Ekonom Syariah: Selama Pakai Fiat Money, Nilainya akan Anjlok


TintaSiyasi.com-- Ekonom Syariah Muhammad Hatta S.E., M.M. mengatakan bahwa nilai fiat money (mata uang kertas) akan selalu anjlok.

"Tidak hanya rupiah selama itu fiat money, apapun itu (nilai) mata uangnya maka anjlok," tuturnya dalam FGD#16: Transaksi Dinar & Dirham Sebuah Pelanggaran? Perspektif Hukum Ekonomi Politik, Sabtu (06/02/2021) di kanal YouTube PKAD (Pusat Kajian dan Analisis Data).

Hatta mengatakan, mata uang kertas disebut dengan fiat money (mata uang yang nilai intrinsiknya ditentukan oleh undang-undang, bukan karena bendanya itu sendiri). Karena itu, menurutnya, rupiah tidak bisa dibawa ke Malaysia, ringgit juga tidak bisa dibawa ke Indonesia dan hal itu didukung dengan undang-undang yang mengesahkannya. 

"Dengan karakter yang seperti itu, perbedaan yang seperti itu nilai intrinsiknya tidak melekat pada dirinya. Karena faktor eksogen (faktor luar), maka mata uang fiat money ini termasuk mata uang rupiah itu sangatlah fluktuatif. Sangat sangat fluktuatif," tandasnya.

Ia mengajak, untuk melihat cadangan emas yang dimiliki, "coba kita lihat cadangan emas yang kita miliki berapa? Tahun 2020 cadangan emas yang kita miliki yaitu 4,7 miliar US Dollar. Ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan surat berharga, yang mencapai 117, 13 miliar US Dollar."

Ia mengungkap, produksi emas selama 43 tahun dari tahun 1976-2018 itu adalah 2,6 juta kg. "Jadi, sangat aneh kemudian kalau emas kita sangat rendah jumlah yang dimiliki oleh devisa bank central kita. Padahal kalau kita lihat negara-negara besar misalnya bagaimana kemudian presentase cadangan devisa mereka dalam bentuk emas," tambahnya.

"Kita bisa lihat di sini data resmi dari nternasional finance statistic, misalkan di sini disebutkan adalah data Desember 2020, Amerika mencapai 79 persen, Jerman 76 persen, Italia 71 persen, Rusia 23 persen, Portugal 75 persen, bagaimana dengan Indonesia?" tanyanya.

Ia merasa aneh, karena Indonesia tempatnya ada di nomor 42 hanya 3,5 persen. Ia melihat, produksi emas begitu banyak, tetapi yang dicadangkan begitu kecil. Padahal menurutnya, seharusnya semua tahu, emas memiliki daya jual yang sangat tinggi, terlebih dalam huru-hara perekonomian seperti saat ini.

"Pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya, kemudian ber-impact kepada ekonomi, resesi dunia, maka emas itu akan menjadi buruan nasional," ujarnya.

Ia menyesalkan, Indonesia di nomor 42, kalah dibandingkan dengan negara-negara kecil, dengan Irak saja kalah. "Ini tentu sungguh sangat ironis sekali," ungkapnya.

Menurutnya, negara lain yang permintaan emasnya, permintaan emas di dunia yaitu masih dijuarai oleh Cina dan India. Ia melihat, Cina menarik biaya produksinya sangat besar dan sangat tinggi produksi emasnya dan permintaan konsumsinya lebih tinggi dari produksi. Produksinya itu nomor satu, konsumsinya juga nomor satu, katanya.

"Jadi, ada hal yang sangat aneh kalau kita melihat Indonesia cadangan emasnya demikian. Meskipun, secara demand (permintaan konsumsi) juga masih masuk 10 besar di tahun 2019-2020 ini. Tapi, jauh kalah dibanding dengan negara-negara lain," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar