Analis IJM Tegaskan Ideologi Kapitalisme Penyebab Bencana Ekologis Banjir di Kalsel



TintaSiyasi.com-- Menanggapi bencana banjir yang melanda Kalimantan Selatan, Analis Indonesia Justice Monitor (IJM), Luthfi Afandi, S.H., M.H., mengatakan, penerapan ideologi kapitalisme adalah penyebab bencana ekologis yaitu banjir di Kalsel.

"Ideologi kapitalislah yang yang menyebabkan semua ini terjadi. Banjir yang melanda Kalimantan Selatan merupakan bencana ekologis yakni deforestasi (pengundulan hutan yang sangat sistematik) diganti dengan fungsi lain, pertambangan, perkebunan, dan permukiman,” tuturnya dalam acara Kabar Malam, Rabu (20/1/2021) di kanal Youtube Khilafah Channel. 

Menurutnya, di balik kebijakan pertambangan di Indonesia ada kepentingan para investor, pemilik modal, dan kapitalis. “Semacam simbiosis mutualisme," jelasnya.

Ia menambahkan, banjir yang terjadi karena salah kelola negara, didukung oleh regulasi pemerintah yang menguatkan hal tersebut. Sehingga deforestasi ugal-ugalan, perusahaan tambang begitu bebas melakukan eksploitasi, tandasnya.

Ia menerangkan, pada fase reformasi khususnya masa kepemimpinan Jokowi dikatakan masa ugal-ugalan. Seperti pengesahan UU minerba No 3 tahun 2020 yang dilakukan ketika masa pandemi, tambahnya.

"Di dalam undang-undang Minerba yang lama terkait ijin tercantum klausul dapat di perpanjang, artinya bisa diperpanjang bisa tidak, sementara undang-undang yang baru tahun 2020 klausulnya dijamin diperpanjang. Sehingga ijin perusahaan tambang tidak sekedar 20 tahun, tetapi hingga umur cadangan tambang itu ada (sampai habis)” imbuhnya.

Luthfi menjelaskan bahwa UU Ciptaker klaster pertambangan banyak menuai kritik. “Dalam UU Ciptaker klaster pertambangan dikritik banyak pihak. Pemerintah memberi insetif kepada perusahaan tambang berupa royalti 0 persen. Artinya mereka tidak ada kewajiban apa-apa untuk diberikan kepada pemerintah. Bagi perusahaan tambang dengan program hilirisasi, alasannya karena mereka menyerap tenaga kerja," jelasnya.

Ia menjelaskan, hal ini jelas tidak adil dan sangat menguntungkan para kapitalis. Menurutnya, berbagai bencana alam ekologi yang terjadi saat ini disebabkan karena kebijakan pemerintah yang pro terhadap kapitalis.
 
“Ketika kita lihat hampir semua pembangunan dan gerakan ekonomi yang dilakukan oleh kapitalis merusak, temasuk merusak lingkungan. Akibatnya, lahan gundul, ketika hujan besar tidak bisa antisipasi lagi," imbuhnya.
         
Ia menegaskan, Islam sangat luar biasa, bukan hanya memberikan keadilan bagi masyarakat, tetapi juga melestarikan lingkungan. “Dalam Islam hutan termasuk kepemilikan umum yang tidak boleh di serahkan kepada individu, swasta, maupun Asing,” imbuhnya. 
 
"Maka ideologi kapitalisme ini harus di geser, di ganti dengan ideologi yang dapat memberikan kebaikan bagi masyarakat (ideologi Islam). Ini merupakan hakikat Islam rahmatan lil alamin, bukan hanya ramah bagi manusia namun juga ramah bagi alam," pungkasnya.[] Sri Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar