Umat Butuh Sistem Shohih dan Pemimpin Shalih


Pandemi Covid-19 yang menerpa dunia termasuk Indonesia sudah atau hampir memasuki satu tahun. Namun, belum ada progres ke arah yang lebih baik. Bahkan kasus positif terus meningkat.

Adapun usaha pemerintah untuk menanggulangi lewat pemberian vaksin menuai pro dan kontra di masyarakat.  
Terhadap program vaksinasi ini, masyarakat terbelah kepada tiga kelompok. Pertama, Kelompok yang menerima dan siap divaksin tanpa reserve/tanpa syarat. Kelompok ini sudah merasakan lelah dan beratnya dampak pandemi virus Covid-19 yang sudah memakan korban ribuan jiwa serta meluluhlantakkan semua sendi kehidupan baik ekonomi maupun sosial sehingga mereka berharap vaksinasi bisa menjadi solusi keluar dari situasi pandemi ini. Kedua, Kelompok yang belum memutuskan (wait and see), kelompok ini ingin mencermati terlebih dahulu kegiatan vaksinasi apakan aman dan berkhasiat serta halal untuk digunakan. Ketiga, kelompok yang tidak mau divaksin (tempo.co, 15/1/2021).

Mencermati polemik di atas ada beberapa catatan penting yamg bisa diambil:

Pertama. Daya Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah sangat lemah.

Kondisi ini terjadi bukan secara tiba-tiba. Tapi dari sederetan kebijakan pemerintah yang dari awal menyikapi ptoblem ini terkesan tidak serius. Tentu kita masih ingat bagaimana komentar pejabat publik di antarannya, "Indonesia tidak akan terkena covid karena terbiasa makan nasi kucing". 

Belum lagi proses kebijakan PSBB yang dari awal menuai polemik. Bahkan, penetapan sanksi terhadap pelanggaran protokol kesehatan yang syarat dengan ketidakadilan. Terlihat jelas baru-baru ini artis Raffi Ahmad yang tidak tersentuh hukum meski nyata melanggar protokol kesehatan. Namun, penanganan berbeda terhadap kasus habib Rizieq. 

Tentu masih banyak kebijakan pemerintah yang terkesan kurang tulus dan serius dalam menangani pandemi. Bahkan, kebijakan yang diambil terkesan bernuansa politik untuk melindungi kepentingan pihak tertentu (kapitalis), dibandingkan dalam rangka melindungi kepentingan rakyat.

Melihat kondisi ini maka wajar jika rakyat tidak langsung percaya atas tiap kebijakan pemerintah termasuk pengadaan vaksin. Meskipun, telah diberlakukan vaksin pertama pada presiden Jokowi dan Raffi Ahmad. 

Rendahnya kepercayaan rakyat terhadap penguasa inilah poin utama penyebab tidak segeranya dukungan publik terhadap tiap kebijakan pemerintahan. Di tambah lagi kewaspadaan rakyat terkait kepentingan asing dibalik program yang diambil pemetintah  juga makin tinggi.

Tentu hal itu wajar. Melihat beberapa kebijakan pemerintah semisal masalah impor maupun investasi asing yang cenderung longgar. Yang menyebabkan kondisi ekonomi rakyat kian susah dan lemah.

Kedua: Umat Butuh Sistem Shohih dan Pemimpin Shalih.

Carut marutnnya kondisi rakyat, terlebih di masa pandemi kian membuka kesadaran bahwa sistem kapitalisme gagal menangani pandemi. Kapitalisme dengan asas sekulerisme dengan fokus pengaturan yang memberikan peluang  besar pada kepentingan kapital (pemodal). Meniscayakan tial kebijakan penguasa yang diambil tidak akan pernah lepas dari perimbangan untung dan rugi terhadap kepentingan segelintir orang ini. Tak ayal lagi rakyat akan terus menjadi korban atas kebijakan yang tidak adil ini.

Sistem yang shahih (benar) yang lahir dari pandangan akidah dam ideologi yang benar amat dibutuhkan untuk meyelesaikan dari segala problem negeri dan dunia ini. Sistem ini harus lahir dari ideologi yang bersumber bukan dari manusia. Tentunya harus lahir dari sang Maha sempurna. Dialah Allah SWT. 

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna dari Allah telah menyiapkan seperangkat aturan untuk menyelesaikan masalah manusia. Termasuk wabah. 

Islam pun telah menetapkan amanah kepemimpinan sebagai amanah besar untuk mengurusi rakyat dengam aturan dari Allah saja. Karenanya saat pemimpin mulai bergeser dari aturan Allah ini saat mudah untuk melakukan koreksi.

Adapun syarat seorang pemimpin pun telah disampaikan secara rinci, di antaranya: Laki-laki, baligh, beragama Islam, berakal, mampu, adil, merdeka (tidak dalam tekanan pihak tertentu).

Pemimpin yang shalih dengan panduan sistem kenegaraan yamg shahih, akan melahirkan kondisi negara yang adil dan tenteram. Jika keadilan ini terjamin secara otomatis kepercayaan antara rakyat dan penguasa terjalin secara kuat. Allahu a'lam bi shawab.[]

Oleh: Yuyun Rumiwati

Posting Komentar

0 Komentar