Virus Baru, Utang Baru, Apa Kabar Indonesiaku?


Tahun 2020 telah berlalu, selamat datang tahun 2021. Tahun yang telah berlalu banyak meninggalkan sejarah  dan memberikan pelajaran bagi manusia secara keseluruhan.Tahun dimana manusia menjalani kehidupan dengan kaca mata hikmah, dan berharap tahun 2021 sebagai tonggak perubahan. Namun, ternyata masalah di dalam negri ini belum selesai juga, virus yang datang ternyata tak kunjung pulang, viruspun berhasil hidup dan berkembang di seluruh negara dan malah membentuk varian baru. Tidak hanya itu, ternyata di Indonesiaku tahun baru buka lembaran barunya dengan menambah utang baru. Nau'dzubillah.

Pada Januari Covid-19 di Indonesia pecah rekor harian 10.617, Covid tembus 800 ribu kasus, CNN Indonesia, Jumat (08/01/2021). Kasus Covid-19 masih menunjukkan tren naik, sejak 10 bulan lebih pandemi melanda, total kematian hingga saat ini mencapai 23.753 orang, setelah penambahan kasus kematian sebanyak 233. Dan kebijakan pemerintah terhadap vaksin pun mematangkan, pemerintah rencana vaksinasi dan melakukan pembatasan sosial pada 11-25 Januari 2021.

Tamu yang belum pulang ternyata kembali datang, estafet permasalaham pun kian berdatangan. dari Organisasi  Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. Hal itu disebabkan karena munculnya varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris diduga telah berada di Jerman sejak November dari pemeriksaan sampel pasien yang telah meninggal. Pernyataan WHO dan gagalnya berbagai kebijakan pemerintah untuk menghentikan sebaran virus ternyata adalah pengakuan kegagalan sistem sekuler saat ini.

Kebijakan yang dibuat pun  mengharuskan seluruh rakyat untuk melakukan social distancing, stay at home,dan kewajiban WFH dan pembelajaran daring untuk murid dan mahasiswa selama berbulan-bulan, sampai membuat sistem karantina yang bertujuan memutus rantai Covid-19, dan nyatanya bukan menjadikan solusi. Malah semakin memperparah keadaan dan menjadikan munculnya virus baru. Semua itu menunjukkan buruknya sistem sekuler dalam menangani adanya wabah penyakit. 

Karena kondisi di Indonesia yang semakin parah membuat  pemerintah melakukan peningkatan utang dengan alasan untuk biaya pandemic padahal baik sebelum pandemi utang adalah tren yang terjadi setiap tahunnya. Cara pemerintah hanya bermodalkan gali lubang tutup lubang. Yang berarti, meminjam uang untuk membayar cicilan berikut bunganya. Pada tahun 2021 ini, Indonesia terus melakukan perjuangan  untuk  melepaskan diri dari jeratan utang. Seperti dilansir di media online wartaekonomi.co.id (27/12/2020), yang diambil dari data Bank Indonesia (BI). Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Oktober 2020 tercatat 413,4 miliar dolar AS atau setara Rp 5.877 triliun. Utang tersebut meningkat 1.000 triliun dibandingkan tahun sebelumnya, 2019. Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, mengakibatkan utang semakin membengkak.

Utang, selalu menjadi permasalahan negara di dunia, seperti Indonesia. Di sistem kapitalisme memiliki rumah perhutangan yakni IMF yang memiliki ambisi ekonomi akan datang menawarkan pinjaman bagi negara berkembang di sekitarnya. Padahal utang tidak pernah menjadi solusi permasalahan ekonomi suatu negara. Malah, utang akan dimanfaatkan untuk memeras negara yang berhutang. Mengeruk sumber daya alam, mendatangkan tenaga kerja asing, kesepakatan import kebutuhan pokok rakyat hingga mengerdilkan kedaulatan bangsa. Dampak kebijakan secara langsung dirasakan oleh rakyat. Karena, negara akan menekan pengeluaran dan menambah pemasukan melalui pungutan pajak dari rakyat. Ternyata tidak menjadikan solusi malah beban yang ditanggung rakyat semakin besar. 

Penderitaan rakyat akan terus berlanjut. Maka dibutuhkan solusi hakiki yang paripurna. Solusi yang mampu mengentaskan segala macam persoalan kehidupan. Hal tersebut hanya bisa ditemukan dengan mengembalikan tata aturan kehidupan kepada sang pencipta. Carut marut ini akan semakin sulit diatasi, jika masih bersandar pada sistem demokrasi,yang hanya menjadi  kaki tangan sistem kapitalisme tidak mengenal halal dan haram. Negara hanya selalu mengambil utang ribawi yang akhirnya, utang negara membelit dan hidup rakyat  semakin menyempit, serta menjauhkan dari ridho Allah SWT dan berakhir sia-sia.

Apakah sebenarnya solusi negeri ini? Ya, hanya Islam. Jika Islam, bagaimana Islam mengatasi permasalahan ini? Hanya  sistem Islam yakni khilafah, yang dapat mengatasi problematika umat, sistem khilafah memiliki cara untuk menghentikan penularan dan mutasi virus, sehingga sebuah wabah tidak akan menjadi pandemi. Karena dalam Negara Islam (khilafah), Pemerintah akan berjalan dengan tuntunan syariah, termasuk dalam mengatasi wabah. 

Pemerintah akan serius untuk mengatasi  wabah penyakit sehingga tidak akan ada muncul virus baru atau pun pandemi baru di suatu negara. Salah satunya dengan proses karantina wilayah terdampak. 

Dalam hal ini Nabi Saw. bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, jangan kalian tinggalkan tempat itu." (HR al-Bukhari)

Rasul saw. pun bersabda:

الطَّاعُونُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

"Tha’un itu azab yang dikirimkan Allah kepada Bani Israel atau orang sebelum kalian. Jika kalian mendengar Tha’un menimpa suatu negeri, janganlah kalian mendatanginya. Jika Tha’un itu terjadi di negeri dan kalian ada di situ, janganlah kalian keluar lari darinya." (HR al-Bukhari)

Metode karantina yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. saat terjadi wabah Tha’un pada era kepemimpinannya. Inilah yang seharusnya diteladani oleh para pemimpin Muslim saat menghadapi wabah.

Ketika wabah telah menyebar dalam suatu wilayah, negara memiliki peran penting dan  wajib dalam  menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan secara gratis untuk seluruh rakyat di wilayah wabah tersebut.  Negara harus mendirikan rumah sakit, laboratorium pengobatan dan fasilitas lainnya untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah segera berakhir. Negara pun wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, khususnya kebutuhan pangan rakyat di wilayah wabah tersebut.Adapun orang-orang sehat di luar wilayah yang dikarantina tetap melanjutkan kerja mereka sehingga kehidupan sosial dan ekonomi tetap berjalan.

Maka  tidak heran, sistem Islam (khilafah) menjadi suatu sistem yang dapat menjalankan tugas untuk mengurusi urusan ummat dengan sangat serius  khususnya pada saat terjadinya pandemi seperti saat ini.

Selanjutnya ketika negara mengalami defisit, maka terdapat Islam dapat mengatasi nya dengan cepat tanpa ada keterikatan pada negara lain (kafir) karena ada tiga sumber yang dibenarkan dalam negara.

Pertama, mengambil dana dari harta milik umum yang diproteksi untuk negara. Kedua, mengenakan pajak atas kaum Muslim yang mampu. Ketiga, mencari pinjaman nonribawi dari rakyat yang kaya.

Begitulah sistem Islam yakni Khilafah jika diterapkan, dan saat ini sistem khilafah Islamiyyahlah yang menjadi solusi terhadapkan problematika umat pada tahun ini dan tahun kedepan nya, dan menjadi tugas kaum muslimin bersama untuk memperjuangkannya. Yaitu, dengan amar makruf nahi munkar kepada masyarakat dan para penguasa.

Sistem Illahi yakni khilafah yang akan menjadi pembebas Indonesia dan dunia dari pandemi serta jeratan utang yang tidak kelar-kelar. Bahkan bukan hanya itu, namun juga dari semua kerusakan dan kecacatan permanen yang dihasilkan dari sistem kapitalisme. Maka selayaknya sistem inilah yang kita perjuangkan agar keberkahan bisa terwujud. Wallahu`alam bisshawab.[]

Oleh: Siti Hajar 
(Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar