War on Terrorism, UIY: Topeng Barat Tutupi War on Islam



TintaSiyasi.com-- Menanggapi citra buruk yang dilancarkan Barat terhadap Islam kaitannya dengan war on terrorism (perang melawan terorisme), Cendekiawan Muslim, Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menilai hal tersebut adalah kedok Barat untuk menutupi perang melawan Islam (war on Islam).

"War on terrorism itu hanyalah kedok atau mask (topeng) untuk menutupi maksud sesungguhnya, yakni war on Islam," tuturnya di Channel YouTube PKAD (Pusat Kajian & Analisis Data) dengan tema acara Pembubaran Ormas Islam, Ada Apa dengan Khilafah?, Sabtu (09/01/2021).

Menurut Ustaz Ismail sapaan akrabnya, mereka (Barat) sangat tahu bahwa upcoming challenger (penantang) yang akan datang, di masa yang akan datang itu tak lain adalah Islam atau dunia Islam. Tambahnya, mereka tahu persis bagaimana ajarannya, sejarahnya, dan potensi kekuatan yang dimiliki dunia Islam. 

"Lebih dari 60-70 persen cadangan minyak dan gas dunia itu ada di dunia Islam. Belum lagi sumber-sumber tambang dan mineral dan sebagainya. Jadi mereka tahu persis upcoming challenger itu adalah dunia Islam," imbuhnya.

Ia memaparkan, Barat tahu persis hal itu karena dunia Barat banyak pusat-pusat studi intensitasnya dan kedalamannya itu tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh dunia Islam. "Saya pernah diundang oleh Harvard University, tahun 2004 itu oleh pusat studi hukum Islam di Harvard Law School. Saya jumpa dengan direkturnya itu, kalau kita bertemu sekilas itu kita seperti berhadapan dengan seorang Muslim. Karena begitu fasihnya, tempat dinding ruang kerjanya yaitu penuh dengan kitab kuning. Bukan hanya studi hukum Islam, Harvard juga punya pusat studi ekonomi Islam," bebernya.

"Mereka juga menyelenggarakan annual conference (konferensi tahunan) setiap tahun dengan proceding, saya membacanya itu luar biasa. Banyak sekali referensi-referensi yang kita sendiri tidak tahu, jadi mereka sangat intensif," ungkapnya.

Ia menuturkan, jadi mereka tahu semua dan menilai potensi umat Islam mengembalikan kejayaannya setelah kemundurannya yang panjang. Semenjak runtuhnya Turki Ustmani 1924, menurutnya, sudah hampir satu abad yang lalu, Islam dipandang sebagai ancaman bagi Barat.

"Bagaimana agar tidak menjadi ancaman? Kata mereka dunia Islam dibuat ramah dengan nilai-nilai Barat. Karena itu dibuat pemetaan kekuatan dunia Islam itu termasuk di dalamnya untuk memilah dan memilih apa yang bisa dijadikan kawan, siapa yang menjadi lawan," katanya.

Ia menekankan, intinya mereka mengatakan yang menjadi lawan kelompok pertama mereka (Barat) adalah kelompok fundamentalis. Tambahnya, ciri utamanya dia menginginkan syariah kaffah apalagi khilafah. Menurutnya, Barat merengkuh tiga kelompok yang terakhir ini yaitu, Islam modern, tradisionalis, dan sekularis untuk melawan dan dibenturkan kelompok yang pertama, kelompok fundamentalis.

"Inilah yang digunakan oleh Daniel Pipes, bahwa tujuan perang jangka pendek ini adalah untuk menghancurkan Islam militan. Namun tujuan panjang dari perang ini adalah modernisasi Islam, artinya
mereka hendak mengembangkan Islam model Barat," tandasnya.

Jelasnya, jadi setelah war on terrorism berjalan dan sukses. Menurutnya, Barat melihat masih cukup banyak komponen dari kekuatan umat Islam yang tidak bisa di jaring lewat program itu (war on terrorism), karena tidak semua dari mereka itu comitted violence (melakukan pelanggaran). "Karena itu mereka kemudian luncurkan lanjutan dari war on terrorism yaitu war on radicalism. Sama seperti war on terrorism, war on radicalism juga hanyalah kedok sesungguhnya yaitu war on Islam," tegasnya.

"Kemudian apa yang mereka lakukan di dalam war on radicalism itu, ditegaskan oleh Daniel Pipes bahwa intinya adalah gerakan ini dilakukan kelompok militan, kelompok fundamentalis yang mereka anggap berbahaya bagi barat karena menginginkan Islam yang sesungguhnya," katanya.

Ia menjelaskan, sesungguhnya yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari konteks global. Ia mencontohkan, mereka melabeli setiap Muslim fundamentalis yang inginkan syariah kaffah sebagai fundamentalis extremis, pengecut, pengacau, menghancurkan negara ini, men-Suriah-kan Indonesia, bahkan dikatakan hendak merusak tatanan negara dan bersikap intoleransi.

"Padahal siapa yang merusak negara ini? Siapa yang menjual aset negara? Siapa yang menjual Indosat? Siapa yang korupsi bansos? Siapa yang menyembunyikan Harun Masiku? Semua orang tahu tidak ada hubungannya dengan kelompok fundamentalis itu. Tidak ada hubungannya dengan FPI maupun HTI," sangkalnya.

Lanjutnya, Barat merusak pemahaman tentang syariat, jihad, dan khilafah, bahkan sekarang ajaran khilafah yang dipelajari di madrasah sudah digusur dari 155 buku ajar di lingkungan sekolah-sekolah oleh Kementerian Agama.

"Bagaimana bisa materi yang ada di buku ajar puluhan tahun lamanya, resmi di dalam buku yang dicetak oleh Kementerian Agama juga secara resmi, lalu tiba-tiba dihilangkan begitu saja, hanya karena dianggap radikal. Sejak kapan materi ini (Khilafah) disebut radikal?" tanyanya. [] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar