Aktivis Muslim Inggris: Tanpa Khilafah, Umat Islam Bagai Raga tanpa Nyawa



TintaSiyasi.com-- Menanggapi peristiwa penting di bulan Rajab, 100 tahun tanpa khilafah, Aktivis Muslim Inggris Dr. Abdul Wahid, menyatakan, kehidupan umat Islam kini bagai raga tanpa nyawa. 

”Umat Islam tanpa daulah ini (khilafah) bagai raga tanpa nyawa. 100 tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Rajab, umat telah kehilangan kemuliaannya. Kemuliaan yang terbaik. Kemuliaan yang berpengaruh hingga ke Eropa, bahkan pernah eksis dan jadi pusatnya di Eropa. Kemuliaan itu adalah daulah Islamiah, khilafah Islamiah.,” tuturnya dalam Seminar Virtual: 100 Years Without The khilafah, Establishing Khilafah: What you can do? di kanal AlWaqiyah TV, Ahad (15/02/2021).

Menurutnya, khilafah adalah kemuliaan bagi umat, bahkan kemuliaan yang terbaik. Ia mengatakan, runtuhnya khilafah 100 tahun yang lalu disebabkan oleh dua hal. “Pertama, invasi budaya oleh kaum kolonial. Mereka menyebarkan ide-ide yang merusak pemikiran kaum Muslim dan cara ini berhasil di tengah-tengah masyarakat Muslim. Ide-ide yang dihembuskan seperti nasionalisme dan sekulerisme," bebernya.

Kedua, adalah invasi politik. "Cara ini dilakukan dengan menyelundupkan agen-agen kolonial penjajah seperti Mustafa Kemal dalam khilafah dan gerakan bawah tangan melalui Mustafa Kemal telah menghancurkan khilafah dari dalam,” ujarnya.

Ia menyatakan, betata pun ketegasan upaya Khalifah Sultan Abdul Hamid dalam menyusun kebijakan mempertahanakan tanah kaum Muslimin. Namun, pada dekade terakhir tepatnya 3 Maret 1924 atau 28 Rajab 1342 H, khilafah resmi dihapus dan menyebabkan umat Islam dibagi-bagi.

"Khilafah resmi dihapuskan dan umat kehilangan identitasnya. Bukan cuma identitas, tetapi juga perisai dan sistem yang yang mengikuti Rasulullah Saw," imbuhnya.

Keruntuhan itu, ia anggap, membuat umat Islam mengalamai invasi, penjajahan dan membagi-bagi identitas tanah kaum muslimin berdasarkan kesepakatan internasional. "Hasilnya, berdirilah negara Iraq, Mesir, Yordan, Turki, Palestina, Banglades, Pakistan, lagi dan lagi dibagi,” tukasnya. 

Ia melihat, tidak cukup hanya dengan membagi tanah dan identitas kaum Muslimin. Tetapi, negara adidaya kolonial juga menciptakan banyak terror dan konflik. Meskipun sebelumnya, wilayah tersebut aman dan stabil. 

Ia mencontohkan seperti Palestina, Suriah, Kashmir, dan Yaman. Bahkan, ia menegaskan, bahwa konflik-konflik di tanah kaum Muslimin sengaja dibuat karena merupakan bagian dari rencana negara kolonial untuk menjaga dunia Islam agar tetap berada di bawah kendali Barat dengan sekulerisme. 

“Kemudian, para penjahat kolonial telah berencana membawa kekacauan dan terror untuk sebelumnya adalah wilayah yang aman dan stabil. Dan konflik hari ini yang terjadi di Palestina, Kasmir, Suriah, Yaman dan lainnya adalah bagian dari rencana kolonial untuk mempertahankan dunia Islam dan tunduk di bawah Negara Barat sekuler,” bebernya.
 
Menurutnya, umat Islam harus membawa kemenangan Islam dengan bersama menegakkan kembali khilafah. "Oleh karena itulah, kami mengajak anda untuk bergabung dengan tugas untuk Islam, membawa kemenagan Islam, menegakkan kembali khilafah, membebaskan umat dan seluruh manusia dari kegelapan,” pungkasnya.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar