Tepatkah Hukuman Kebiri Bagi Predator Seksual?



Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia. Total penduduk muslim di Indonesia diperkirakan sekitar 229 juta orang. Jumlah ini merupakan 87,2 persen dari total populasi penduduk di negeri ini atau 13 persen dari total populasi muslim di dunia. 

Namun, banyaknya jumlah penduduk muslim ternyata tidak otomatis memberikan dampak terhadap perilaku penduduk yang sesuai dengan aturan Islam. Terlebih di negeri ini kian marak kasus pelecehan seksual anak. Berdasarkan data dari kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sejak Januari hingga Juni 2020 telah terjadi setidaknya 2.556 kekerasan seksual terhadap anak. (kompas.com, 24/8/2020)

Anak yang semestinya masih memiliki masa depan panjang harus terenggut paksa impiannya karena mendapatkan kekerasan seksual. Kekerasan yang tentu saja memberikan dampak traumatik terhadap anak dan membuat tidak sempurnanya fisik anak selaku korban. 

Sungguh kekerasan seksual yang menjadikan anak sebagai korban merupakan perbuatan nista dan kejam yang tidak layak mendapatkan ampunan. Sebab kekerasan ini ibarat rantai yang tidak memiliki ujung pangkal. Kasus ini tidak akan bisa berhenti bahkan berpeluang besar menimbulkan kasus baru dengan korban berganti menjadi pelaku. 

*Hukuman Kebiri Bagi Predator Seksual*

Kian maraknya kasus kejahatan seksual anak ini memicu pemangku kebijakan untuk memberikan hukuman berat yang bisa membuat jera predator seksual. Disinyalir hukuman kebiri kimia merupakan hukuman yang tepat untuk para predator seksual tersebut. Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. PP tersebut tertuang dalam Nomor 70 tahun 2020 yang ditetapkan per 7 Desember 2020. (viva.co.id, 3/1/2020)

Tindakan kebiri kimia menurut PP Nomor 70 pasal 1 ayat (2) adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain yang dilakukan kepada pelaku. Tindakan kebiri yang disinyalir dapat memberikan efek jera pada pelaku ternyata menimbulkan efek samping salah satunya munculnya berbagai penyakit.

Selain itu, proses persidangan yang berbelit-belit tidak serta merta memberikan keputusan yang tepat turut andil memicu kian maraknya kekerasan seksual anak. Padahal kasus seperti ini semestinya dengan cepat dapat diselesaikan dan memberikan hukuman yang setimpal bagi pelaku.

Pemangku kebijakan semestinya tidak hanya fokus menjatuhkan hukuman bagi pelaku. Namun, patut pula melakukan tindakan pencegahan atau preventif supaya kekerasan seksual terhadap anak tidak terus-menerus terjadi. 

Sistem kapitalisme turut andil memicu maraknya kekerasan seksual terhadap anak. Pasalnya, negara yang mengadopsi kapitalisme hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator. Akibatnya, perilaku kebebasan asalkan tidak merugikan tidak bisa terkena jerat pidana. 

Selama negeri ini masih membiarkan secara bebas konten pornografi dapat diakses masyarakat maka kasus kejahatan seksual ini akan terus berlanjut. Pintu-pintu pornografi harus ditutup secara tegas demi keselamatan akal dan jiwa masyarakat. 

*Hukuman bagi Predator dalam Islam*

Hukuman kebiri kimia ini bertentangan dengan Islam. Sebab Islam secara tegas memberikan hukuman yang setimpal bagi para pelaku kejahatan seksual. Bisa dipastikan hukuman ini akan membuat masyarakat yang berniat melakukan tindakan kejahatan seksual berpikir ribuan kali. Pasalnya, Islam tak berbelit-belit dalam proses menjatuhkan hukuman. 

Hukuman yang dijatuhkan apabila korban merupakan anak perempuan di bawah umur adalah hukuman rajam sampai mati jika pelaku sudah menikah dan dijilid 100 kali apabila pelaku belum menikah. Selain kekerasan seksual yang menimpa anak perempuan, kekerasan seksual juga kerap menimpa anak laki-laki. Pelaku sodomi tersebut diberikan hukuman dengan dijatuhkan dari ketinggian sampai mati. 

Bagi korban, maka Islam memberikan tindakan kuratif dengan melakukan pendampingan untuk menyembuhkan efek traumatik yang timbul. Selain itu, dilakukan pula tindakan penyembuhan terhadap fisik.

Islam yang diterapkan oleh Khilafah juga melakukan tindakan preventif dengan menutup segala celah yang bisa memudahkan akses pornografi. Melalui departemen penerangan konten pornografi dilakukan pemblokiran. Begitu juga media informasi banyak memberikan edukasi islami kepada masyarakat.

Pendidikan yang berbasis akidah Islam juga turut andil membentuk pemahaman Islam pada diri siswa. Dari sinilah insya Allah akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam yang siap meneruskan estafet perjuangan. Wallahu a'lam bish showab.[]

Oleh: Sri Indrianti (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Posting Komentar

0 Komentar