Dampak Moderasi di Madrasah, Mengancam Akidah


Baru-baru ini jagat raya dihebohkan dengan kebijakan Kementerian Agama, yang menempatkan seorang CPNS beragama nasrani di Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Tana, Toraja Sulawesi Selatan. Kebijakan ini diambil oleh Kemenag bukan karena kekurangan tenaga pengajar muslim, juga bukan karena salah penempatan. Namun kebijakan penempatan pengajar non Muslim di Madrasah ini dianggap sejalan dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) RI tentang Pengangkatan Guru Madrasah.

Menurut Analisis Kepegawaian Kemenag, Andi Syaifullah yang dilansir dari Suara.com (01/02/2021), khususnya pada Bab IV Pasal 30, “PMA Nomor 90 tahun 2013 telah diperbaharui dengan PMA Nomor 66 Tahun 2016, di mana pada Bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam. 

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementrian Agama, Muhammad Zain menegaskan guru non-muslim tak melanggar aturan untuk mengejar di madrasah. Zain menegaskan kebijakan tersebut sejalan dengan regulasi sistem merit. Sistem merit adalah kebijakan dan manajemen SDM yang berlandaskan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar. Kebijakan itu juga tak membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal-usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan (cnnindonesia, 01/02/2021).

Menurut Andi Syaifullah yang dilansir dalam cnnindonesia (01/02/2021), Guru non-muslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajar mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Menurutnya hal tersebut bukan suatu masalah, tetapi hal tersebut adalah salah bentuk manifestasi dari moderasi beragama di mana Islam tidak menjadi eksklusif bagi agama lainnya. Moderasi agama selalu dijadikan tameng Kemenag untuk mengatur kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan peraturan agama Islam di Indonesia. 


Arus Moderasi Beragama

Moderasi beragama memang terus digencarkan di negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia yang memiliki populasi muslim terbesar. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, baru-baru ini mengumumkan selesainya penyusunan model Moderasi Beragama untuk siswa madrasah.

Modul yang bertajuk “Membangun Karakter Moderat: Modul Penguat Nilai Moderasi Beragama pada RA-MI dan MTs-MA” ini dipandang sebagai solusi jitu mengerem potensi berkembangnya paham radikalisme di kalangan generasi muda. Di antaranya berisi tentang pembangunan karakter moderat, pengenalan kebangsaan, berlaku adil terhadap sesama, menjaga dan menjalin persaudaraan dan lain-lain. 

Pada laman Kemenag juga terinci dalam rangka menumbuhkan moderasi beragama di sekolah, ada beberapa rekomendasi atau solusi yang ditawarkan kepada pemerintah maupun sekolah. Pertama, Kementerian Agama melibatkan penyuluhan agama dalam membina organisasi Rohis. Kedua, Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kesbanglimas, dan Kepolisian secara bersama-sama membuat kebijakan dalam melakukan pembinaan keagamaan bagi pengurus maupun aktivis Rohis. Ketiga, Pemerintah melalui Kementrian Agama dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan perlu terus menggalakkan program Moderasi Beragama di sekolah. Nilai-nilai beragamapun di internalisasikan Kemenag melalui program ToT guru dan dosen, penyusunan modul membangun karakter moderat, serta madrasah ramah anak. 

Program demi program kampanye moderasi beragama terus diluncurkan dalam rangka memoderatkan generasi Muslim di negeri ini. Moderasi yang dimaksud adalah cara memandang dalam beragama secara moderat, yakni dengan tidak ekstrem terutama memandang dan mengamalkan sebuah ajaran agama. Menurut Ustadz Yuana Tresna, kampanye moderasi beragama hakikatnya adalah usaha agar Islam tidak tampil sebagai kekuatan nyata dalam memberikan solusi bagi segenap permasalahan umat manusia, (muslimahnews.com,29/1/21).

Termasuk menempatkan guru non Muslim MAN dilakukan rangka moderasi beragama, akan berdampak pada pendangkalan akidah bagi siswa Muslim yang berada di madrasah. MAN (Madrasah Aliyah Negeri) ataupun MTs (Madrasah Tsanawiyah) merupakan sekolah pendidikan dasar agama dengan porsi yang cukup banyak dibandingkan dengan sekolah umum. Karena siswa di madrasah tidak hanya diberikan mata pelajaran sebagaimana di sekolah umum, seperti Al-Qur’an Hadist, Bahasa Arab, Akidah Islam, Fiqih Islam, Sirah, dll. Sebagai insan yang mempunyai tanggung jawab mendidik, maka sudah seharunya pendidik mempunyai bekal tsaqafah Islam, menilik madrasah sangat kental dengan suasana Islam. Sekalipun pendidik tidak mengajarkan tsaqafah Islam. Diharapkan agar siswa menjadi kuat akidahnya. Namun, pendidikan saat ini didasarkan dengan Demokrasi yang mengutamakan suara rakyat ketimbang agama. Pada hakikatnya ini justru melemahkan akidah setiap siswa. 


Peran Seorang Guru dalam Islam 

Peran seorang guru dalam islam bukan hanya sekedar mengajarkan materi pelajaran saja. Namun dalam proses pendidikan, keberadaan peran guru sangatlah penting. Bukan hanya sebagai penyampai materi (trasfer of knowledge), namun sebagai pembimbing serta memberikan keteladanan yang baik (transfer of values). 

Maka di dalam sistem Islam pendidik haruslah sesuai standar yakni mempunyai kepribadian islam, amanah, menguasai ilmu dan metode pengajaran yang sesuai dengan islam, yakni 'talqiyyan fiqriyyan' artinya tidak hanya sekedar men-transfer ilmu saja, tapi membentuk pemikiran serta pemahaman. 

Disamping itu guru harus mengajarkan materi- materi pelajaran dengan cara meningkatkan taraf berpikir kritis, serta mampu menggali dan mengoptimalkann potensi siswa. Guru juga harus mengevaluasi pengaruh dari pengajaran terhadap perilaku dan sikap siswa di sekolah maupun di rumah. 

Dalam sistem Islam, negaralah yang berkewajiban mengatur segala aspek yang berkaitan dengan system pendidikan. Bukan hanya berkaitan dengan guru, tetapi berkaitan dengan kurikulum, metode pengajaran, bahan ajar. 

Maka, Negara Islam yang bernama khilafah akan mencetak serta menyediakan guru-guru yang berkompeten sesuai kebutuhan rakyat. Karena pendidikan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus didapatkan dalam setiap negara. Menjadi suatu hal yang penting untuk menyediakan guru yang kompeten agar menjadi salah satu faktor keberhasilan pendidikan. 

Dalam mewujudkan generasi yang berakidah serta berkepribadian Islam, umat Islam tidak boleh terlena dengan arus moderasi beragama yang rancang kafir barat. Jelas tujuan rancangan tersebut untuk melemahkan serta menjauhkan generasi Muslim dari Islam secara kaffah. Wallahu’alam bisshawab.[]

Oleh: Ika Widiastuti
(Mahasiswa, Pendidik, Aktivis Dakwah) 

Posting Komentar

0 Komentar