Ajengan Yuana Jelaskan Penggunaan Dinar Dirham dalam Syariah



TintaSiyasi.com-- Membahas penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang negara, Mudir Mahad Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna mengatakan, wajib mendasarkan perekonomian berdasarkan dinar dan dirham, karena dalam tinjauan hadis dan sirah Nabi Saw seluruh transaksi keuangan didasarkan pada dinar dan dirham.
 
“Pertama, ada takrir (persetujuan) dari Nabi Saw yang merupakan pengakuan terhadap dinar dan dirham, yang kedua ketika dinar, dirham dikaitkan dengan hukum Islam, yakni misalnya pengharaman menimbun emas dan perak,” tuturya kepada Fokus Live: Dinar Dirham Mungkinkah Kembali? Ahad (14/2/20210) di kanal Fokus Khilafah Channel.

"Kemudian, kewajiban membayar zakat dengan nisab emas dan perak, kemudian diyat, nisab harta curian, kemudian dalam masalah tukar menukar uang," tambahnya.

Menurut Ajengan Yuana, wajibnya negara mendasarkan seluruh podasi keuangan moneter pada emas dan perak, itu berkaitan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sejak awal sampai dengan wafatnya tidak memberikan toleransi ada standar mata uang lain selain dinar dan dirham.

“Bagaimana istinbat hukum dinar dan dirham itu menjadi mata uang negara dalam Islam, itu dasarnya adalah takrir Nabi Saw. Takrir adalah apa-apa yang terjadi saat Nabi Saw ada kemudian beliau menyetujuinya. Itu adalah makna dari takrir atau apapun yang di perbuat para sahabat ra ajmain, kemudian para sahabat menyetujuinya, itu makna dari takrir. Ini adalah bagian dari definisi hadis, hadis itu adalah maudi faila nabi saw min qauli, au fi’lin au takririn. Bahkan para ulama hadis menambahkan au sifatin,’’ jelasnya.

Ajengan menyebutkan, ketika berbicara berkaitan penetapan awal, legislasi berkaitan dengan dinar dirham sebagai mata uang dalam Islam adalah takrir nabi. kemudian dalam fiklun nabi, dalam perbuatan Nabi dan juga di dalam sabda Nabi, dinar dirham adalah mata uang Islam.

Menurutnya, yang menunjukan yang merupakan dalalah atas takrir tersebut, yakni hadis riwayat Imam an-Nasai dan Imam Abu Daud. Hadis tersebut dari Ibnu Umar Nabi Saw bersabda, al waznu waznu ahli makkata walmikyaalu mikyaalu ahlimadiinah. Sabda beliau yang mengatakan al waz wazlu timbagan ini adalah timbangan penduduk Makah. "Ini menunjukkan, qaul ini menunjukan adanya takrir Nabi Saw, bahwa timbangan berkaitan dengan dinar itu dikembalikan kepada timbangannya penduduk Mekkah," pungkasnya.[] Sri Purwanti




Posting Komentar

0 Komentar