Generasi Mati Rasa Akibat Virus Berbahaya


Di balik dari kabar virus yang menyerang masyarakat seluruh dunia yang mengakibatkan mati massal yang melanda, ternyata ada yang lebih mematikan dari virus Covid-19 sekaligus membahayakan bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk masa depan, dan virus ini sudah ada sejak lamanya dan tidak disadari oleh banyaknya umat, dan ternyata virus ini sangat memiliki pengaruh besar untuk generasi bangsa, yang serangkaiannya mengarah "Generasi Muda" dan berbahaya.

Apa dia? Yakni virus sekularisme. Inilah sekulerisme,  pemisahan agama dari berbagai level kehidupan, semua dipisahkan tidak ada celah untuk menyatukan antara agama dengan kehidupan mulai dari level keluarga, masyarakat hingga negara. Jadilah ketiga unsur tadi kering dari tuntunan agama. Semua dapat kita saksikan di dunia nyata, di layar kaca, juga tersaji dalam berbagai media massa.

Virus sekularisme menjadi nyawa bagi sistem demokrasi kepitalisme, sebagai metode untuk mencekokoli di setiap negeri Muslim lainnya. Membius akal sehat dan mengikis iman, baik orang tua apalagi remaja yang terbungkus oleh jeratan. Kerangka berpikir pun terimpor dari pemikiran ala-ala Barat. Setiap individu Islam pun menanggalkan ketundukannya terhadap agama. Allah yang diyakini sebagai Pencipta, disembah hanya sebatas ritual semata. Standar agama tidak boleh hadir dalam aktivitas kehidupan.

Urat takwa pun telah putus bersama keimanan yang tandus. Dan generasi bangsa pun terdidik dari hal yang berbau maksiat membuat semua dilakukan atas kemauan sendiri tanpa memikirkan ada Sang Pencipta yang melihat. Generasi bangsa dengan senang hati berzina, membunuh, aborsi, yang kurva kasusnya tak kunjung reda. Yang melakukan pun merasa tenang, tanpa ada rasa bersalah dan rasa malu kepada Allah. Na'udzubillahminjalik.

Ada sebuah kasus yang terjadi yakni kasus pembunuhan yang dilakukan remaja dan menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, tindakan sadis yang dilakukan oleh pelaku, mengindikasikan adanya gangguan mental dan jiwa. Kemungkinan lainnya dari kesalahan pola asuh dan kurangnya perhatian orangtua terhadap tumbuh kembangnya. Meskipun menurut pengakuan pelaku, pembunuhan tersebut terinspirasi dari beberapa film horor kesukaanya. (Liputan6.com, 12/5)

Publik dibuat heran dan tak habis pikir bagaimana bisa remaja mungil berwajah innocent, sekejap berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Sebagian menghujat sebagian lagi berempati, karena pelaku sebenarnya juga korban dari rapuhnya bangunan keluarga. Ada apa di balik kejadian luar biasa ini?

Tingah laku seseorang dipengaruhi oleh pemahamannya. Sedang pemahaman dibentuk oleh pemikiran demi pemikiran yang berjejalan atau dijejalkan sehari-hari.
Singkatnya perilaku seseorang, baik terpuji atau pun tercela, lahir dari isi kepalanya. Lantas dari mana isi kepala berasal? Berangkat dari sinilah, sebuah sistem memiliki andil besar.

Inilah sekularisme sejati, pemisahan agama dari berbagai level kehidupan, mulai di level keluarga, masyarakat hingga negara. Negara yang terpapar oleh virus sekularisme akan mengejawantahkannya dalam aturan perundang-undangan. Lalu menginfeksi masyarakat dan menyusup masuk pada pemikiran remaja. Mengisi kepala umat dengan nilai-nilai rusak, semacam toxic. Di antaranya membengkokkan akidah dan menyesatkan arah pandang kehidupan umat.

Gaya hidup liberal pun menjadi pilihan. Virus ini juga menjadi faktor pendukung mati rasa remaja dalam melakukan perbuatan, yakni bebas melakukan apapun sesuai dengan yang diinginkan dan negara memfasilitasi dari empat pilar kebebasan. Keyakinan kepada Allah, tidak menjadi ketundukan. Sebaliknya, hawa nafsu yang disembah. Bukan Allah yang diagungkan.

Generasi mati rasa ini, adalah generasi yang sudah tidak memiliki getaran lagi terhadap Sang Pencipta. Memandang ringan dosa, seumpama lalat di hidung. Mudah ditepis oleh tangan. Limbung dengan hidupnya. Standar kebahagiaan remaja pun sebatas kepada terpenuhinya kebutuhan jasmani dan terpuaskannya naluri, semata mengejar kesenangan duniawi. Maka tak aneh, saat seorang anak yang merasa bahagia dengan pemakaian narkoba dan lain-lain.

Padahal sebenarnya Islam, adalah jalan hidup menuju keselamatan dan kebahagiaan. Ajarannya tersaji sempurna dibawakan melalui Rasul yang mulia. Mengajak berpikir, agar manusia taat beragama dengan mengawali keimanannya melalui pengamatan dan pengumpulan bukti-bukti. Bukan sebatas doktrin, dogma.

Keimanan yang matang akan membawanya pada pandangan jernih. Bahwa dunia adalah medan pembuktian iman. Ridho Allah menjadi tujuan. Generasi Islam, tidak akan bingung menerjemahkan kebahagiaan. Selagi ada pahala di situ ada bahagia. Karena pahala artinya balasan sempurna. Diberikannya di surga. Nikmat surga selamanya.

Generasi Islam juga tidak bingung terhadap tujuan, dan senantiasa berbuat sesuai aturan. Dunia tempatnya  berkarya, bukan waktu yang berleha-leha, apalagi berenang-senang dengan dosa. Remaja Islam memahami kelak pasti wafat dan dihisab. Amal baik dan amal buruk akan ada balasannya. Jika sepanjang hidup komitmen memegang agama, maka akan mudah akhiratnya. Paradigma berpikir seperti ini akan dapat menghidupkan hati yang hampir mati. Tidak lagi ambigu memaknai bahagia. Remaja bermental sekuat baja, tahan banting dan cuaca akan terwujud.

Jika sekumpulan pemikiran ini ada, namun tidak diadaptasi oleh negara dengan sistem  yang benar yakni sistem Islam maka sama saja. Tetap remaja akan beradaptasi dengan virus yang lebih banyak impor dari Barat asalnya. Dari negara yang tidak terpapar sekularisme inilah akan lahir generasi tangguh. Keluarga yang utuh, patuh pada peran dan fungsi masing-masing.

Terwujudlah perubahan. Kesehatan mental menjalar menggantikan kerapuhan dan kegelapan, bersama dengan segenap ikhtiar perjuangan menjemputnya. Generasi mati rasa bermetamorfosa menjadi generasi peka. Sigap pada pahala, enggan mendekati dosa.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar Ra’du: 11). Wallâhu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Siti Hajar 

Posting Komentar

0 Komentar