100 Tahun Setelah Khilafah Runtuh, Kapan Akan Tegak Kembali?

Kekhilafahan Islam terakhir diruntuhkan di Turki pada tanggal 3 Maret 1924 M, atau pada tahun 1342 H. Menggunakan hitungan kalender Hijriyah, maka pada tahun 2021 M ini atau tahun 1442 H, telah genap 100 tahun. Itu artinya, kaum muslimin telah satu abad hidup tanpa khilafah, tanpa ada baiat kepada khalifah di pundaknya.

Padahal, kaum muslimin diharamkan kosong dari kekhilafahan, tak ada baiat terhadap Khalifah paling lama 3 hari. Ini merupakan musibah paling dahsyat, karena dengan tiadanya khilafah, seluruh hukum Allah SWT terbengkalai.

Tidak ada yang menegakkan hudud, menerapkan qisos dan mengambil diyat, tak ada hukum ta'jier dan sirna kebijakan mukholafah. Tak ada yang menjaga darah dan harta kaum muslimin, tak ada yang melindungi kesucian kaum muslimah, tak ada yang menghalangi kaum kafir merampok harta kaum muslimin, tak ada negara yang mengemban dakwah dan melaksanakan jihad, tak ada kepemimpinan kaum muslimin atas dunia, tak ada rahmat meliputi dunia, dan tak ada kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Kaum muslimin dibantai di Irak, di Suriah, di Yaman, di Afghanistan, Uzbekistan, Uighur, Rohingya, hingga India. Negeri kaum muslimin dipecah-pecah dan diadu domba. Yahudi merampas Al Quds dan mendirikan negara ilegal Israel. 

Amerika merampok minyak timur tengah dan menguasai seluruh sumber daya alam dunia Islam. Penguasa antek di negeri kaum muslimin baik di Saudi Arabia, Irak, Iran, Suriah, Lebanon, Mesir, Turki, Pakistan, hingga Indonesia bersatu padu dengan barat kapitalis yang dipimpin Amerika untuk menghalangi tegaknya khilafah. Mereka ikut memasarkan jualan Amerika, War On Terrorism, War On Radicalism, yang sejatinya adalah War On Islam, War On Chaliphate.

Seluruh negeri kaum muslimin, secara politik diadu domba melalui sistem demokrasi. Semua berlomba untuk berkuasa, bukan untuk melayani umat, tapi untuk melayani kaum kapitalis. Mereka, para penguasa yang dibayar dari pajak rakyat, justru berkuasa untuk melayani kaum kapitalis. Mereka, melegalisasi penjajahan gaya baru, dengan menumpuk utang, mengadopsi sistem ekonomi kapitalistik, dan menyerahkan seluruh sumber daya alam kepada para penjajah kapitalis.

Kaum muslimin yang konsisten dengan Islam disebut radikal, yang ingin mengembalikan hukum Islam disebut ekstrem, yang ingin mengembalikan kejayaan khilafah dicap konservatif. Mereka, berulangkali menyebut khilafah utopis, namun pada saat yang sama selalu menghalangi mimpi khilafah. Mereka, berbeda pendapat tentang bagian harta jarahan, bagian harta korupsi, tapi akan kompak menyerang khilafah.

Negeri ini boleh diserahkan kepada penjajah Amerika maupun China, boleh dibagi untuk Inggris dan Perancis, juga boleh diberikan sebagiannya kepada Singapura. Tapi tidak untuk Khilafah. Khilafah, harga mati, tak boleh membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajahan kapitalisme global dibawah kendali Amerika.

Umat Islam di negeri ini, diajak untuk bertarung melawan komunisme China, tapi disirap (sirep, hipnotis) untuk bungkam pada penjajahan Amerika. Padahal, China memang penjajah tapi pendatang baru. Sedangkan Amerika, adalah penjajah yang sudah bangkotan, mengeruk kekayaan alam negeri ini puluhan tahun lamanya.

Amerika dan China, akan terus bertarung memperebutkan kekayaan alam dan pasar di negeri ini. Mereka saling adu kuat, intervensi politik dan militer, walaupun belum sampai adu fisik. Mereka, hanya berperang secara propaganda untuk berebut kue kekayaan alam negeri ini, hingga mendapatkan bagian yang sepadan.

Namun, meskipun bermusuhan dalam urusan penjajahan,  mereka akan kompak menyerang Islam, menyerang khilafah. Karena, mereka paham jika khilafah berdiri di negeri ini, itu artinya mereka harus angkat kaki dan meninggalkan seluruh harta jarahannya.

Adapun para penguasa antek, ikut menyerang Islam dan khilafah, karena ingin melayani Amerika dan China serta melindungi kekuasaan mereka. Mereka, telah rela menzalimi saudara muslim, demi melayani kepentingan para penjajah.

Karena itu wahai kaum muslimin, jika benar kalian serius mencintai negeri ini dan ingin membebaskannya dari cengkeraman penjajah, kapitalisme global maupun sosialisme komunisme, segera terapkan Islam, tegakkan khilafah. Hanya dengan khilafah, negeri ini akan mandiri mengelola kekayaan alam yang diberikan Allah SWT, untuk menyejahterakan rakyat. Bukan untuk melayani kerakusan Amerika dan China.

Kemuliaan Islam dan kaum muslimin, mustahil dapat diraih dengan pemilu, Pilpres dan Pilkada. Semua itu, hanya akan menenggelamkan kaum muslimin, dalam jebakan lumpur demokrasi yang menjijikkan. Demokrasi yang akan melanggengkan penjajahan, dengan prinsip sekulisme, yang mengambil alih wewenang membuat hukum, dari hak Allah SWT menjadi hak manusia.

Tiada kemuliaan tanpa Islam, tiada Islam tanpa syariah, tiada syariah tanpa khilafah. Sekali lagi, solusinya hanya tiga perkara : pertama, khilafah. Kedua, khilafah, dan ketiga, khilafah.

Insya Allah, Khilafah akan segera tegak, dengan izin dan pertolongan Allah SWT. Tidak akan lama, sebentar lagi, pada waktu yang telah ditetapkan, tidak ada yang bisa menghalanginya meskipun seluruh penduduk bumi berserikat untuk menentangnya.[]

Oleh: Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Posting Komentar

0 Komentar