100 Tahun tanpa Khilafah, Ustazah Dedeh: Keluarga Muslim Ibarat Anak Ayam Kehilangan Induk



TintaSiyasi.com-- Momentum 100 tahun tanpa khilafah, Konsultan Keluarga Hj. Ir. Dedeh Wahida Achmad mengatakan, kondisi keluarga muslim Ibarat anak ayam Kehilangan Induk.

"Jika kita berbicara tentang kondisi keluarga muslim tanpa khilafah, itu ibarat anak ayam Kehilangan Induk," tutur Ustazah Dedeh, sapaan akrabnya, kepada Tintasiyasi.com, Ahad (21/02/2021).

Rosululloh SAW dalam sabdanya menjelaskan bahwa khilafah adalah roo'in dan junnah pengurus dan pelindung umat.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, 
"Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya".

Sementara fakta sekarang, "tiap saat kita mendengar berita, membaca di media masa, bahkan ada yang menyaksikan dan merasakan sendiri kesulitan hidup yang menimpah keluarga muslim disebabkan tidak adanya khilafah," ujarnya.

Ia menjelaskan, berbagai ancaman terus menghadang keluarga muslim, seperti ancaman akidah yang berasal dari ideologi sekularisme dan pluralisme. Para orang tua kesulitan memberikan pendidikan dan pengokohan keimanan kepada anak-anaknya. "Jadilah mereka generasi yang tidak bangga dengan agamanya, kebenaran bisa diambil dari agama dan kepercayaan apapun, Islam pun hanya sebatas pengakuan sementara prilakunya jauh dari ketaatan pada syariat Islam," jelasnya.

Menurutnya, ancaman juga berasal dari kapitalisme dan liberalisme yang melahirkan generasi serba bebas, tidak mengenal halal haram, tidak takut ancaman neraka, standar perbuatan mereka adalah kesenangan sesaat, keuntungan materi atau semata-mata mengikuti lingkungan pergaulan. "Sehingga banyak kasus remaja kecanduan narkoba, pergaulan bebas, LGBT, tawuran bahkan pembunuhan," bebernya.

Ia melanjutkan, dampak buruk tidak adanya roo'in dan junnah juga menimpah pada orang tua akibat kezaliman kapitalisme yang berimbas pada krisis ekonomi keluarga, PHK besar-besaran, tidak tersedianya lapangan kerja yang layak bagi para suami disertai dengan berbagai program pemberdayaan ekonomi keluarga, ternyata bukan solusi, namun justru mendatangkan prahara dalam keluarga.

"Suami kehilangan fungsi kepemimpinan karena tidak mampu memberikan nafkah yang cukup, istri merasa tidak mendapatkan haknya bahkan sebaliknya dibebani tanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup, ujungnya angka gugat cerai meningkat, anak-anak kehilangan kasih sayang, pendidikan, perhatian karena orang tuanya sibuk dengan dunia kerja," bebernya

bahkan Islam moderat, deradikalisasi dan islamofobia terus dimasifkan, khilafah terus digambarkan sebagai ancaman menakutkan yang harus dijauhkan dari kehidupan, "ini semakin melengkapi kesulitan keluarga muslim yang akan membentuk keluarga ideologis," pungkasnya.[] Faizah

Posting Komentar

0 Komentar