Vaksin Solusi Tuntas Covid-19?

Sudah 10 bulan semenjak pertama kali diumumkan adanya Covid-19 di Indonesia hingga hari ini belum usai. Pemerintah seakan kehabisan cara menyelesaikan problem besar ini. Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) menyebut waktu krisis akan berlangsung sampai Desember 2020. Oleh karena itu, jangan sampai ada lonjakan kasus secara ekstrim sebelum proses vaksinasi (Bisnis.com, Jakarta 18/9/2020).  

Angka korban Covid-19 di Indonesia per tanggal 09/01/2021 masih terbilang tinggi, yakni terkonfirmasi positif menembus 818.386 jiwa, meninggal 23.947 jiwa dan sembuh 673.511 jiwa (Covid19.go.id). Angka ini akan terus menerus bertambah bahkan tak tahu kapan berakhir bila tak segera dicegah seserius mungkin. Pernyataan KPC-PEN diatas mengisyaratkan bahwa Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk sembuh dengan mengandalkan vaksinasi. “Critical time-nya adalah tiga bulan (sampai Desember 2020). Kita harus menjaga, jangan sampai ada lonjakan ekstrim dan kondisi tidak normal, sebelum vaksinasi mulai dilakukan,” ungkap Ketua KPC-PEN Airlangga Hartato (Bisnis.com, Jakarta 18/09/2020). Vaksin menjadi solusi menekan dan mengakhiri penularan covid-19. Solutifkah?

Pernyataan Ketua KPC-PEN tak memberi gambaran yang jelas bagaimana vaksin mampu mengendalikan bahkan mengakhiri kasus Covid-19 di Indonesia. Sementara, vaksin baru saja tiba di Indonesia pada awal Desember 2020 dan vaksin belum dipastikan efektif atau tidak. Selain itu, proses vaksinasi di seluruh wilayah tanah air juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan, pada masa critical time tersebut pemerintah juga tak menerapkan kebijakan yang tegas selain hanya mengimbau masyarakat mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan). Bagaimana mungkin pemerintah begitu optimis covid-19 akan usai hanya dengan mengandalkan vaksinasi tersebut?

Epideimolog Griffith University, Dicky Budiman mengatakan “Kondisi Indonesia saat ini dan dalam 3 sampai 6 bulan ke depan memasuki masa kritis mengingat semua indikator termasuk angka kematian semakin meningkat.”

Ada pemahaman yang keliru jika masyarakat mengira dengan adanya vaksin semua akan selesai. Sebab vaksin bukan solusi ajaib, tapi hanyalah salah satu cara untuk membangun kekebalan individual dan perlindungan masyarakat (Tirto.id, 02/01/2021). Belum lagi, untuk mendapatkan herd immunity (kekebalan tubuh) tersebut membutuhkan waktu 1 tahunan, sementara penularan Covid-19 begitu cepat. 

Melonjaknya angka Covid-19 di Indonesia mengonfirmasi gagalnya pemerintah menangani wabah. Pemerintah lamban mencegah penularan wabah. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terbilang “tanggung” untuk selesai dari wabah ini. Mulai dari edukasi social distancing, stay at home, penerapan PSBB, 3M, dan kini vaksinasi, ternyata belum memberi tanda akan berakhirnya penyebaran Covid-19 di Indonesia. Mengapa hal ini begitu rumit?

Inilah nasib negeri karena penguasa menjadikan sistem kapitalisme-sekulerisme menjadi standar aturan kehidupan bernegara. Penguasa menyandarkan diri pada sistem buatan manusia yang lemah-terbatas. Sistem kapitalisme-sekulerisme mengambil solusi berasaskan ide pemisahan agama dari kehidupan. Menjadikan untung-rugi duniawi sebagai tolak ukur kebijakan. Hingga akhirnya dalam mengentaskan permasalahan pun memberi solusi yang setengah hati, alias tambal sulam. Tak menuntaskan permasalahan dari akarnya, sehingga kerap memunculkan masalah baru.

Penguasa enggan menerapkan kebijakan lockdown karena mengkhawatirkan merosotnya ekonomi. Sebagai gantinya, pemerintah menerapkan PSBB yang kini tak diterapkan lagi. Apakah efektif? Tidak. Hari ke hari korban terus berjatuhan. Penguasa tega melihat rakyatnya menjadi korban daripada harus mengorbankan ekonomi sesaat. Ini seakan bukti bahwa sistem kapitalisme memandang nyawa manusia begitu murah, bahkan tak berharga. Kesejahteraan dan keselamatan rakyat dinomor sekiankan demi mempertahankan roda perekonomian. Pandangan ini membuat penguasa tak menggeliat tulus memaksimalkan upaya untuk menjaga dan menyelamatkan rakyat. Sehingga, tawaran solusi yang solutif pun tak digubris. Begitulah kejamnya kapitalisme. Maka hasilnya, negeri kita hari ini sulit keluar dari berbagai problematika dan jauh dari kata sejahtera.

Hal ini akan berbeda bila sistem Islam kaffah dijadikan aturan dalam semua aspek lini kehidupan. Islam menjunjung tinggi harga nyawa umat manusia. Sebagaimana dalam sabda Rasulillahi SAW, “Selamat datang, wahai ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi, seorang mukmin lebih agung disisi Allah daripada engkau” (HR. Al-baihaqi dalam Syu’bab al-Iman). Karenanya, para Khalifah (penguasa pada sistem Khilafah Islamiyyah) begitu memprioritaskan keselamatan dan keamanan masyarakatnya dengan mengkerahkan berbagai upaya agar rakyatnya bisa hidup tenang.

Sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab saat dilanda wabah Thauun Amwas yang menyerang wilayah Syam. Khalifah Umar mengatasi wabah ini dengan kebijakan lockdown (karantina wilayah) untuk memutus mata rantai penularan virus. Segera mendeteksi dan mengisolasi wilayah yang menjadi pusat penyebaran virus dari wilayah lain yang tidak terkena virus. Melarang adanya pengunjung yang keluar masuk ke wilayah karantina agar tak tertular virus. Sedangkan pasien yang tertular diisolasi dan diobati. Khalifah tak menunggu adanya vaksin atau melirik kepentingan lain selain memprioritaskan nyawa umat.

Tak ada keraguan dalam diri Khalifah membuat kebijakan-kebijakan ini sebab beliau merujuk pada sabda Rasulillahi SAW, “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid). Walhasil, wabah mereda dan berakhir.

Beginilah bila Islam dijadikan rujukan dalam setiap persoalan. Islam menuntaskan permasalahan secara integral bukan parsial. Peran pemimpin begitu terasa hadir di tengah-tengah masyarakatnya. Menjalankan peran sebagai periayah umat bermodalkan ketaqwaan pada Allah SWT. Sehingga benar-benar mengoptimalkan peran sebagai pemimpin di dunia yang kelak akan mempertanggung jawabkan kepemimimpinannya. Hal ini akan terwujud bila Islam diterapkan totalitas dalam kehidupan di bawah naungan Daulah Islamiyyah, yakni dalam institusi pemerintahan Khilafah Islamiyyah. Mari kembali kepada sistem Islam dan memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam kehidupan. Wallahua’lam bisshowab.[]

Oleh: Qisti Pristiwani
(Mahasiswi UMN AW)

Posting Komentar

0 Komentar