Terkait Pandemi, Ajengan Yuana: Negara Bisa Memaksa Pengobatan atau Pencegahan, Namun...


TintaSiyasi.com-- Terkait penanganan pandemi di Indonesia yang mengharuskan masyarakat untuk vaksinasi, Mudir Ma'had Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna mengatakan pandangannya dalam fikih Islam. Menurutnya, negara dalam Islam dapat memaksa pengobatan atau pencegahan dalam aspek individu dan masyarakat, namun negara wajib menyediakan obat (vaksin) yang aman, efektif dan halal.

"Secara fikih, sesuai kewenangannya, negara dalam Islam bisa memaksa individu masyarakat untuk mengikuti pengobatan atau pencegahan (vaksin salah satunya) agar penyakit tidak menular, tidak membahayakan orang lain, dan wabah tidak berkepanjangan. Negara wajib menyediakan obat dan pengobatan yang aman, efektif dan diutamakan yang halal. Semua diuji oleh ahli di bidangnya," ujaranya kepada TintaSiyasi.com, Kamis (14/1/2021).

Menurutnya, inilah pendapat Islami dalam perkara ini. Ia mengajak untuk cermat dalam mendudukkan hadis yang mengindikasi ketidakwajiban berobat. "Ada sebuah hadis yang menjadi indikasi bahwa berobat itu tidak wajib. Bahkan ada shahabiyah yang memilih sabar dalam sakitnya," jelasnya.

Ia pun mengutip hadis tersebut, 

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Ada wanita berkulit hitam yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.’

Lalu wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya, ia menegaskan bahwa hadis tersebut berbicara pada konteks individu. "Hadits itu tidak dapat diterapkan pada saat kondisi pandemi atau penyakit menular mewabah di suatu wilayah," tegasnya.

Ia tegaskan lagi, negara wajib menjaga masyarakatnya dan setiap individu wajib mengikuti protokol kesehatan yang diajarkan Nabi. "Tidak masuk ke daerah wabah dan keluar dari daerah wabah, pembatasan interaksi, dan pemisahan antara orang sakit dan orang sehat (hadisnya banyak)," pungkasnya.[] Dewi Srimurtiningsih



Posting Komentar

0 Komentar