Analis Politik Islam: Korupsi Meroket karena Sistem Demokrasi



TintaSiyasi.com-- Analis Politik Islam Achmad Mu'it menilai kasus korupsi di Indonesia makin meroket karena menerapkan sistem demokrasi.

"Jangan harap korupsi akan menurun dalam sistem demokrasi, justru yang ada korupsi makin meroket," tegasnya kepada Tintasiyasi.com, Kamis (11/02/2021).

Menurutnya, sanksi yang dijatuhkan pada koruptor tidak menimbulkan efek jera sehingga korupsi di negeri ini bukannya mereda justru malah merajalela. Oleh sebab itu, ia menyarankan agar korupsi dihukum berat untuk menimbulkan efek jera.

"Saya menyarankan agar koruptor mendapat hukuman berat. Untuk koruptor milyaran, pantas dihukum dengan potong tangan. Namun, jika korupsinya trilyunan layak dihukum mati. Oleh sebab itu, perlu dibuat aturan agar hukuman ini bisa dilakukan," tandasnya.

Ia menilai, hukuman bagi koruptor sangat ringan. Sebagai pembanding, ia sampaikan, kasus Nenek Asyani yang didakwa mencuri dua batang kayu divonis 1 tahun, sementara Mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Romy divonis 2 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan, padahal Romy diduga menerima suap diatas 200 juta. 

"Belum lagi grasi yang diberikan Jokowi atas Annas Makmun pada 2019 berupa pemotongan masa hukuman selama satu tahun. Sebelumnya tahun 2015, Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Bandung menjatuhkan vonis enam tahun penjara kepada Annas karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus suap alih fungsi kawasan hutan senilai Rp 5 miliar di Riau," bebernya.

Ia menilai hal itu sangat sulit terwujud bila negeri ini masih menerapkan sistem demokrasi. Ia mengingatkan, dalam sistem demokrasi, hak pembuat hukum adalah manusia, dalam hal ini adalah DPR.

"Dan berdasarkan survei Transparansi Internasional Indonesia (TII) yang bertajuk Global Corruption Barometer 2020, bulan desember kemarin, menghasilkan kesimpulan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menjadi lembaga paling korup sepanjang 2020," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar