Bapak Cabuli Anak Kandung, Buah Penerapan Sistem Sekuler

Satuan Reskrim Polresta Deli Serdang Sumatera Utara, meringkus seorang pria berinisial AA (54) karena telah melakukan perbuatan bejat dengan memperkosa anak kandung sendiri berinisial DNS (13) yang kabarnya masih duduk di bangku sekolah dasar di kecamatan Tanjung Morawa. Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang, Kompol M. Firdaus juga mengatakan, bahwa timnya juga menangkap abang kandung korban yang berinisial MI (16) yang juga melakukan pemerkosaan terhadap korban yang tidak lain adik kandungnya sendiri. Pelaku AA dan MI dipersangkakan Pasal 81 Ayat (3) Subs Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76D, 76E UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 20 Tahun penjara. (tirto.id, 9/1/2021)

Perlakuan bejat orangtua kandung yang tega memperkosa anak kandung sendiri juga terjadi di Deli Serdang, warga Desa Pantai Labu Pekan, Kecamatan Pantai Labu. Korban kabarnya digauli oleh ayah kandung dari sejak SD hingga SMA. Kasat Reskrim Polresta Deli Serdang Kompol M. Firdaus yang dikonfirmasi Jum'at (16/10) mengatakan, aksi bejat tersangka terbongkar setelah korban yang tidak lain anak kandung SS, menceritakan kepada pamannya atas yang ia alami. (antara.sumut, 14/10/2020)

Ikhwal pemerkosa ayah kandung terhadap putri kandungnya sendiri kerap terjadi di era sistem sekularisme. Padahal seorang ayah sejatinya adalah pelindung bagi keluarga. Dan pengayom bagi putra-putrinya. Tidaklah pantas ia melakukan aksi bejat pencabulan, yang mana masalah seksual seharusnya hanya disalurkan kepada istrinya. 

Tontonan maupun tuntunan yang terjadi di sistem sekularisme yang memisahkan aturan agama dari kehidupan menjadikan orangtua gelap mata terhadap apa yang dilihatnya. Nafsu yang tidak terkendalikan menjadikan anggota keluarga kerap menjadi korban pelecehan seksual. Tidak pandang apakah itu anak kandung sendiri?

Dalam pandangan Islam, seorang ayah yang berzina atau memperkosa anak kandungnya berarti berzina dengan mahramnya, dan sanksi hukumnya adalah hukuman mati dengan cara dirajam sebagaimana pelaku zina muhshan.

Adapun jika terjadi kehamilan akibat tindakan keji ayah mencabuli anak kandung, apakah diperbolehkan menggugurkan kandungan atau tidak dengan barbagai pertimbangan? 

Hamil karena sebab pemerkosaan dan usia wanita yang hamil masih di bawah umur atau sudah dewasa, maka menggugurkan kandungannya diperbolehkan dengan syarat:

Pertama. Sebagaimana pendapat mayoritas Ulama, boleh menggugurkan kandungan selama janin belum ada ruh (sebelum usia janin mencapai lebih 120 hari dari awal kehamilan), dan mutlak hukumnya adalah "Haram" jika menggugurkan janin yang sudah memiliki ruh".

Kedua. Bagi yang ingin menggugurkan kehamilannya harus ada izin dari lembaga yang berkompeten dan payung hukum undang-undang Negara yang membolehkannya.

Ketiga. Tempat menggugurkannya (rumah sakit atau tempat bersalin) harus yang sudah mendapat izin dan payung hukum dari pemerintah.

Namun menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya an-Nizham al-Ijtima'i fi Al-Islam dijelaskan bahwa haram hukumnya melakukan aborsi pada janin jika usia janin sudah berusia 40 hari.

Dalil keharamannya adalah hadits Nabi Saw yang berbunyi:

"Jika nutfah (zigote) telah lewat empat puluh dua malam (dalam riwayat lain; empat puluh malam), maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya kepada Allah? Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan? Maka Allah kemudian memberi keputusan..." (HR. Muslim, dari Ibnu Mas'ud RA).

Menurut pemahaman, hadits di atas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya, adalah setelah melewati 40 malam. Dengan demikian penganiayaan terhadapnya adalah penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai ciri-ciri sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma'shumud dam). Yang diartikan haram untuk dibunuh. Maka tindakan aborsi atau penganiayaan terhadap janin tersebut merupakan pembunuhan terhadapnya. Hal tersebut menyatakan bahwa baik di ibu janin atau bapak dari janin maupun dokter, diharamkan menggugurkan kandungan ibu tersebut bila kandungannya telah berumur 40 hari.

Dan bagi siapa saja  yang melakukan pengguguran kandungan, berarti telah berbuat dosa dan telah melakukan tindak kriminal yang mewajibkan pembayaran diyat (tebusan) bagi janin yang gugur. Diyatnya adalah seorang budak laki-laki atau perempuan, atau sepersepuluh diyat manusia sempurna (yaitu 10 ekor unta). 

Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu." (QS. Al An'aam [6]: 151).

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu." (QS. Al Isra' [17]: 31).

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar menurut Syara'."(QS. Al Isra' [17]: 33).

"Dan apabila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah dia dibunuh?" (QS. At Takwir: 8-9).

Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut, aborsi juga haram pada kandungan yang bernyawa atau telah berumur 4 bulan. Karena aborsi tersebut dikategorikan pembunuhan yang telah diharamkan Allah. 

Adapun aborsi terhadap bayi cacat tetap haram dan tidak ada pengecualian keumuman dalil-dalil tersebut, apapun alasannya. Tidak perduli apakah bayi tersebut mempunyai tempurung kepala atau tidak, juga apakah bayi itu mampu bertahan dua hari atau tidak? Karena pada dasarnya hal tersebut tetap diharamkan dan merupakan dosa disisi Allah SWT.

Memang dikatakan menurut buku teks ilmu kedokteran dan kandungan (obstetri dan ginekologi), bayi yang tidak kompatibel dengan kehidupan atau bayi yang diperkirakan tidak akan dapat bertahan hidup lama diluar kandungan, dinyatakan dalam buku teks  ilmu kedokteran tersebut sah-sah melakukan aborsi.

Namun dari pendapat yang shahih, hal tersebut tidak mempunyai landasan syari'ah apapun, baik dari Al Qur'an atau Hadits. Yang dianggap hanya berlandaskan realitas empirik dengan standar manfaat.

Oleh sebab itu, pendapat tersebut tertolak (mardud) secara tinjauan syar'i. Karena dianggap telah berpegang terhadap pendapat yang salah.

Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasarkan petunjuk kami (Islam), maka perbuatan itu tertolak (mardud). (HR. Muslim).

Namun, jika keberadaan bayi cacat tersebut mengancam jiwa si ibu, dalam kondisi seperti ini aborsi dibolehkan secara syari'ah. Karena jika dalam kondisi darurat dibolehkan tindakan haram demi menjaga kelangsungan hidup manusia.

Sebagaimana kaidah fiqih menyatakan:

"Adh-Dharuuratu tubiihu al-mahzhuuraat."

Yang artinya:
"Keadaan darurat membolehkan apa-apa yang diharamkan).

Namun tetap ditekankan lagi, kebolehan aborsi ini bukan karena bayinya cacat tetapi karena kondisi darurat. Andaikan bayinya tidak cacat namun keberadaannya mengancam jiwa ibu, maka boleh pula janin tersebut digugurkan. 

Sementara mengenai nasab anak hasil zina, maka dinasabkan kepada ibunya saja. Karena nasab sejatinya hanya terjadi dalam perkawinan yang sah sesuai syari'at Islam. Ayah tersebut juga tidak boleh menjadi wali dari anak hasil zina tersebut.

Sungguh sangat memilukan dan memprihatinkan nasib anak yang dicabuli keluarga sendiri apalagi seorang ayah kandung yang semestinya menjadi benteng penjaga keluarga.

Padahal hal tersebut sudah digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ [رواه البخاري ومسلم].

"Dari Abdullah bin Umar ra. [diriwayatkan] bahwa dia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Masing-masing kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di dalam rumah suaminya dan ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Maraknya terjadi kasus pencabulan/pemerkosaan orang tua (ayah) terhadap anaknya dikarenakan sistem sekuler kapitalisme yang masih bercokol di negeri ini. Sehingga hukuman demi hukuman yang berlaku dari sistem tersebut tidak menjadikan efek jera sehingga kejadian terus saja berulang.

Negara yang seharusnya menjadi pelindung umat faktanya tidak dapat merealisasikan hal tersebut. Malah beruntun kejadian dengan bentuk rupa yang berbeda namun tetap menjerumuskan manusia kepada tindakan kejahatan yang diharamkan agama.

Semestinya umat semakin sadari bahwa biang dari kerusakan umat manusia, karena masih berada dalam sistem sekuler Kapitalisme yang mana bentuk-bentuk kebebasan lahir dalam sistem ini, diantaranya kebebasan bertindak dan bertingkah laku. Sehingga manusia manusia berbuat sesuka hati tanpa mengindahkan aturan agama yang seharusnya menjadi aturan yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. 

Sudah saatnya kita membuang sistem sekuler kapitalisme demokrasi ini yang hanya membuat tatanan kehidupan menjadi rusak karena tidak adanya syari'at yang mengaturnya. Untuk kembali kepada naungan sistem Islam yaitu Khilafah yang aturannya berasal dari Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta. Sehingga tidak terdapat lagi perbuatan keji seorang ayah terhadap anak kandungnya yang dapat menghilangkan masa depannya sekaligus semangat hidup anak kandungnya sendiri sebagai penerus generasi umat manusia. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Anja Sri Wahyuni

Posting Komentar

0 Komentar