Wafatnya Ulama Musibah Bagi Umat Islam


Awal Januari 2021 umat Islam di rundung duka. Bagaimana tidak? Umat Islam bukan saja dirundung oleh duka bencana yang sering mengawali tahun Masehi. Namun umat Islam juga harus berduka karena telah kehilangan sosok ulama yang kharismatik dan dekat dengan umat Islam. Salah satunya ulama Habib Ja'far bin Muhammad Al Kaff Kudus telah berpulang ke Rahmatullah. Begitu juga dengan KH R. Muhaimin Asnawi (PP Al Asnawi Magelang) berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 1 Januari.

Ulama secara harfiah diartikan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu. Dan dari pengertian secara harfiah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam. Dan muslim yang memahami syari'at Islam secara Kaffah atau menyeluruh sebagaimana terangkum dalam Al-Qur'an dan as Sunnah.

Berikut menyusul satu persatu ulama yang dipanggil Allah SWT hingga saat 15 Januari sudah terdata 14 orang, salah satunya ustadz yang terkenal di Nusantara bahkan dunia yaitu Syaikh Ali Jaber yang mempunyai cita-cita mulia yaitu mencetak generasi Qur'ani di Indonesia. 

Berikut daftar Ulama yang wafat di bulan Januari 2021:

1. Habib Ja'far bin Muhammad Al Kaff Kudus (1 Januari 2021)

2. KH R Muhaimin Asnawi – PP Al Asnawi Magelang (1 Januari 2021)

3. KH R Abdullah Nachrowi – PP Ash-Shogiri Bogor (2 Januari 2021)

4. KH R Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir – PP Al Munawir Krapyak (4 Januari 2021)

5. Drs M Sai M.HI – PP Nurul Yakin Malaka (5 Januari 2021)

6. KH Muhammad Fatih Naim - Ulama asal Cipete (5 Januari 2021)

7. KH Muhammad Nuruddin A Rahman – PP Al Hikam Bangkalan (9 Januari 2021)

8. Habib Abubakar bin Salim Al Hamid Bondowoso (9 Januari 2021)

9. KH Zainuddin Badrus – PP Al Hikmah Kediri (10 Januari 2021)

10. KH A Yasin Asmuni – PP Hidyatut Thullab (11 Januari 2021)

11. Drs H Ibnu Hazen – LTMNU (12 Januari 2021)

12. Habib Thohir Bin Husain Pimpinan Majelis Raudhatul Mustofa Semarang (13 Januari 2021)

13. Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber (14 Januari 2021)

14. Sayyidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf - Pengasuh Majelis Ta'lim Al-Afaf Tebet Jakarta (15 Januari 2021).
(Okezone.com, Minggu, 17 Januari 2021).

Mungkin bagi sebagian orang wafatnya seorang ulama merupakan hal yang biasa. Karena mengingat kematian sudah menjadi ketetapan Allah Subhana wa ta'ala.
Namun taukah kita bahwa wafatnya seorang ulama adalah sebagai musibah bagi umat manusia?

Mengingat kedudukan para ulama sebagai pewaris nabi untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam dan sekaligus menjaga ajaran agama agar tetap terjaga kemurniannya.

Begitu juga kedudukan para ulama yang memiliki derajat yang tinggi karena ilmu dan berada dalam kebaikan. Dari mereka juga lah segala kebaikan yang dapat diikuti umat manusia, baik dalam langkah, pendapat dan persetujuan mereka.

Hingga para malaikat meletakkan sayap mereka sebagai bentuk keridhoan atas apa yang mereka lakukan. Dan seluruh makhluk memintakan ampun kepada Allah untuk mereka.

Para ulama adalah nahkoda di dalam perahu keselamatan, pemandu di pantai yang tenang, dan penerang di tengah gelap gulita.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Dan mereka adalah orang-orang yang yakin terhadap ayat-ayat kami” (QS.As-Sajdah: 24).

Peran ulama menurut penafsiran Ibnu Kathῑr dan Sayyid Quṭub yaitu menyampaikan ajaran sesuai dengan ajaran Alquran menjelaskan kandungan Alquran, dan menyelesaikan permasalahan dan peroblem agama di masyarakat.

Begitupun ulama disistem sekuler kapitalisme dianggap oleh pecinta rezim sekuler sesuatu yang sangat membahayakan. Padahal keberadaan mereka yang masih banyak menyebabkan manusia masih mendapat petunjuk. Sebagaimana Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata,

عليكم بالعلم قبل أن يُقبض وقبضه بذهاب أهله ، عليكم بالعلم فإن أحدكم لا يدري متى يُفتقر إلى ما عنده ، وستجدون أقواما يزعمون أنهم يدعون إلى كتاب الله وقد نبذوه وراء ظهورهم ، وإياكم والتبدُّع والتنطع والتعمق وعليكم بالعتيق

“Kalian wajib memiliki ilmu sebelum yang memilikinya dicabut dari dunia (mati). Kalian wajib memiliki ilmu, karena kalian tidak tahu kapan mereka akan pergi dari sisi kita, lalu kalian akan menemukan sekelompok manusia yang beranggapan bahwa mereka mengajak manusia untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an, padahal mereka meninggalkannya di belakang punggung-punggung mereka. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap perbuatan bid’ah, berpura-pura fasih, dan berpura-pura mendalami agama ini. Namun wajib bagi kalian untuk berakhlak mulia”.

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, di antaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehingga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih.

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan." (HR al-Bukhari No 100).

Maka sudah sepatutnya pemimpin di era kufur ini untuk lebih berkaca dan memahami segala tindak tanduk mereka terhadap ulama dan para pengembannya karena kerap mengkriminalisasi mereka dengan dalih ulama akan menyebarkan faham radikalisme. Padahal sesekali ulama tidak berbuat demikian. Mereka hanya menyampaikan yang hak dan jika suatu kebatilan hal itupun tidak ditutupi mereka dari penyampaian semata-mata karena amar makruf nahi mungkar atau berdakwah.

Semoga kepergian mereka yang cukup banyak dapat menjadi muhasabah bagi seluruh umat Islam baik kedudukannya sebagai penguasa maupun rakyat biasa. Semoga umat Islam selalu dalam kebaikan selama mereka masih ada diantara kita. Dan tetap berusaha mempersatukan umat Islam kedalam barisan Pejuang Islam Kaffah agar dapat kembali mencetak ulama/generasi yang akan menerapkan sistem Islam dibawah naungan Khilafah Islamiyyah. Wallahu a'lam bish shawab.[]

Oleh: Anja Sri Wahyuni

Posting Komentar

0 Komentar