Booming Aisya Wedding, Bagaimana Islam Memandang?


Aisha wedding, situs jasa penyelenggara pernikahan yang menganjurkan agar perempuan muslim untuk menikah muda usia sekitar 12-21 tahun ini ramai diperbincangkan di media sosial lantaran dinilai mendukung pernikahan anak diusia muda dan menyarankan para orang tua untuk menikahkan anaknya di usia muda.

Anjuran menikah muda ini dilakukan atas dasar banyaknya godaan yang harus di hadapi muslim zaman sekarang, terutama media hari ini banyak yang menggambarkan kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan tanpa batasan-batasan dalam beragama, sementara perempuan banyak yang mengumbar aurat sehingga merangsang Gharizah al-nau'.  

Dalam situsnya aisha wedding ini juga menyematkan ajaran-ajaran Islam seperti tidak membolehkan laki-laki dan perempuan untuk berpacaran yang akan memicu timbulnya perzinaan. Jadi solusi yang di berikan dari aisha wedding ini ibarat dari pada dosa karna pacaran yang mengarah kepada zina lebih baik menikah muda saja, karna lebih menjaga pandangan (ccnindonesia.com, 10/02/2021).

Dari dulu yang namanya nikah muda memang sudah ada, tapi hari ini kembali booming. Menikah di usia muda memang tidak salah, tapi hari ini menikah muda yang diprovokasikan dan didukung oleh aisha wedding tersebut seolah-olah memfasilitasi dan mengedukasi pernikahan sesuai dengan syariat Islam, sehingga banyak masyarakat yang terprovokasi karna tidak faham syariat pernikahan secara utuh, ditambah dengan minin edukasi dan kesiapan. 

Namun sayangnya situs ini menjadi sarana kalangan sekuler untuk menyerang opini Islam yaitu menyerang syariat islam tentang pernikahan, larangan menikah muda dan hak anak.

Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (PPPA) mengajak seluruh masyarakat dan media untuk mencegah pernikahan dini atau menikah muda yang di sampaikan I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Dengan dukungan tersebut diharapkan permasalahan perempuan dan anak, termasuk pernikahan dini bisa ditekan, menurutnya pencegahan tersebut dilakukan karna dianggap melanggar hukum, melanggar UU perlindungan anak, UU perkawinan Anak dan UU tindak pidana perdagangan Orang (merdeka.com, 11/2).

Kemen PPPA menilai menikah muda  termasuk perbuatan yang melanggar HAM dan terkena UU no. 23/2020 dan UU no. 35/2014 tentang perlindungan anak dan dinilai dapat menimbulkan banyak permasalah baru seperti tidak terpenuhinya hak-hak dasar anak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi anak, hak kesehatan anak, hak pendidikan sosial, hak berkembang dan bereksploitasi dan ini dinilai dapat mempengaruhi kesehatan, baik fisik ataupun mental seorang ibu dan anak (liputan6.com, 18/2).

Akhirnya menikah muda dikambinghitamkan sebagai sumber permasalahan dalam kehidupan berumah tangga. Makanya banyak muncul larangan-larangan terhadap menikah di usia muda, termasuk dilarang dalam perundang-undangan. 

Padahal dalam Islam menikah hukum asalnya adalah sunah (mandub) sesuai firman Allah SWT:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

“Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka (kawinilah) satu orang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (QS An Nisaa’: 3)

Hukum pernikahan bisa berubah menjadi wajib, jika seseorang tidak dapat menjaga kesucian atau iffahnya dan akhlaknya kecuali dengan menikah. Bisa juga berubah menjadi haram, jika seseorang menikah bermaksud untuk berbuat kasar, menganiaya atau menelantarkan pasangan.

Hukum menikah di usia muda sama halnya dengan hukum menikah pada umumnya, bedanya dilakukan pada waktu masih muda, selama syarat-syarat menikah terpenuhi boleh-boleh saja dilakukan. Aisyah ra pun  dinikahi Nabi Muhammad saat masih gadis. Ada menyebut bahwa Aisyah dinikahi Nabi saat usianya masih 7 tahun dan baru diajak tinggal satu rumah saat berusia 10 tahun, mahar yang diberikan adalah sebesar 12 uqiyyah setara dengan 400 dirham.

Meski demikian, alasan Rasulullah saw menikahi Aisyah bukan karena nafsu, melainkan karena petunjuk dan perintah dari Allah, dalam rangka ibadah. Menikah adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pernikahan adalah salah satu upaya untuk menyempurnakan agama. Untuk itulah, menikah tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena ini merupakan bentuk ibadah terpanjang dan itu semua butuh ilmu dan kesiapan.

Sayangnya di masyarakat sekuler-kapitalis hari ini memang ukuran kesiapan menikah itu tentu tidak bisa kita lihat dari aspek usia, kebolehan syariat saja, karna tanggung jawab pernikahn hari ini tidak secara otomatis disiapkan dan di bentuk oleh keluarga ataupun sistem pendidikan hari ini. Baik dalam keluarga dan kurikulum pendidikan kebanyakan tidak ada yang menyiapkan generasi untuk masuk dalam gerbang pernikahan, yang ada hanyalah penyiapkan generasi yang diarahkan untuk mencari materi.

Maka dari itu kita tidak bisa melihat masalah dari segi pendapat orang yang positif dan negatif saja terhadap ajakan atau provokasai menikah muda yang di selengarakan oleh aisya wedding ini. Tapi semestinya kita melihat masalah ini sebagai sebuah titik  tolak bagi kita untuk lebih memahami islam dalam pengatur pernikahan, bagaimana menyiapkan generasi-generasi kita dan anak-anak kita untuk memasuki gerbang pernikahan  

Karna kita faham di era saat ini menikah muda dihalang-halangi, sementara pergaulan bebas difasilitasi. Hanya syariat islamlah dalam institusi negara yang mampu mewujudkan pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam, karna negara punya peran penting dalam menyiapkan bimbingan kepada masyarakat agar memahami seputar hukum pernikahan dan berkeluarga. Keluarga samawa yang di bangun atas dasar aqlkidah Islam mampu melahirkan generasi unggul berprestasi. Wallahu'alam.[]

Oleh: Maylina Isnaini
(Aktivis Muslimah)

Posting Komentar

0 Komentar