100 Tahun Keruntuhan Khilafah, Founder KIS: Ketahanan Keluarga Mengalami Keruntuhan



TintaSiyasi.com-- Founder  Komunitas Istri Strong (KIS) Kholda Najiyah menyatakan, 100 tahun pascaruntuhnya khilafah, keluarga Muslim atau pun keluarga masyarakat umum mengalami keruntuhan dari sisi lemahnya ketahanan keluarga.

“Kalau kita perhatikan, sejak runtuhnya khilafah sampai era milenial dan era saat ini, keluarga-keluarga Muslim ataupun keluarga masyarakat secara umum itu mengalami keruntuhan dari sisi lemahnya ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga menjadi tidak ada yang menjaga karena tidak adanya support dari sistem, yaitu negara,” tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Senin (22/02/2021).

Menurutnya, lemahnya ketahanan keluarga ditandai dengan tingginya angka perceraian. Ia menyebut, angka perceraian di Indonesia terus meningkat hingga sekarang dan sulit untuk diatasi. 
“Bahkan, di Indonesia sendiri, bisa dilihat dari data-data banyak yang menyebutkan dalam setiap tahun, hampir setengah juta. Empat ratus ribu lebih pasangan yang bercerai,” ungkapnya.

Ia menilai, tingginya angka perceraian tersebut bukan hanya dipicu oleh masalah individual, tetapi juga masalah struktural. Karena menurutnya, menikah membutuhkan dukungan sistem. 

Kholda menjelaskan, salah satu penyebab seringnya terjadi perselisihan dalam keluarga yang berujung perceraian adalah standar hidup yang didasarkan kepada ekonomi kapitalis. Karena itu, menurutnya, kepuasan ekonomi dan jaminan kesejahteraan pernikahan mesti didukung oleh negara.

“Misalnya, orang menikah tapi tidak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi. Enggak punya pekerjaan atau di-PHK, menganggur. Akhirnya, ia tidak bisa memenuhi ekonomi keluarga. Ekonomi terguncang, rumah tangganya bubar,” terangnya. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, faktor utama penyebab rusaknya ketahanan keluarga saat ini adalah diterapkannya sistem sekuler yang mengakibatkan kerusakan sistem pergaulan sosial di masyarakat. Seperti banyaknya terjadi perselingkuhan dan perzinahan.

“Menikah itu adalah menyempurnakan setengah agama. Artinya, mereka sudah punya penyaluran naluri kasih sayang, penyaluran untuk bertanggung jawab terhadap pernikahan. Tapi kenapa masih mencari di luar? Ini karena kerusakan sistem pergaulan sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat sekuler,” ujarnya.

Ketahanan keluarga yang terguncang ini menurut Kholda akan melahirkan generasi-generasi yang tidak mendapatkan hak dan prioritas pendidikan yang baik dari keluarga yang utuh. Sehingga akan banyak menimbulkan permasalahan. Ia menyimpulkan, kerusakan keluarga berupa ketahanan keluarga yang rapuh disebabkan oleh sistem yang diterapkan. 

“Karena tidak ditopang oleh suatu sistem yang menjaga keimanan keluarga dari aspek sosial, menjamin tingkat kesejahteraan keluarga, kemudian mencegah terjadinya hubungan-hubungan di luar pernikahan yang diharamkan seperti pergaulan bebas atau zina. Itulah keluarga-keluarga yang kita lihat hari ini. Adalah keluarga yang cenderung bebas yang mudah runtuh, mudah hancur karena pondasi yang lemah,” pungkasnya. [] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar