100 Tahun Runtuhnya Khilafah, Ustaz Labib: Demokrasi Merampas Otoritas Allah sebagai Pembuat Hukum


TintaSiyasi.com-- Merespon 100 tahun pasca runtuhnya Khilafah, KH Rokhmat S. Labib mengungkapkan, kerusakan paling parah menimpa umat Islam di Indonesia pasca runtuhnya khilafah hingga saat ini adalah diterapkannya sistem demokrasi karena merampas hak Allah dalam membuat hukum.

"Demokrasi memaksakan manusia hukum-hukum yang dibuat oleh manusia sendiri kepada manusia yang lain. Padahal hak pembuat hukum adalah Allah SWT. Jelas ini merupakan satu pelanggaran besar. Bagaimana tidak? Apa yang menjadi otoritas Allah SWT terampas dalam demokrasi," tuturnya kepada Tintasiyasi.com, Sabtu (20/02/2021).

Menurut Ustaz Labib, panggilan akrabnya, ketika UU dan hukum dibuat oleh manusia, maka hanya akan menguntungkan segelintir manusia terutama para pembuat UU dan hukumnya. "Hampir tak mungkin manusia membuat hukum yang merugikan dirinya sendiri," ujarnya.

Padahal menurutnya, apa yang diketahui oleh manusia atau apa yang dianggap oleh manusia baik bisa jadi itu buruk. "Dan lebih parah lagi dalam demokrasi itu atas nama rakyat, namun UU yang dibuat justru merugikan dan menindas rakyat," tegasnya.

Ia melihat, betapa banyak UU yang dibuat dalam demokrasi justru hanya menguntungkan kepada pemilik modal. Seperti UU penanaman modal, UU Migas, UU BPJS dan banyak lagi UU yang lain yang menunjukkan itu semua. "Bahkan yang lebih mengerikan adalah hanya menguntungkan negara-negara penjajah," tegasnya.

Ia mengatakan Islam adalah agama yang menyeluruh dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagian UU itu hanya bisa diterapkan dalam sebuah tata negara. "Dan negara yang ditetapkan oleh Syariah untuk menerapkannya adalah Khilafah," pungkasnya. [] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar