Bahkan Kamus pun Butuh Kehadiran Khilafah untuk Mendefinisikan Istilah Syar'i


Khilafah merupakan suatu sistem pemerintahan yang menerapkan Islam secara totalitas. Selain menjadi kewajiban untuk ditegakkan, khilafah juga menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan kehadirannya. Sejak keruntuhannya pada 28 Rajab 1342 H silam, kini genap 100 tahun umat hidup tanpa naungan khilafah. Hal itu berarti sudah satu abad umat hidup tanpa menerapkan Islam secara totalitas.

Keruntuhan khilafah sangat berpengaruh bagi umat Islam, baik itu perkara besar maupun kecil. Pengaruh besar dari ketiadaan khilafah salah satunya ialah umat tidak memiliki perisai yang mampu melindungi mereka dari berbagai serangan, penindasan, dan penjajahan yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah. Akibatnya, umat selalu menjadi bulan-bulanan dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini.

Bukan hanya itu, absennya khilafah di dunia ini juga berpengaruh dalam perkara yang dianggap kecil atau sepele. Misalnya, khilafah berpengaruh dalam membentuk istilah syar’i di dalam kamus. Jika diamati, banyak istilah syar’i di dalam kamus yang kini memiliki makna abstrak (tidak konkret/tidak jelas) lantaran lenyapnya khilafah. Beberapa istilah syar’i itu ialah sebagai berikut:

Pertama. Khalifah. Kata khalifah merupakan istilah syar’i. Karena itu, istilah ini harus didefinisikan menurut istilah, bukan bahasa. Menurut istilah, khalifah yang berarti seorang penguasa yang menggantikan penguasa sebelumnya dalam negara khilafah dan ia menjalankan negara serta mengatur rakyatnya dengan syariat Islam kaffah
Kata ini sebenarnya termasuk kata konkret (berwujud dan dapat dilihat). Namun, tanpa adanya khilafah, kata ini hanya sebatas diucapkan atau ditulis di dalam lembaran buku saja. Karenanya, kata ini menjadi abstrak di benak umat lantaran tidak dapat dijumpai faktanya saat ini. Para penguasa di negeri-negeri Islam pun tidak dapat dianggap sebagai khalifah (karena tidak memenuhi syaratnya) dan mereka pun juga tidak pernah mengklaim sebagai khalifah. 

Kedua. Amil Zakat. Kata amil zakat secara syar’i berarti orang yang ditunjuk oleh khalifah untuk mengatur, menarik, menerima, dan mendistribusikan zakat kepada delapan asnaf penerima zakat. Karena khilafah tidak ada, keberadaan khalifah pun juga tidak akan ada. Oleh sebab itu, saat ini tidak ada orang yang berstatus amil zakat. Tanpa adanya khilafah dan khalifah, istilah amil zakat saat ini menjadi rancu. Bahkan, tidak sedikit kaum muslim yang salah kaprah mendefinisikannya secara bahasa saja yaitu sebagai petugas zakat sehingga ia berhak menerima zakat. Padahal, bisa termasuk haram harta zakat yang diterima oleh petugas zakat saat ini karena mereka bukan amil zakat yang sesungguhnya. 

Ketiga. Kafir Dzimmi dan Kafir Harbi. Kedua istilah ini juga merupakan istilah syar’i dan digunakan saat khilafah ada. Kafir dzimmi berarti orang kafir yang hidup, tunduk, dan patuh terhadap aturan di dalam negara khilafah, ia harus membayar jizyah sebagai bukti kepatuhannya, dan ia diberi jaminan perlindungan, keamanan dan fasilitas lainnya oleh negara. Kini kata ini hanya dipakai di dalam buku pelajaran agama saja, tanpa pernah umat tahu faktanya dalam kehidupan. Sebab, orang kafir yang hidup di negeri muslim seperti Indonesia tidak bisa disebut kafir dzimmi karena tidak memenuhi syarat sesuai definisi di atas. 
Adapun istilah kafir harbi berarti orang kafir yang tinggal di luar negara khilafah dan ia memusuhi Islam secara terang-terangan. Hubungan negara khilafah dengan kafir harbi adalah perang. Kini kata ini juga menjadi abstrak. Sebagian umat bahkan penguasa di negeri-negeri Islam pun tidak mampu memahami kata ini dengan menyeluruh. Akibatnya, tidak sedikit penguasa di negeri-negeri Islam yang menjalin hubungan baik hingga bekerjasama dengan mereka. Inilah fatalnya dari ketiadaan khilafah. 

Keempat. Jihad Fi Sabilillah dan Futuhat. Kata jihad fi sabilillah memiliki definisi secara istilah yaitu mengerahkan segenap kemampuan dalam perang di jalan Allah melawan orang kafir, baik secara langsung berperang, maupun dengan memberikan bantuan untuk perang. Jihad fi sabilillah dilakukan dengan tujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan menghilangkan rintangan fisik dalam dakwah yang dilakukan negara.
Saat khilafah ada, istilah ini akan menjadi konkret karena akan ditemui realitasnya. Namun, ketika khilafah tiada, istilah ini menjadi sering didefinisikan secara bahasa saja. Umat akhirnya mengartikan kata ini sebatas berjuang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, melawan hawa nafsu, dan sebagainya. Akhirnya, mereka hanya mencukupkan diri dalam perkara-perkara itu.
Begitu pula, kata futuhat merupakan kata yang konkret atau bisa ditemui realitasnya ketika khilafah ada. Futuhat merupakan upaya yang dilakukan oleh negara untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam dengan cara dakwah dan jihad. Islam bisa menyebar sampai ke tanah air karena futuhat. Namun, tanpa adanya khilafah, kini kata futuhat hanya sebatas kata tanpa diketahui realitasnya dalam kehidupan. Bahkan, realitas sekarang justru kebalikannya, negeri-negeri Islam saat ini dikuasai oleh kafir penjajah kapitalis.

Kelima. Jizyah, Ghanimah, Fa’i dan lain-lain. Dalam negara khilafah, pendapatan negara telah diatur jelas dalam Islam. Pendapatan negara sangat banyak sekali sumbernya seperti ghanimah, fa’i, kharaj, jizyah, seperlima harta temuan (rikaz), ‘ushr, harta orang yang tidak memiliki ahli waris, dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut sebenarnya merupakah kata konkret (berwujud, dapat dilihat, dapat dirasakan) saat khilafah ada. Namun, ketika khilafah tidak ada, kesemua istilah itu menjadi abstrak, dipakai hanya saat pelajaran agama tapi tidak pernah dipakai dalam realitas kehidupan negara. 

Setelah mempelajari lebih mendalam, tanpa adanya khilafah, definisi dari istilah-istilah syar’i yang berhubungan dengan negara akan menjadi abstrak, rancu dan tidak jelas di benak umat. Oleh sebab itu, sejatinya tidak ada pengaruh kecil dari runtuhnya khilafah. Semua itu memiliki pengaruh yang besar bagi umat Islam. 

Istilah syar’i dipakai dalam realitas kehidupan, bukan sekadar menjadi teori belaka. Dengan adanya khilafah, keberadaan khalifah dan amil zakat menjadi dapat diindera, perlakuan negara terhadap kafir dzimmi dan kafir harbi juga menjadi nyata, aktivitas jihad fi sabilillah dan futuhat menjadi aktivitas yang nyata, serta istilah-istilah syar’i lainnya yang berhubungan dengan negara akan menjadi jelas. Semoga khilafah segera tegak. Aamiin.[]

Oleh: Santuso
(Pengajar Bahasa Indonesia)

Posting Komentar

0 Komentar