Wujudkan Kemandirian Pangan

Pangan merupakan sektor yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Pangan menjadi kebutuhan pokok yang seharusnya mampu dijangkau semua lapisan masyarakat, tanpa merasa kesulitan dalam memenuhinya. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak dari masyarakat yang berada di level ekonomi menengah ke bawah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Tidak hanya itu, hal ini semakin diperparah dengan naiknya kebutuhan pokok terutama bahan pangan.

Kenaikan harga pangan yang terjadi bukanlah hal yang bisa dianggap enteng atau sepele. Banyak sekali hal yang akan dipengaruhi jika sektor pangan mengalami kenaikan harga. Secara tidak langsung masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dimana hal ini tentu saja dalam keluarga akan menyebabkan terganggunya kesehatan anak. Indonesia perlu mengevaluasi agar stunting pada anak yang kurang dari 5 tahun dapat dihindari, namun dengan kenaikan dan tidak stabilnya harga bahan pangan tentu saja hal ini menyulitkan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anaknya. 

Kesehatan anak juga mempengaruhi tumbuh kembang anak. Anak yang memiliki kesehatan lemah, tidak tercukupi kebutuhannya akan cenderung kesulitan dalam dalam belajar dan meningkatkan pengetahuan. Tidak hanya itu, tidak tercukupinya kebutuhan gizi anak juga menyebabkan daya tahan tubuh dan fisik yang lemah sehingga dapat mudah terserang penyakit. Jika tidak stabilnya dan kenaikan harga pangan terus berlanjut hal ini tentu saja dapat berisiko pada kelaparan bahkan kematian untuk masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kenaikan bahan pangan sangat perlu ketahui penyebabnya sehingga hal ini tidak terjadi lagi di lain kesempatan. Salah satu hal yang menyebabkan tidak stabilnya harga pangan bahkan mengalami kenaikan yaitu disebabkan oleh impor yang masuk ke Indonesia. Indonesia walaupun dikenal sebagai negara agraris dan memiliki tanah subur, tapi pada kenyataannya masih banyak bahan pangan Indonesia yang diimpor dari luar negeri. Kebijakan masuknya barang ke Indonesia mengikuti peraturan internasional sehingga untuk keuntungan swasta merupakan sesuatu yang menjanjikan dengan mudahnya akses impor barang-barang ke dalam negeri. Padahal seharusnya negara mampu dalam memenuhi kebutuhan pangan untuk bangsanya karena wilayah Indonesia yang memadai.

Kenaikan dan penurunan kebutihan bahannpangan di Indonesia dipengaruhi sekali oleh arus perdagangan internasioal. Hal seperti ini dapat dilihat sebagai contoh dalam pemenuhan kebutuhan bahan pangan kedelai. Kedelai sendiri sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia terutama dalam pembuatan tahu dan tempe. Akan tetapi, pemerintah pada kenyataaanya dalal memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia kurang lebih 80% diimpor dari Amerika Serikat. Lebih lanjut, permintaan cina terhadap kedelai dari Amerika sebagai pemasok utama di dunia juga meningkat. Peningkatan permintaan kedelai oleh cina mempengaruhi kesediaan kedelai untuk negara Indonesia yaitu peningkatan harga kedelai karena kurangnya kedelai yang ada. 

Pada saat ini, kebutuhan bahan pokok tidak hanya kedelai yang diimpor dari luar negeri. Bahan pangan lain seperti beras diimpor dari Thailand dan Vietnam, kemudian ada juga bawang putih yang diimpor dari negara cina.
Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya sehingga membutuhkan impor dari luar negeri. 

Padahal dalam kenyataannya negara yang bertugas sebagai pelayan rakyat dalam Islam haruslah mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya, tidak bergantung pada negara lain. Perjanjian perdagangan tidak akan dilakukan jika hanya menguntungkan satu pihak apalagi pihak swasta. Pengaturan pangan juga diatur dalam Islam, di mana negara lah yang harus memenuhi kebutuhan rakyat. 

Negara harus mengoptimalkan fungsi lahan, memfasilitasi petani dengan sarana dan prasarana agar dapat optimal dalam produksi, serta negara juga harus memberikan sosialiasasi dan teknologi terbaru untuk pertaniannya. Dengan demikian negara mampu mewujudkan kemandirian pangan bersama dengan masyarakatnya.[]

Oleh: Suhada

Posting Komentar

0 Komentar