Dinar Dirham Dilarang? Ironi Hidup di Sistem Kapitalisme

Pekan ini, Bareskrim Mabes Polri resmi menahan Zaim Saidi, pendiri Pasar Muamalah di Depok, Jawa Barat. Zaim menjadi tersangka setelah pemberitaan terkait koin dinar dan dirham menjadi alat transaksi pembayaran di pasar tersebut viral (cnnindonesia.com, 7/2/2021). 

Sungguh semakin terlihat bahwa negara ini tidak mau terikat dengan syariah Islam secara menyeluruh serta harus sesuai dengan pemerintah tidak boleh berseberangan. Padahal kalau dinar dirham dijadikan alat jual beli sangat baik dan tidak akan terjadi krisis moneter. Sebab nilai mata uangnya tidak akan mengalami penurunan serta tetap jumlahnya tidak kurang atau lebih.

Serta adanya ketidakadilan hukum, dinar dan dirham hanya dijadikan transaksi jual beli seperti biasanya akad antara penjual dan beli. Alasan untuk memasukkan Zaim Saidi ke penjara adalah suatu kesalahan dan ketidakadilan, juga tidak jelas. memang miris hidup di sistem sekuler sekarang yang memisahkan agama dari kehidupan.

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mempertanyakan soal polemik Pasar Muamalah di Depok yang menggunakan dinar dan dirham sebagai alat tukar untuk bertransaksi antara pembeli dan pedagang. Diketahui, sebab itulah, pendiri Pasar Muamalah Zaim Saidi ditangkap kepolisian.
Menurut Anwar, transaksi yang selama ini terjadi di Pasar Muamalah adalah sah-sah saja, sebab dinar dan dirham bukanlah mata uang asing seperti dollar maupun euro.

"Tapi itu adalah komoditi yang bentuknya mirip dengan uang yang mereka buat sendiri yang bahan bakunya berupa  emas dan perak yang mereka beli dari PT. Antam atau dari pihak lainnya dan itu tentu mereka bayar dengan mata uang rupiah," kata Anwar dalam keterangan yang diterima, Minggu (7/2/2021).

Anwar menyebut transaksi tersebut mirip dengan barter, voucher, hingga koin khusus  yang digunakan untuk membeli sesuatu. "Saya rasa tidak ada masalah karena untuk membuat komoditi dinar dan dirham tersebut mereka juga telah membelinya terlebih dahulu dengan mempergunakan rupiah," lanjutnya.

Anwar membandingkan dengan transaksi yang dilakukan di beberapa daerah, seperti di Bali. "Tetapi di Bali kita lihat masih banyak orang melakukan transaksi dengan US dollar, ini tentu saja maksudnya adalah untuk memudahkan transaksi terutama dengan wisatawan asing," katanya (tribunnews.com, 7/2/2021). 

Dari penjelasan di atas bahwa tidak ada bahayanya, bahkan sama dengan barter lalu yang bahaya itu adalah kita bertransaksi dengan uang kertas dan mata uang asing sebab dapat berubah nilainya serta mudah rusak. Beda dengan dinar dan dirham yang memang sangat baik serta dapat mensejahterakan masyarakat dalam ranah jual beli tidak terdapat mudarat yang ditimbulkan. Tidak mudah rusak jadi bisa memajukan ekonomi. Aneh memang kalau syariatnya diambil karena ada maunya contoh: wakaf, zakat, haji sedangkan sosial, ekonomi, pendidikan, politik jauh dari sistem Islam.

Padahal keunggulan dinar dan dirham adalah sebagai berikut: 

Pertama, emas dan perak adalah komoditi, sebagaimana komoditi lainnya semisal unta, kambing, besi, atau tembaga. Untuk mengadakannya perlu ongkos eksplorasi dan produksi. Komoditi ini diperjual belikan apabila ia tidak digunakan sebagai uang. 

Kedua, sistem emas dan perak akan menjamin kestabilan moneter, tidak seperti sistem uang kertas yang cenderung membawa instabilitas dunia karena penambahan uang kertas yang beredar secara tiba-tiba. 

Ketiga, sistem emas dan perak akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar-negara secara otomatis untuk mengoreksi ketekoran dalam pembayaran tanpa intervensi bank central.

Keempat, sistem emas dan perak mempunyai keunggulan yang sangat prima, yaitu berapapun kuantitasnya dalam suatu negara, entah banyak atau sedikit, akan dapat mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang. 

Kelima, sistem emas dan perak akan mempunyai kurs yang stabil antar negara. Inilah beberapa keunggulan emas dan perak atau dinar dan dirham yang dalam sistem Islam memang menjadi alat untuk proses jual-beli. indahnya Masyallah hidup dalam naungan Islam. 

Jadi semakin rindu akan adanya institusi di suatu negara yaitu khilafah sebab tanpa adanya institusi tersebut hidup hancur serta diatur oleh hukum buatan manusia yang menuruti hawa nafsu semata tanpa melihat halal dan haram suatu perbuatan.
Apalagi pada sistem sekarang, sekuler mengingkari kebenaran dan melakukan kemungkaran yang jelas dibenci oleh Allah SWT. Sebab hanya hukum-Nya lah yang rahmatan lil alamin serta membawa berkah di setiap kehidupan. Yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.[]

Oleh: Yafi’ah Nurul Salsabila S.Pd
(Alumni IPRIJA Dan Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar