100 Tahun Keruntuhan Khilafah, Jurnalis: Dinar Dirham Mata Uang Syar'i yang Dipraktikan Nabi

TintaSiyasi.com-- Merefleksi seratus tahun runtuhnya khilafah, Jurnalis Senior Joko Prasetyo menegaskan dinar (emas) dirham (perak) adalah mata uang yang dipraktikan oleh Nabi Muhammad Saw. 

"Dinar-dirham, mata uang yang syar'i. Ditakrirkan, diucapkan dan dipraktikan Nabi," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Jumat (19/2/2021).

Ia mengungkapkan dinar dan dirham merupakan mata uang yang nilainya tetap stabil karena dijamin oleh kandungan emasnya sendiri. Selama 1300 tahun digunakan sebagai alat transaksi oleh umat Islam hingga runtuhnya Khilafah Utsmani.

"50 tahunan setelah khilafah tiada lagi, kafir penjajah menggantinya dengan fiat money. Anteknya menyandarkan mata uangnya ke penjajah negeri ini," ungkapnya

Ia mengatakan uang kertas (fiat money) yang digunakan penjajah menggantikan dinar dirham sebagai alat tukar, selalu mengalami inflasi. Dan setiap kali terjadi, rakyat banyak terzalimi karena harga barang dan jasa melambung tinggi, yang memyebabkan daya beli masyarakat melemah.

"Diingatkan untuk kembali ke uang syar'i, si antek tak peduli. 100 tahun sejak runtuhnya Khilafah Utsmani, kelakuannya lebih parah lagi. Penggiat dinar dirham pun dikriminalisasi, dijebloskan ke jeruji besi," imbuhnya

Menurutnya, dari situlah, perjuangan menegakkan kembali khilafah menemukan relevansi. Karena dengan khilafah, uang syar'i (dinar dam dirham) akan diberlakukan lagi sehingga tak terjadi inflasi lagi dan para pegiatnya tak akan dikriminalisasi tapi justru akan dilindungi.

"Cukup penderitaan umat Islam sampai di sini! Seratus tahun sudah terlalu lama sekali. Karena merupakan kewajiban dari Ilahi, yuk tegakkan khilafah kembali. Tak ada alasan untuk menunda-nunda lagi," pungkasnya.[] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar