Teguran Tuhan Diabaikan: Benarkah Ini Ulah Hujan?

Baru beberapa hari menjalani awal tahun 2021, berganti bulan saja belum tetapi bencana dan musibah selang seling berganti di tanah air Indonesia. Bencana alam seperti paket lengkap menghampiri beberapa wilayah Indonesia, dimulai dari tanah longsor, angin ribut, banjir bandang, erupsi gunung merapi, ombak laut meninggi, ditambah lagi dengan adanya kecelakaan pesawat yang baru–baru ini terjadi serta banyaknya tokoh agama yang meninggal dalam waktu yang berdekatan. Ibarat kata ‘sudah jatuh ketiban tangga pula’ yang rasanya nano-nano.

Tahun ini merupakan tahun untuk berduka, kita ambil kasus di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang mengalami musibah dan bencana banjir yang sangat parah dari tahun sebelumnya. Tercatat ada 7 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan yang terendam banjir antara lain Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong. Dari semua wilayah tersebut terdapat 27.111 rumah terendam banjir dan 112.709 warga mengungsi. Apakah curah hujan yang tinggi menjadi penyebabnya banjir di Kalimantan Selatan yang tingginya bisa mencapai 3–4 meter? Apakah tinggi banjir tersebut merupakan banjir yang biasa–biasa saja? Mari kita telusuri lebih dalam lagi.

Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja mengatakan, curah hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir jelas berdampak dan menjadi penyebab banjir secara langsung. Kendati demikian, masifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus juga turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini. “Bencana semacam ini terjadi akibat akumulasi dari bukaan lahan tersebut. Fakta ini dapat dilihat dari beban izin konsesi hingga 50% dikuasai tambang dan sawit” katanya kepada Kompas.com, Kamis (14/1/2021). Dari tahun ke tahun luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar. Antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14% dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 % dalam 5 tahun.

Direktorat Jendral Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan mencapai 64.632 hektar. Untuk jumlah perusahaan sawit pada Pekan Rawa Nasional I bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luasan lahan mencapai 201.813 hektar. Mongabay melaporkan, 8 perusahaan di Kabupaten Barito Kuala mengembangkan sawit di lahan rawa seluas 37. 733 hektar, 3 perusahaan sawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan luasan 44.271 hektar, 2 perusahaan di Kabupaten Banjar dengan lahan sawit seluas 20.684 hektar, kemudian di Kabupaten Hulu Sungai Utara ada 1 perusahaan dengan luas 10.000 hektar dan di Kabupaten Tanah Laut mencapai 5.999 hektar. Itu baru lahan perkebunan sawit. Lalu bagaimana dengan pertambangan?

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 % dari seluruh Indonesia. Bukaan untuk pertambangan sendiri meningkat sebesar 13 % hanya dalam waktu 2 tahun. Luas pembukaan tambang pada tahun 2013 adalah 54.238 hektar. 

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono menyebutkan darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Kisworo mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Kalsel mengalami degradasi lingkungan. Dari catatan Walhi, di provinsi tersebut terdapat 814 lubang milik 157 perusahaan tambang batu bara. Sebagian lubang berstatus aktif, sebagian lain telah ditinggalkan tanpa reklamasi. Lebih lanjut, menurut Kisworo, dari 3,7 juta hektar total luas lahan di Kalsel, hamper 50% di antaranya sudah dikuasai oleh peruhasaan tambang dan kelapa sawit.  

Dari data di atas, kita bisa menilai apakah hanya karena curah hujan yang tinggi bisa mengakibatkan banjir yang luar biasa sampai bisa menenggelamkan mobil dan menghanyutkan rumah? Tentu ini bukan hanya karena curah hujan yang tinggi saja, para manusia yang serakah juga ikut andil dalam bagian penyebabnya banjir besar ini. 

Mereka yang mengeksploitasi alam secara membabi buta lah yang menjadi penyebab utama banjir karena daya resap air yang berkurang sehingga tidak ada tempat untuk menampung air hujan. Pernahkah kita mendengar kalimat bijak “Bumi akan selalu mencukupi kebutuhan semua manusia, namun tidak untuk memenuhi keserakahan satu manusia”. Itulah yang terjadi saat ini. 

Keserakahan manusia terhadap alam sangat luar biasa buasnya, sehingga apapun yang mereka punya dan kelola itu selalu kurang dan kurang, mereka selalu memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang dan keuntungan yang lebih banyak lagi selama masih ada yang bisa dimanfaatkan tanpa memperdulikan dampak ke depannya. Inilah yang selalu diterapkan dalam sistem kapitalisme. Jika sudah begini, siapakah yang paling berperan dalam kerusakan alam di muka bumi ini?

Jika pemerintah bisa mengelola sumber daya alam dengan sangat baik tentu hal ini tidak akan terjadi. Para investor tentu tidak akan bisa mengeruk sumber daya alam Indonesia jika pemerintah tidak memberikan izin masuk untuk mengeruk dan mengambil sumber daya alam kita. Sayangnya, pemerintah pun juga ikut menerapkan sistem kapitalisme sehingga tidak heran jika banjir besar ini terjadi di Kalsel.

Lalu, sistem apa yang cocok dan pantas diterapkan dimuka bumi ini sehingga alam dan kehidupan dapat berjalan dengan seimbang? Lalu bagaimana dengan sistem Islam dalam mengelola lingkungan hidup sehingga alam tidak akan rusak dan manusia selalu berkecukupan? 

Dalam konsep Islam, manusia merupakan khalifah di muka bumi. Secara estimologi, khalifah merupakan bentuk kata dari khulifun yang berarti pihak yang tepat menggantikan posisi pihak yang memberi kepercayaan. Adapun secara terminologis, kata khalifah mempunyai makna fungsional yang berarti mandataris, yakni pihak yang diberi tanggungjawab oleh pemberi mandat (Allah). Dengan demikian, manusia merupakan mandataris-Nya di muka bumi. Hal ini terbukti bahwa manusia adalah sebagai faktor dominan dalam perubahan lingkungan baik dan buruknya segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungan dan alam. 

Di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa kerusakan lingkungan baik di darat maupun di laut pelakunya adalah manusia karena eksploitasi yang dilakukan manusia tidak sebatas memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidup dan tidak mempertimbangkan kelangsungan lingkungan dan keseimbangan alam tetapi lebih didasarkan pada faktor ekonomi, kekuasaan dan pemenuhan nafsu yang tidak bertepi. (Baca qur’an surah Al-a’raf ayat 56 dan surah Al-rum ayat 41).

Islam mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Solusi yang ditawarkan meliputi hulu hingga hilir, integral dan komprehensif. Menempatkan manusia sebagai sentral keseimbangan alam. Di antara pengaturan Islam dalam menjaga lingkungan dari aspek pemeliharaan hingga pengelolaan meliputi: 

Pertama, Islam mengatur kepemilikan harta, yaitu kepemilikan individu, umum dan negara. Dengan klasifikasi kepemilikan harta, negara tidak akan serampangan menetapkan kebijakan sesuai kepentingannya. Hutan dan keanekaragaman hayati misalnya, tidak boleh dikuasakan pada individu atau swasta. Sebab hutan merupakan harta milik umum. Negara mengelolanya hanya untuk memenuhi hajat hidup masyarakat. Eksplorasi kekayaan alam juga tidak dilakukan sembarangan. Meski milik umum, masyakarat boleh mengambil manfaat sebatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk dieksploitasi sekehandak hati seperti pada sistem kapitalisme.

Kedua, Islam mengajarkan mencintai alam dan lingkungan. Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berpesan ketika mengirim pasukan ke Syam, “… dan janganlah kalian menenggelamkan pohon kurma atau membakarnya. Janganlah kalian memotong binatang ternak atau menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian meruntuhkan tempat ibadah. Janganlah kalian membunuh anak – anak, orang tua dan wanita.” (HR Ahmad). 

Hadits ini mengindikasikan jika dalam kondisi perang saja kita dilarang merusak tanaman, apalagi dalam keadaan damai. Hal ini menunjukkan Islam sangat memperhatikan alam dan lingkungannya dan negara akan mendisiplikan masyarakat agar turut serta menjaga lingkungan, yaitu membiasakan hidup bersih dan suci.

Ketiga, Islam mengenal konsep perlindungan lingkungan hidup. Hima berasal dari bahasa Arab yang berarti perlindungan. Secara umum hima berarti kawasan tertentu yang di dalamnya ada sejumlah larangan untuk berburu dan mengeksploitasi tanaman.

Keempat, Islam mendorong aktivitas tanah mati. Dengan memperdayakan tanah mati, masyarakat bisa mengelolanya dengan menanaminya. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu miliknya dan rang yang memagari tidak memiliki hak setelah tiga tahun.” (HR Abu Yusuf)

Kelima, negara akan melakukan penghijauan dan reboisasi. Dengan begitu fungsi hutan atau pohon tidak akan hilang.

Keenam, negara akan memetakan, mengkaji dan menyesuaikan pembangunan infrastruktur dengan topografi dan karakter alam di wilayah tersebut. Negara akan memetakan wilayah mana yang pas untuk eksplorasi tambang, pertanian dan perkebunan tanpa mengabaikan AMDAL di dalamnya. Sebab, kekayaan alam ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bukan diperjualbelikan sebagaimana pandangan kapitalisme.

Dari beberapa uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa dari segi manapun sistem kapitalisme sifatnya adalah merusak, mau bagaimana pun diubah bahkan direvisi beratus kali pun tetap ujungnya membawa kerusakan.

Berbeda dengan sistem Islam yang menyeimbangkan alam dan kehidupan, Islam tidak akan merusak alam dan Islam memanfaat alam sesuai kebutuhan bukan untuk memperkaya diri sendiri. Bencana yang datang silih berganti bukankah tanda peringatan keras untuk menghentikan segala kemaksiatan dan kezaliman akibat sistem sekuler kapitalisme ini? Sudah saatnya umat ini berbenah dengan mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya syariat kaffah dalam khilafah. Wallahu’alam.[]

Oleh: Elma Pebiriani

Sumber:
[1] https://www.muslimahnews.com/2021/01/20/kapitalisme-induk-segala-bencana/ 

[2] https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/15/083100265/banjir-kalsel-meluasnya-lahan-sawit-dan-masifnya-pertambangan?page=all

[3] https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&ved=2ahUKEwjwjuCzpa_uAhWv7XMBHbETCxUQFjALegQIAxAC&url=https%3A%2F%2Fmedia.neliti.com%2Fmedia%2Fpublications%2F42689-ID-etika-islam-dalam-mengelola-lingkungan-hidup.pdf&usg=AOvVaw3VCtamr7_RkwRsTPdRTAxt 

Posting Komentar

0 Komentar