Dinar dan Dirham adalah Syariat Islam


Belakangan ini Indonesia dihebohkan dengan adanya isu pegiat pasar muamalah. Dari berita yang ada, penangkapan dikarenakan transaksi tersebut tidak menggunakan mata uang rupiah, melainkan dengan jenis logam mulia berupa dinar (emas) dan dirham (perak). Ramai pemberitaan soal penggunaan pembayaran selain rupiah di beberapa pasar dalam negeri. Pasalnya, direktur eksekutif Bank Indonesia menegaskan bahwa dinar, dirham atau bentuk-bentuk lainnya selain uang rupiah bukan merupakan alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI.

Menurutnya, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat memiliki simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga Negara Indonesia. Salah satu simbol kedaulatan negara tersebut adalah Mata Uang. Mata Uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia adalah Rupiah. Rupiah dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah dalam kegiatan perekonomian nasional guna mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagaimana dikutip dari laman Sindonews.com. (2/2/2021) Bareskrim Polri menahan pegiat gerakan dinar dirham tersebut pada Selasa malam. Tersangka dijerat berdasarkan dua pasal yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yaitu: Pasal 9 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan Pasal 33 UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dia terancam hukuman penjara paling lama 15 tahun.

Apakah betul dasar penangkapan ini karena transaksi tersebut bertentangan dengan regulasi yang ada? Ataukah ada muatan politik tertentu? Jika yang menjadi dasar penangkapan adalah karena penggunaan mata uang selain rupiah, mengapa di beberapa tempat perlakuan yang sama tidak terjadi? Seperti kita ketahui, penggunaan mata uang asing terjadi di beberapa wilayah perbatasan, kemudian di daerah Bali menggunakan transaksi dolar untuk memudahkan wisatawan dan juga di daerah yang menjadi pusat wisata lainnya. Hal itu sudah berlangsung lama dan tidak ada penindakan.

Kejadian di Depok, Zaim Saidi, adalah pendiri Pasar Muamalah, yang menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi pembayaran resmi ditangkap. Namun, menurut Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas dinar dan dirham yang digunakan tersebut bukan mata uang negara asing melainkan koin emas dan perak yang dibeli dari PT Aneka Tambang Tbk atau Antam yang memproduksinya.

Padahal dinar dan dirham juga dibeli menggunakan mata uang yaitu rupiah. Banyak anggapan negatif terkait tindakan aparat tersebut yang cenderung diskriminatif. Apalagi terdapat informasi bahwa penggunaan dinar dirham tersebut dikaitkan dengan ide khilafah. Beberapa celah kesalahan terus dicari untuk mengkriminalisasi transaksi dinar dirham. 

Sejatinya pemerintah tidak dirugikan sedikit pun dan negara tidak terancam dari aktivitas pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat tersebut. Tak heran kejadian ini menegaskan semakin berkembangnya islamofobia produk dari sistem demokrasi kapitalis sekuler. Yang mana sistem ini sangat berbeda 180 derajat dengan sistem Islam. Sistem demokrasi menjadikan kedaulatan di tangan rakyat melalui sistem perwakilannya sedangkan sistem Islam menjadikan kedaulatan di tangan hukum Allah dengan asas yang berbeda jadi sistem ini memiliki aturan yang berbeda pula.

Diketahui dinar dan dirham memiliki banyak keunggulan. Jika dibandingkan dengan uang kertas, dinar dan dirham lebih stabil dan tahan terhadap Inflasi. Berdasarkan fakta sejarah, emas dan perak merupakan jenis mata uang yang relatif stabil dibandingkan dengan sistem uang kertas fiat money. Bagaimanapun kuatnya perekonomian suatu negara, jika sistem penopangnya menggunakan uang kertas, negara tersebut rentan terhadap krisis dan cenderung tidak stabil.

Bahkan, beberapa kejadian yang berkaitan dengan krisis, salah satunya dipicu karena penggunaan sistem uang kertas fiat money. Penggunaan uang kertas bisa dipastikan akan membawa rentetan inflasi. Hal ini berbanding terbalik dengan dinar dan dirham yang berbasiskan riil emas dan perak. Penggunaan Dinar dan Dirham akan lebih stabil karena nilai nominal yang tertera setara dengan nilai intrinsiknya.

Apabila kita bercermin dengan sistem ekonomi Islam, berbagai rangkaian catatan sejarawan, yang membuktikan bahwa sistem Islam yang mata uang emas dapat menjaga kestabilan perekonomian dunia. Selama kurun waktu 13 abad, sistem mata uang emas menjadi pijakan alat tukar bagi Khilafah. Hanya saja, sistem ini tidak akan bisa berjalan sendiri dengan sistem yang tidak Islami.

Sistem mata uang emas perlu dikombinasikan dengan sistem ekonomi Islam. Dan sistem ekonomi Islam hanya bisa dijalankan oleh pemerintahan Islam. Sistem pemerintahan tersebut adalah khilafah. Jika negeri-negeri Islam bisa bersatu di bawah sistem Islam, maka dapat dipastikan Islam akan mampu menghadapi ancaman negara adidaya AS. Dengan demikian amat jauh berbeda antara sistem demokrasi sekuler yang sekarang diterapkan dengan sistem khilafah ajaran Islam. Wajar jika hari ini, makin banyak orang merindukannya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Oleh: Agustina, Aktivis Back To Muslim Identity

Posting Komentar

0 Komentar