Utopis, Mendamba Keluarga Harmonis dalam Sistem Sekuler

Miris, sedih dan prihatin. Itulah yang bisa kita rasakan sekarang. Bagaimana tidak, ketika kita disodori fakta seorang anak yang tega melaporkan ibu kandungnya sendiri ke polisi hanya karena masalah sepele. Seperti yang diberitakan oleh www.tribunnews.com, seorang anak berinisial M (40) warga  Lombok Tengah melaporkan ibu kandungnya sendiri kepada polisi hanya karena masalah motor. 

Kasus yang sama juga terjadi di Demak, seorang anak yang berinitial A (19) melaporkan ibu kandungnya yang berinitial S (36), karena cekcok soal baju. Sang ibu sempat mendekam di dalam sel tahanan Polsek Demak Kota (news.detik.com). Walaupun seperti yang diberitakan oleh www.tribunnews.com, akhirnya mereka sudah berdamai dan sang anak sudah mencabut laporannya, tetapi fakta tersebut menggambarkan adanya dekadensi moral generasi muda dan fakta disharmoni keluarga. 

Memiliki keluarga harmonis dan mempunyai keturunan yang salih salihah menjadi dambaan setiap keluarga. Akan tetapi, sistem sekuler meniscayakan lahirnya generasi yang miskin adab terhadap orang tua, dan hancurnya ketahanan keluarga. Pola hubungan keluarga hanya sebatas materi belaka. 

Contohnya kasus seperti di atas atau kasus orang tua yang merestui anak perempuannya berpenampilan seksi agar tetap eksis di dunia entertainment. Ini hanyalah secuil kasus yang sebenarnya banyak sekali fakta seperti itu tapi belum terungkap. 

Begitu juga pada masyarakat bercorak sekuler, mempunyai sikap individualis. Tatkala ada penyimpangan atau kemaksiatan yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat, maka mereka akan cenderung tidak peduli, menganggap itu bukan urusannya. Yang penting tidak mengganggu kepentingan umum. 

Sedangkan negara yang menerapkan aturan sekuler pun akan membuat moral keluarga muslim sedikit demi sedikit akan menjadi runtuh. Aturan–aturan yang diterapkan memunculkan disharmoni pada keluarga. Munculnya RUU PKS, RUU Ketahanan Keluarga, RUU Minol adalah contoh aturan yang memicu kerusakan moral dan hancurnya tatanan keluarga. 

Memang terlihat berat mewujudkan tatanan keluarga yang harmonis, yang akan melahirkan keturunan yang salih dan salihah apabila jauh dari aturan Islam. Maka untuk mengatasinya haruslah kembali pada aturan Islam. Karena Islam dengan seperangkat aturan yang berasal dari Allah sang Pencipta mampu menjawab berbagai persoalan di segala bidang.

Penerapan aturan Islam mutlak memerlukan peran sinergis individu rakyat, masyarakat dan negara. Pilar dari penerapan aturan Islam adalah sebagai berikut:

Pertama, ketakwaan individu. 

Individu yang bertaqwa selalu terdorong untuk menjalankan perintah dan larangan Allah. Sebagai seorang ibu yang memiliki dasar pemahaman Islam kaffah akan memainkan perannya sesuai dengan aturan Islam. Peran yang paling mendasar bagi seorang ibu adalah menanamkan akhlaq mulia kepada anaknya. 

Banyak kisah yang bisa kita ambil hikmahnya bagaimana peran ibu dalam menanamkan adab-adab luhur ke anak-anaknya. Kisah Imam Syafi’i yang dimarahi ibundanya karena ketika pulang menggedor pintu terlalu keras. 

Sang ibu sampai berkata kepada beliau, "Kembalilah! Jangan pulang! Dan belajarlah sopan santun kemudian barulah pulang!"

Perkataan ibundanya ini yang membuat Imam Syafi’i kembali dan bertekad sebelum cukup kesopanan dan sempurna ilmunya.  

Begitu juga kisah Imam Malik saat akan menuntut ilmu, dimana ibunda berpesan, 

“Pelajari bagaimana adabnya sebelum kau ambil ilmunya.” 

Kisah-kisah yang sarat hikmah, bahwa peran ibu dalam keluarga sangat penting dalam mendidik anaknya, yang tidak menolerir jika anaknya berperilaku buruk. Selain peran ibu, ternyata peran ayah pun tak kalah penting dalam mendidik putranya. 

Al Qur’an memberi tuntunan bagaimana seorang ayah mendidik putranya, seperti yang tercantum dalam Al Qur'an. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا نْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا صْبِرْ عَلٰى مَاۤ اَصَا بَكَ ۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُ مُوْرِ ۚ  

"Wahai anakku! Laksanakanlah sholat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (QS. Luqman: 17).

Inilah contoh generasi terdahulu dalam mendidik anaknya. Setelah menanamkan aqidah, kemudian ditanamkan adab-adab luhur pada anak mereka. Sehingga dari model pendidikan mereka lahirlah individu yang bertakwa. 

Kedua, kontrol masyarakat. 

Sebagaimana diketahui, tidak menutup kemungkinan ada seorang mukmin yang melanggar aturan Allah, karena alasan tertentu. Peran masyarakat sangat diharapkan dalam hal ini. Islam telah mendorong masyarakat untuk melakukan koreksi terhadap pelanggaran itu. 

Menyangkut dalam masalah ini Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْۢ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ عَلٰى لِسَا نِ دَاوٗدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
كَا نُوْا لَا يَتَـنَاهَوْنَ عَنْ مُّنْكَرٍ فَعَلُوْهُ ۗ لَبِئْسَ مَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan 'Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas." (QS. Al-Ma'idah: 78-79).

Dari ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma'ruf nahi munkar. Karena bila aktivitas amar ma’ruf nahi munkar ini tidak dilaksanakan dampaknya adalah kemaksiatan semakin merajalela. 

Sedangkan bila aktivitas ini tertegak, maka akan semakin memantapkan setiap individu muslim untuk selalu berjalan sesuai dengan aturan Islam, sekaligus menutup celah bagi siapapun yang melanggar aturan Allah.

Ketiga, peran dan fungsi negara dalam menerapkan aturan Islam. 

Negara merupakan pilar yang sangat penting bagi terlaksananya aturan-aturan Islam di tengah-tengah masyarakat. Negara juga berperan sebagai pelaksana hukum sekaligus pihak yang berwenang menjatuhkan sanksi atas siapapun yang melanggar aturan.

Negara bertanggung jawab menciptakan kesejahteraan dan ketentraman masyarakat di segala bidang. Negara dengan seluruh aparatnya bertanggung jawab penuh untuk mengontrol dan mengawasi semua hal yang berdampak negatif bagi masyarakat.

Inilah tiga pilar yang akan menjamin keberhasilan penerapan aturan Islam. Ketika Islam terterap, maka mendamba keluarga harmonis yang akan mewariskan keturunan yang salih dan salihah bukanlah hal yang mustahil. Wa Allahu ’Alam bi ash-showabi.[]

Oleh: Asih Fatimah Ummu Himmah

Posting Komentar

0 Komentar