya. Jadilah game online dan pornografi menjadi pengalihan dan pelampiasan nya.

Generasi Z yang digadang sebagai generasi penerus estafet kehidupan bangsa ini, malah terpuruk karena sistem pendidikan rusak yang diadopsi dari kapitalis-liberal. Mereka menjadi korban tidak bertanggungjawabnya negara akan nasib arah pendidikan generasi. Negara abai untuk mengurusi kebutuhan rakyatnya, yang berhak mendapat pendidikan berkualitas. Negara tak boleh lepas tangan dalam menjamin pendidikan rakyat, apalagi menyerahkan pengurusannya kepada pengusaha. 

Sejatinya negara adalah penanggung jawab urusan rakyatnya, negara harus menjamin fasilitas dan sarana pendidikan dan yang terpenting negara wajib mengadopsi sistem baku pendidikan yang akan dipakai dan ditaati oleh seluruh rakyat. Apalagi saat pandemi seperti ini, negara seolah lupa akan tugasnya untuk memastikan dan menjamin ketersediaan fasilitas pembelajaran bagi seluruh rakyat secara cuma-cuma.

Tidak hanya jaminan sarana dan prasarana saja, negara wajib menetapkan sistem pendidikan yang bertujuan untuk membentuk kepribadian shahih, yakni kepribadian dengan akal (pola pikir) yang cemerlang disertai jiwa yang tenang. Sistem yang dibuat tidak hanya untuk mencapai kesuksesan dunia, pun sukses di akhirat menjadi prioritas utama.
Negara harus mengawasi jalannya sistem pendidikan sehingga berjalan sesuai orientasinya, menggunakan segenap sumber daya untuk menjamin fasilitasnya. Mensejahterakan kehidupan para guru pengajarnya, memastikan semua warga negara mendapatkan haknya untuk belajar, semua yang berkaitan dengan pengelolaan pendidikan menjadi tanggung jawab negara bukan swasta.

Pendidikan bukan untuk bisnis namun metode untuk menempa generasi penerus peradaban dunia. Hanya dengan Islam yang akan membentuk generasi Z menjadi generasi yang mumpuni, kuat secara akal dan juga mental. Sehingga generasi ini siap untuk mengemban tugas besar melanjutkan estafet kehidupan yang gemilang, yakni kehidupan yang bernaungkan keridhaan Dzat Pemilik Jagat Raya. Kehidupan yang membuka berkah dari langit dan bumi. Tidak mau kah kita kembali berjaya, tidak hanya di dunia namun juga di kehidupan setelahnya? Wallahu’alam.[]

Oleh: Ummu Hushiny

Posting Komentar

0 Komentar