100 Tahun tanpa Khilafah, Pengamat: Eksistensi Khilafah akan Mendorong Berkembangnya Sains dan Teknologi



TintaSiyasi.com-- Reaksi Pengamat Kebijakan Publik Dr. Erwin Permana atas 100 tahun tanpa khilafah mengatakan, eksistensi khilafah akan mendorong berkembangnya pengetahuan dan teknologi.

"Artinya eksistensi khilafah akan mendorong berkembangnya pengetahuan dan teknologi. Khilafah itu adalah junnah (penjaga). Penjaga kaum muslim dan juga umat manusia pada umumnya. Penjaga terhadap semua hal. Terhadap jiwa, keselamatan, harta, termasuk juga menjaga kemajuan sains dan teknologi," terangnya pada TintaSiyasi.com, Sabtu (20/02/2021).

Bang Jundi, sapaan akrabnya, memandang, kemunduran sains dan teknologi yang dialami umat Islam di Indonesia hari ini pascaruntuhnya khilafah adalah kondisi yang tidak dapat dipisahkan dengan keruntuhan khilafah.

“Institusi negaranya itu sendiri akan men-support berkembangnya ilmu pengetahuan, research, dan seluruh aspek-aspek yang infrastruktur yang mendukung perkembangan sains dan teknologi,” ungkapnya. 

Kemudian akan tercipta semacam iklim dan juga budaya pendidikan di dalam khilafah. Selain itu, masyarakat dan semua komponen umat akan sangat terpacu untuk mengejar ketinggian sains dan teknologi.

“Itu semua orang. Dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Para dermawan akan sangat senang jika mengalokasikan dana mereka untuk kepentingan pendidikan,” imbuhnya.

Misalnya bisa membangun laboratorium. Membangun perpustakaan yang bisa diakses secara umum oleh masyarakat luas. Sekaligus menggaji orang-orangnya. Jadi ada semacam budaya pendidikan yang luar biasa.

“Sehingga tidak berlebihan jika kemudian di dalam khilafah itu digambarkan oleh sejarawan Barat akan terjadi semacam hijrah massal. Hijrah tiap-tiap manusia untuk mencapai revolusi teknologi. Jadi ada semacam revolusi teknologi massal. Meningkatkan level kemajuan teknologi masyarakat,” imbuhnya. 

Itu kondisi dalam daulah khilafah. ketika daulah khilafah itu tidak ada, maka tidak ada yang menjaga. Tidak ada yang mendorong. “Sekarang orang memacu teknologi, mengejar sains dan teknologi itu semata-mata untuk kepentingan duniawi saja. Untuk keperluan hidup,” lugasnya. 

Misalnya menjadi dokter, menurutnya, itu terkait dengan sains dan teknologi. Karena identik dokter itu dengan materi yang berlimpah. Kemudian menjadi pilot, menjadi saintis, dan segala macam itu motifnya adalah motif duniawi dan materi. 

Keimanan dan Keilmuan Tak Bisa Dipisahkan

“Dalam hal perspektif keimanan memang nggak bisa dipisahkan antara keimanan dengan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Menurutnya, antara ilmu dan iman tidak bisa dipisahkan. Karena, iman akan mendorong orang untuk mencapai ilmu, termasuk tsaqofah Islam, agar tahu cara beribadah yang baik, termasuk ilmu sains dan teknologi. 

“Itu motivasi orang untuk untuk memahami sains dan teknologi dalam rangka membesarkan Allah SWT. Allah SWT sangat besar dan sains yang diciptakan pun sains yang ramah terhadap peradaban manusia, terhadap alam semesta,” paparnya.

Berbeda dengan sains Barat yang asasnya sekuler, ia mengatakan, maka sains yang dilahirkan adalah sains yang bersifat ekspansif dan eksploitatif, sehingga terjadilah kerusakan-kerusakan di sana sini akibat sains Barat.

“Kita lihat saja bagaimana alam yang luar biasa kerusakannya akibat eksploitasi terhadap kekayaan alam, hutan, air, dan segala macam. Jadi, sangat eksploitatif sekali. Beda dengan Islam,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati


Posting Komentar

0 Komentar