Generasi Melarat Karena Sistem Sekarat


Tonggak peradaban ada di tangan pemuda yang berkualitas. Pemuda harus dicetak dengan iman untuk menjadi generasi mulia pembawa perubahan untuk sebuah kebangkitan sebuah peradaban. Pemuda adalah pembawa perubahan, jika mereka baik maka baik juga perubahan yang dibawa. Jika mereka buruk maka buruk juga perubahan yang dibawa. Dengan itu untuk menjadikan generasi seperti itu diperlukan sebuah negara yang dapat memfasilitasi generasi yang berkualitas. Namun itu tidak terjadi di indonesia yang menganut sistem kapitalisme demokrasi.

Faktanya di tengah banyak problem akut yang mendera bangsa ini, tiba-tiba mencuat isu jilbab. Tepatnya isu tentang jilbab di SMKN 2 Padang, Sumatra Barat. Isu ini menjadi isu nasional. Mengalahkan isu-isu besar. Isu “Jilbab Padang” mencuat saat ada orangtua salah satu siswi non Muslim yang keberatan putrinya “dipaksa” memakai jilbab di sekolahnya.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang Habibul Fuadi, sekolah di Kota Padang memang ada aturan berpakaian Muslim. Namun, aturan itu dikhususkan bagi murid yang beragama Islam. “Dalam aturan itu, dijelaskan bagi siswi Muslim wajib menggunakan jilbab. Namun, bagi siswi non Muslim, aturan itu tidak berlaku. Pakaian siswi non Muslim itu harus sopan sesuai dengan norma sopan santun jika tidak menggunakan jilbab,” ujar Habibul. Habibul mengatakan, aturan wajib jilbab tetap dipertahankan karena memiliki nilai positif. Aturan bagi siswi yang Muslim itu sudah diberitahu sejak pertama masuk sekolah. Orangtua murid juga memberikan tanda tangan persetujuan saat baru pertama kali mendaftar (Kompas.com, 25/1/2021).

Polemik ini terjadi selain untuk mengalihkan isu atas permasalahan yang ada dalam negeri ini, juga ternyata  untuk mencekoki pemikiran masyarakat  termasuk remaja islam agar islam fobia. Karena respon dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sendiri yakni Nadiem menyebut kasus siswi non Muslim di Padang diminta berjilbab merupakan bentuk intoleransi. Mantan CEO Gojek itu menilai aturan siswi nonmuslim memakai jilbab itu melanggar undang-undang (UU).

"Hal tersebut merupakan bentuk intoleransi atas keberagamaan, sehingga bukan saja melanggar peraturan UU, melainkan juga nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan," tegas Nadiem dalam video di Instagram, Minggu (24/1).Nadiem menegaskan pemerintah tidak akan mentolerir guru dan kepala sekolah di Padang yang membuat aturan siswi non Muslim harus berhijab. Dia mengapresiasi gerak cepat pemda setempat dalam menangani kasus tersebut.

Dari pernyataan diatas terlihat bahwa pemerintah menanamkan kepada remaja sifat Islam fobia dengan rasa takut bahwa Islam adalah pemaksaan, anarkis dan inteloransi. Ditambah fiitnah-fitnah terhadap Islam pun bertebaran. Opini umum bahwa Islam adalah agama yang merusak dan penuh kekerasan dilontarkan kepada masyarakat dunia agar tidak ada yang mengenal dan memeluk agama Islam, dan pemerintah pun diam dan melindungi pelakunya, membuat masyarakat terombang ambing dalam memilih kebenaran.

Dengan merusak pemikiran masyarakat maka para remaja pun ikut serta rusak dalam pemikiran, mereka takut dan tidak akan mau berkembang karena negara mereka sendiri membunuh psikis masa depan remaja.

Tidak hanya itu remaja juga tidak kelar dalam permasalahan cintanya, yang seharusnya remaja dilema karena memikirkan masa depan bangsa ternyata pemuda/i Indonesia dilema memikirkan jalan bareng siapa setiap sorenya, na'uzubillahiminjalik. Apalagi adanya momen hari kasih sayang, yakni "Valentine Day" membuat remaja ikut berpartisipasi dan ikut serta dalam merayakannya tanpa melihat latar belakang dari hari tersebut. Di tambah generasi milenial Muslim mencari cinta “Halal” Lewat teknologi.

Generasi Milenial kini dibesarkan oleh kebangkitan teknologi dan sosial media. Tak heran milenial Muslim, khususnya di Amerika, lebih tertarik untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dalam mencari sendiri pasangan hidup, ketimbang bantuan keluarga atau kerabat. Dan akibatnya adalah fatal tak jarang berujung pada penceraian dan masalah lainnya.

Beginilah akibat dari sistem yang salah mengakibatkan peraturan yang dianut dalam negara rusak sehingga tidak dapat melahirkan generasi yang bermutu, untuk meneruskan agama bangsa dan negara dengan baik.
 
Sedangkan dalam sistem Islam yakni Khilafah sangat memperhatikan kondisi dari pada generasi Islam yang ada. Remaja merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya. Pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang . Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini. Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, khilafah memberikan perhatian besar pada generasi muda ini. Mulai dari pendidikan usia dini.

Yakni mengajarkan kepada anak-anak untuk shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan juga hukum syara’ yang lain ketika berusia tujuh tahun. Setelah mereka bisa menghafal Al Quran di usia enam atau tujuh tahun, mereka pun mulai menghafal kitab-kitab hadits. Saat usia sepuluh tahun, mereka pun bisa menguasai Al Quran, hadits, juga kitab-kitab bahasa Arab yang berat, sekelas Alfiyah Ibn Malik. Karena itu, di era khilafah bermunculan pemuda yang sudah mampu memberikan fatwa. Muhammad bin Idris as-Syafii, misalnya, sudah bisa memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun.

Diberi bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda di era khilafah jauh dari hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya. Mereka tidak mengonsumsi miras, atau narkoba, baik sebagai dopping, pelarian atau sejenisnya. Karena ketika mereka mempunyai masalah, keyakinan mereka kepada Allah, qadha’ dan qadar, rizki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa. Masalah apapun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan. Mereka pun jauh dari stres, apalagi menjamah miras dan narkoba untuk melarikan diri dari masalah.

Kehidupan pria dan wanita pun dipisah. Tidak ada ikhtilath, khalwat, menarik perhatian lawan jenis [tabarruj], apalagi pacaran hingga perzinaan. Selain berbagai pintu ke sana ditutup rapat, sanksi hukumnya pun tegas dan keras, sehingga membuat siapapun yang hendak melanggar akan berpikir ulang. Pendek kata, kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat benar-benar bersih. Kehormatan [izzah] pria dan wanita, serta kesucian hati [iffah] mereka pun terjaga. Semuanya itu, selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiyah mereka, juga sistem yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat oleh khilafah.

Karena kehidupan mereka seperti itu, maka produktivitas generasi muda di era khilafah ini pun luar biasa. Banyak karya ilmiah yang mereka hasilkan saat usia mereka masih muda. Begitu juga riset dan penemuan juga bisa mereka hasilkan ketika usia mereka masih sangat belia. Semuanya itu merupakan dampak dari kondusivitas kehidupan masyarakat di zamannya. Dan sistem yang diambil berasal dari Sang Khaliq. Wallahua'lam.[]

Oleh: Siti Hajar 

Posting Komentar

0 Komentar