Anak Emas Tetap Prioritas


Melalui janji-janji manis serta kepribadiannya yang dianggap lebih lembut dibanding Donald Trump yang arogan, Joe Biden berdampingan dengan Kamala Harisst dari partai Demokrat, mampu menarik perhatian masyarakat Amerika, hingga dunia bahkan umat Islam hingga meraih kemenangan pada pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2020 di Amerika Serikat, menjadi presiden Amerika Serikat ke 46 menggantikan Donald Trump. 

Kemenangan Joe Biden disambut dengan harapan oleh dunia termasuk kaum Muslim, tentu ini menyimpan harapan besar dengan terpilihnya Joe Biden sebagai pemimpin AS. Hal ini disebabkan berbagai janji yang diungkapkan Biden, mampu membawa angin segar pada penyelesaian berbagai penjajahan yang menimpa kaum Muslim dihampir seluruh dunia, termasuk permasalahan hubungan Israel dan Palestina.

Menlu RI Retno Marsudi menyatakan Indonesia mengharapkan kontribusi positif Amerika terhadap penyelesaian isu Palestina-Israel yang berkeadilan sesuai dengan berbagai resolusi PBB maupun parameter internasional yang disepakati (republika.co.id, 21/1/2021).

Dalam sebuah sistem demokrasi janji-janji manis dalam suatu kampanye pemilu adalah hal yang sudah biasa terjadi di sistem tersebut. Janji tersebut memang sengaja dirancang oleh para elit politik sebagai alat untuk mendapatkan suara rakyat sebanyak-banyaknya yang dengan itu mampu memberikan kemenangan kepadanya dalam pemilu. Namun nyatanya, berharap pada janji kampanye para penguasa berarti mempersiapkan diri untuk menanggung kecewa.

Setiap dilakukannya pergantian pemimpin dalam suatu negara, rakyat selalu saja menaruh harapan akan mendapatkan perubahan baik secara menyeluruh dalam kehidupannya, tetapi lagi dan lagi rakyat harus menanggung kecewa, akibat pengingkaran janji yang dilakukan oleh para pemimpin.Tentu ini juga tidak akan jauh berbeda dengan presiden Amerika terpilih saat ini. 

Mestinya umat Islam di seluruh dunia tak perlu banyak berharap pada pemerintahan baru AS di bawah kekuasaan Biden. Sebab, Amerika adalah sebuah negara adidaya yang memimpin dunia dengan asas sistem kuat dan dilandasi ideologi yang kuat pula. Oleh karena itu, bila berbicara masalah kebijakan AS, secara mendasar tidak akan banyak perubahan yang akan terjadi nantinya. Artinya, kebijakan yang diambil AS tetap dalam rangka menjaga eksistensi penjajah Yahudi. AS akan senantiasa menjadikan Yahudi sebagai anak emasnya, karena AS tidak akan pernah memihak kepada Islam, AS akan menjadikan Yahudi sebagai baris pertahanan mereka dalam mengukuhkan pemerintahan kapitalisme. Maka bisa kita pastikan apa yang selama ini digagas AS terhadap solusi perdamaian di Timur Tengah dengan dua negara tetap diadopsi Joe Biden. Bagi Amerika eksistensi penjajah Yahudi itu harga mati. 

Sedikit menilik janji yang dilontarkan oleh Joe Biden sebagai orang yang saat ini memegang kekuasaan di negera adidaya tersebut. Masyarakat secara umum maupun kaum Muslim secara khusus di seluruh dunia tidak layak menaruh harapan besar kepada Joe Biden. Mengingat watak kapitalistik pada diri setiap pemimpin dalam sistem demokrasi tidak bisa dihilangkan. Dengan watak kapitalistik ini setiap orang bisa saja melakukan segala sesuatu hanya demi kepentingan pribadi dan mendapatkan keuntungan material.

Selain itu, secara realitas AS juga merupakan negara kafir yang sejak dulu selalu memusuhi agama Islam. Biden akan tetap setia menjalankan politik luar negeri AS berbasis ideologi kapitalisme sekuler yang mengidap islamofobia. Menurut tradisi politik di Amerika, setelah memenangkan pemilu, presiden terpilih akan melupakan sebagian janjinya dengan berbagai dalih. Oleh karena itu, janji-janji Biden tidak akan jauh berbeda dengan pendahulunya, tak akan terealisasi. Biden akan tetap menjaga dominasi atas berbagai wilayah di dunia ini untuk kepentingan politik dan ekonomi AS. Israel akan tetap menjadi prioritas AS, menjadi anak emas yang dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya.

Belum lagi pemerintahan  AS di bawah kendali American Israel Public Affairs Comitte (AIPAC) yaitu organisasi super-powerful terkuat di AS. AIPAC terhubung dengan pemerintahan Israel untuk selalu membela dan melindungi Israel. Seperti melobi AS agar memberikan bantuan uang kepada Israel sebesar $1-4 miliar per tahun; melobi AS agar mau menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel; memberi cap label teroris bagi Hamas, Hizbullah dan Iran; serta mencegah program senjata bom nuklir Iran. Maka, mustahil secara empiris menggantungkan harapan pada AS dan secara normatif, haram bagi kaum muslim menyerahkan urusannya pada kaum kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam dan umatnya.

Kekecewaan yang selalu dirasakan kaum Muslim setiap pergantian pemimpin harusnya mampu menyadarkan kaum Muslim, bahwa sesungguhnya untuk meraih perubahan hakiki tak cukup hanya dengan mengganti pemimpinnya saja. Tetapi ikut mengganti sistem tatanan kehidupan yang diterapkan saat ini. 

Demokrasi telah terbukti kecacatannya, sehingga pantas digantikan oleh sistem yang lebih nyata kesempurnaannya, yaitu sistem Islam yang aturannya berasal langsung dari sang maha sempurna yaitu Allah swt. 

Maka satu-satunya harapan untuk mampu menyelamatkan palestina dari keserakahan kaum yahudi hanyalah Khilafah Islamiyah. sebagaimana firman Allah SWT, “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin.” (QS At-Taubah [9] :14). Allah SWT juga berfirman, “Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2] :191). Berdasarkan ayat di atas, maka Israel harus diperangi dan diusir dari Palestina.[]

Oleh: Selvy
(Mahasiswi UMN)

Posting Komentar

0 Komentar