Arah Pendidikan Vokasi Semakin Mengaburkan Generasi, Bagaimana Islam Beri Solusi?


Perubahan kurikulum kembali terjadi di negeri ini. Kali ini menyasar pendidikan vokasi. Ditjen Vokasi Kemendikbud menyatakan ada lima aspek perubahan yang terjadi. Perubahan ini guna memperjelas pendidikan vokasi harus ada 'link and match' dengan kepentingan industri. 

Direktur Jendral Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto menyatakan akan mengubah kurikulum pendidikan SMK dengan yang lebih memungkinkan terjadinya  link and match  dengan dunia industri. (Sumber : mnctrijaya.com pada tanggal 5 Februari 2021)

Beberapa pihak tidak sepakat mengenai perubahan kurikulum yang ada. Termasuk juga Cak Imin, politisi ini mengkritisi keberadaan Nadiem Makarim menjadi menteri tidak kunjung membawa perubahan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ia pun mengopinikan untuk reshuffle, Mendikbud lebih baik dicopot. Apa cukup hanya mengganti menteri lantas pendidikan lebih baik? Apa menteri yang baru mampu mengubah peta jalan vokasi yang hanya bermuara pada industri?

Hal yang harus dipahami adalah adanya perubahan kurikulum yang terjadi, memang menunjukkan bahwa arah pendidikan dalam sistem kapitalisme hanyalah untuk memproduksi sumber daya manusia yang siap kerja, siap untuk diberdayakan oleh sistem kapitalisme.

Orientasi berpikir yang dibentuk oleh sistem hanyalah kepentingan materialistik, dan berpengaruh pada pembentuk profil generasi. Adalah hal wajar, generasi yang terbentuk semakin liberal dan berorientasi materi. Inilah yang mengaburkan generasi menuju arah yang shahih, bahkan mengaburkan jati diri mereka sebagai muslim.

Miris sekali, keahlian yang dimiliki oleh generasi hanya akan dipergunakan untuk kepentingan industri. Alih-alih bermanfaat bagi orang sekitar, jika sudah mendapatkan pekerjaan yang bonafit tentu semua hanya tentang keinginan pribadi bukan orang lain. Lantas, bagaimana perspektif Islam dalam hal ini?

Ada perbedaan mendasar antara sistem pendidikan kapitalisme dengan sistem pendidikan Islam. Tentu asas berdirinya sistem sudah berbeda. Kapitalisme berlandaskan sekulerisme, agama tidak boleh jadi asas, harus dipisahkan. Agama ada, diakui keberadaannya, tapi tidak ada pengaruh yang berarti dalam dunia pendidikan. 

Beda dengan Islam, sistem pendidikan Islam asasnya akidah Islam. Sistem pendidikan Islam bukan menjadikan Islam sekadar nilai seperti pendidikan Islami dalam sistem kapitalisme. Justru islam dijadikan dasar, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan tidak boleh lepas dari syariat Islam, termasuk kurikulum.

Sistem pendidikan Islam memiliki tujuan yang khas. Pertama, membangun kepribadian Islam, pola pikir dan pola sikapnya berdasarkan Islam. Jadi, output generasi yang terbentuk tidak kering dari ilmu agama.

Kedua, mendidik generasi dengan keterampilan dan pengetahuan agar dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berupa peralatan, inovasi dan berbagai bidang terapan lainnya. Contoh seperti peralatan listrik dan elektronika, peralatan pertanian, industri, agar semua berdaya guna di masyarakat.

Ketiga, mempersiapkan generasi untuk dapat masuk ke jenjang perguruan tinggi dengan mempelajari ilmu dasar yang diperlukan. Baik yang termasuk tsaqafah seperti bahasa Arab, fiqih, tafsir dan hadits. Maupun ilmu sains seperti matematika, fisika, kimia dan lainnya.

Pendidikan vokasi dalam sistem Islam dirancang untuk mempersiapkan sekumpulan teknisi spesialis dalam teknologi modern. Seperti spesialis alat elektronik, peralatan komunikasi dan komputer, maupun profesi lainnya yang membutuhkan ilmu pengetahuan lebih mendalam daripada ilmu yang diperlukan untuk keterampilan sederhana.

Selain itu, keilmuan yang akan diajarkan dalam pendidikan vokasi adalah hal-hal yang terkait dengan kemaslahatan umat. Keilmuan dan keahlian bidang vokasi akan memperhatikan kawasan tempat tinggal generasi, apakah di daerah industri, pertanian, pegunungan, pesisir, dataran rendah dan sebagainya.

Tujuannya agar anak-anak vokasi ini dididik untuk menjadi ahli yang kompeten dalam ilmu praktek. Nantinya untuk menciptakan berbagai sarana dan teknik yang terus berkembang di sekitar mereka. Begitulah, pendidikan vokasi dalam sistem Islam, ia bukan vokasi yang kita sering temukan di sistem sekarang. Dan hal ini hanya terwujud ketika kita menerapkan Islam secara kaffah dalam naungan khilafah Islamiyyah. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Fani Ratu Rahmani
(Aktivis dakwah dan Pendidik)

Posting Komentar

0 Komentar