Analis Politik dan Media: Kritik Bentuk Cinta Rakyat terhadap Pemimpin



TintaSiyasi.com-- Dosol (Dosen Online) Universitas Online (Uniol) 4.0 Diponorogo dan Analis Politik dan Media , Puspita Satyawati, S.Sos., menilai kritik adalah bentuk cinta rakyat terhadap pemimpin.

"Kritik menjadi saluran komunikasi publik sekaligus bentuk cinta rakyat terhadap pemimpin agar tak tergelincir pada keharaman yang dimurkai Allah Swt," tuturnya dalam Kuliah Online di WAG Uniol 4.0 Diponorogo, Ahad (14/02/2021).

Ia menilai, menjadi tanggung jawab besar setiap muslim untuk menghidupkan kewajiban muhasabah lil hukkam. Terutama kalangan pemuda dan intelektual karena mereka adalah martir kebangkitan umat. 

"Menasihati dan mengkritik kebijakan penguasa dalam kerangka menjalankan kewajiban, mengkritik harus disertai ilmu, tidak mengkritik penguasa dengan menghina pribadi penguasa, menyampaikan dengan bahasa ahsan sesuai adab Islam," katanya.

Ia mengungkap upaya memberangus kebebasan berpendapat, tak hanya menunjukkan bermuka duanya penguasa, sekaligus menguak hipokritnya demokrasi, sebagai sistem politik tumbuh dan berkembangnya rezim. "Hipokrisi Demokrasi melahirkan rezim hipokrit adalah keniscayaan tak terbantahkan. Jargon kedaulatan rakyat hanyalah utopi. Ide kebebasan dan HAM yang diagung-agungkan pun sekadar mimpi," tandasnya.

Menurutnya, demokrasi penyebab kebebasan berstandar ganda, ide kebebasan ala demokrasi inilah yang menjadi titik kritis untuk dimainkan pengembannya sesuka hati. "Jadilah kebebasan berstandar ganda. Lahirlah penguasa SSK (Suka-suka Kami). Pun karakter rezim yang anti. Jika ‘pengkhianatan’ terhadap hak-hak rakyat terus berlangsung, maka hakikatnya rezim dan demokrasi tengah bunuh diri yang pelan namun pasti akan mengantarkan pada kematiannya yang hakiki," bebernya.

Menurutnya, ada beberapa kemungkinan motif pernyataan presiden minta dikritik, yaitu, "didorong fakta atau riset terbaru tentang indeks demokrasi yang turun drastis, merosotnya indeks kepercayaan terhadap pemerintah, takut citranya rusak dan terus dicap pemimpin otoriter, untuk meredam para pengkritik yang menilai kondisi pemerintahan saat ini kurang berjalan baik."

Menurutnya, sikap kontradiktif penguasa tersebut menunjukkan praktik politik bermuka dua atau kekuasaan berwajah hipokrit. Hipokrisi politik berbahaya dan kejam, karena menurutnya, menampilkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan untuk menumbuhkan harapan dan citra positif di mata rakyat. Sedangkan subtansinya, katanya, adalah demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Ia menduga, pernyataan tersebut sekadar lip service untuk mengejar rating citra demi mempertahankan kursi kuasa.

"Kritik umat terhadap penguasa adalah sunah Rasul dan tabiat dalam Islam. Meskipun sistem dan rezim saat ini represif, pantang menyurutkan umat Islam menyuarakan kebenaran ajaran Islam dan kebutuhan khilafah sebagai solusi negara ini," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar