Bentuk Islamophobia Pemerintah, Dinar Dirham Dipidanakan


Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada selasa (2/2/2021) Bareskrim menangkap pendiri Pasar Muamalah Depok, Jawa Barat, yaitu Zaim Saidi. Berdasarkan informasi dari Mabes Polri, Pendiri Pasar Muamalah Depok tersebut dijerat dua pasal sekaligus yaitu Pasal 9 UU No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 33 UU No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang (okezone.com, 3/2/2021).

Penangkapan tersebut tentu membuat pro dan kontra masyarakat. Karena sebagian ada yang mempertanyakan hal tersebut. Kenapa dinar dan dirham bisa dipidanakan? Sedangkan mata uang asing, seperti dollar dibiarkan saja.

Begitupun dengan PP Muhammadiyah juga mempertanyakan proses hukum terhadap aktivitas Pasar Muamalah yang menggunakan dinar dan dirham dalam bertransaksi. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, membandingkannya dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar. Dalam transaksi wisatawan asing di Bali (kumparan.com, 5/2/2021).

Lebih lanjut, KH Anwar Abbas menilai, transaksi di Pasar Muamalah Depok, tidak menggunakan mata uang asing. Dinar dan dirham yang digunakan, menurutnya bukan mata uang asing, melainkan koin dari emas dan perak yang dibeli dari PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) atau dari pihak lainnya. “Dan itu tentu mereka bayar dengan mata uang rupiah,” tandasnya sebagaimana dikutip pada laman kumpaaran.com (5/2/2021).

Penangkapan terhadap pendiri Pasar Muamalah Depok, yang disebabkan karena menggunakan mata uang dinar dan dirham merupakan bentuk fobia atau ketakutan pemerintah terhadap Islam. Bukan sekedar untuk menertibkan pelanggaran administrasi terkait alat transaksi semata.

Sebenarnya dinar dan dirham sudah ada sebelum Islam datang. Saat itu mata uang emas sudah digunakan sejak masa kerajaan Romawi. Sedangkan mata uang perak sudah digunakan sejak masa kerajaan Persia. 

Ketika Islam datang, islam pun mengambil mata uang emas dan perak sebagai alat pertukaran dalam muamalah. Penggunaan mata uang emas dan perak inilah yang disebut dinar dan dirham.

Penggunaan dinar dan dirham yang bersumber dari emas dan perak ternyata mempunyai keunggulan dibandingkan penggunaan mata uang kertas dan terbukti juga  mampu mengatasi permasalahan monetar dan ekonomi.

Namun ketakutan pemerintah terhadap penerapan Islam yang kaffah, menjadikan pemerintah begitu mudah curiga terhadap sesuatu yang berbau Islam, seperti penggunaan dinar dan dirham.

Padahal sejatinya, penggunaan dinar dan dirham tidak merugikan negara sebagaimana korupsi yang sering dilakukan oleh pejabat negara. Apalagi jika dituduhkan mengancam keutuhan negara, sebagaimana kelompok bersenjata yang ada di Papua.

Ketakutan pemerintah terhadap Islam membuat sebagian apa yang berasal dari Islam dikriminalisasikan. Seperti ulama yang menyampaikan penerapan Islam secara kaffah, begitupun yang terjadi saat ini, penangkapan pendiri pasar muamalah Depok karena menggunakan dinar dan dirham sebagaimana juga dipakai dalam negara khilafah. 

Sungguh ironis, padahal jelas Islam adalah agama yang rahmatan lil’alamiin, yaitu rahmat bagi semesta alam. Islam tidak akan mengancam siapapun dan apapun. Bahkan wakaf yang berasal dari Islam juga mau dipakai dananya untuk memperbaiki kondisi sosial masyarakat hari ini, tetapi kenapa dinar dan dirham dipidanakan? 

Padahal ajaran Islam, semuanya adalah kebaikan. Karena berasal dari Allah, Sang Pencipta Alam Semesta. Ketika diterapkan secara keseluruhan atau kaffah, maka insyaAllah keberkahan dan rahmat Allah akan hadir untuk umat manusia. Hal ini bisa terjadi, ketika khilafah berjaya di muka bumi. Wallahu'alam bis shawab.[]

Oleh: Sarinah A, Pegiat Pena Banua

Posting Komentar

0 Komentar