Ekonomi Pailit, Dana Wakaf Dilirik


Di tengah keterpurukan ekonomi di negeri ini, pemerintah mencanangkan program gerakan wakaf untuk mendongkrak anjloknya perekonomian yang terjadi saat ini. Dan ini merupakan indikasi ketidakmampuan sistem ekonomi kapitalisme dalam mengurai problem ekonomi umat, sehingga mereka mulai melirik sumber dana umat Islam sebagai solusi penyelamatan ekonomi.

Seperti dilansir dari Kompas.com (30/01/21), Presiden Joko Widodo pada Senin (25/1/2021) meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) di Istana Negara.
Kala itu, Jokowi mengungkapkan pemanfaatan wakaf uang tak hanya terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dengan demikian, harapannya bisa memberikan dampak pada pengurangan angka kemiskinan dan ketimpangan sosial di masyarakat.

"Kita perlu perluas lagi cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi dikembangkan untuk tujuan sosial ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat," kata Jokowi melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden (Kompas.com 30/01/21).

Seperti diketahui bersama, keuangan negara tertekan akibat anjloknya penerimaan pajak, dan gempuran pandemi Covid-19 yang sampai saat ini belum juga teratasi, membuat ekonomi yang memang sudah bermasalah sejak sebelum adanya pandemi sehingga pemerintah butuh dana jumbo untuk menangani berbagai krisis yang terjadi dinegeri ini. Salah satu solusinya, pemerintah mendorong masyarakat untuk berwakaf. 

Sungguh ini sangat lucu dan menggelikan, karena selama ini rezim kerap menyudutkan syariat Islam, termasuk mengkriminalisasikan beberapa ulama yang tidak sejalan dengan rezim, menuduh bahwa Islam sebagai agama intoleran, menghubungkan Islam dengan kelompok radikal dan harus di pilah pilah ketika ajarannya akan diterapkan di zaman modern seperti saat ini.

Namun begitu menyadari potensi wakaf yang dimiliki umat Islam dimana jumlahnya bisa menyentuh angka triliunan, mereka seolah lupa dengan kriminalisasi yang kerap mereka lakukan kepada umat Islam yang mendakwahkan Islam kaffah. Transformasi wakaf seolah menjelma menjadi bahasa lain dari modernisasi wakaf. Ini menunjukan bahwa pemerintah tak mampu untuk menanggulangi krisis ekonomi, lalu diserahkan ke rakyat, itulah realitasnya atas nama “saling menolong”. Parahnya lagi, syariat Islam dikapitalisasi untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam  memenuhi kebutuhan rakyat. 

Inilah akibatnya saat ekonomi Islam hanya dipahami secara parsial, islam hanya dilirik disaat dana umat teramat menggiurkan untuk dimanfaatkan oleh negara, sementara syariatnya ditinggalkan. Sehingga yang terlihat sekarang adalah pemerintah seperti memanfaatkan wakaf demi keuntungan negara. 

Negara hanya melihat syariat Islam didasarkan atas kemaslahatan semata dan memang biginilah adanya jika suatu negara menerapkan sistem idiologi sekuler kapitalis. Maka wajar saja pemerintah hanya mengadopsi sebagian ekonomi Islam, dimana dana umat bisa dimanfaatkan, terlebih alasan bahwa wakaf mengajarkan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial ini menunjukkan kepada ketidakmampuan pemerintah mengurusi rakyatnya.

Sementara potensi negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang besar, tidak benar benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat bahkan justru pengelolaanya diserahkan ke asing dan swasta. Demikian juga dengan banyaknya populasi muslim dinegri ini, tidak diarahkan untuk penerapan syariat Islam yang tentu akan menguatkan perekonomian negara bukan hanya melalui wakaf saja. 

Jalan keluar untuk memperbaiki ekonomi negeri ini sebenarnya sudah sering disampaikan berbagai pengamat ekonomi. Yakni hentikan penerapan sistem ekonomi kapitalis, ganti dengan sistem ekonomi Islam yang tahan banting dalam setiap keadaan, kendatipun dimusim pandemi seperti saat ini.

Dan keberadaan sistem ekonomi Islam tidak bisa diterapkan tanpa adanya penerapan Islam secara kaffah dalam sebuah institusi negara, yakni Khilafah. Dibutuhkan perjuangan dari seluruh elemen umat Islam untuk kembali menegakkannya, agar terwujud kesejahteraan seperti yang diharapkan. Wallahu'alam bishowab.[]

Oleh: Isty Ummu Aiman

Posting Komentar

0 Komentar