Syariat Islam Wujudkan Masyarakat Cerdas, Kritis dan Peduli


Pemerintah menyatakan akan mengaktifkan kepolisian siber pada 2021. Hal itu disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD dalam wawancara khusus dengan Kompas.id, Kamis (17/12/2020). Menurut Mahfud, polisi siber akan diaktifkan secara sungguh-sungguh karena terlalu toleran dan berbahaya. Adapun polisi siber yang dimaksud Mahfud berupa kontra narasi.

Tidak ketinggalan, pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, negara memang perlu hadir di ruang ruang digital, termasuk di media sosial. Menurutnya, ruang digital juga merupakan ruang publik yang membawa dampak signifikan pada beberapa aspek. 

Pemerintah juga harus memahami budaya online yang saat ini berkembang. Pun, melindungi kebebasan serta kenyamanan berekspresi, bukan melakukan represi.

Enda berpandangan, patroli siber hanyalah satu faktor. Masyarakat juga membutuhkan informasi dan edukasi untuk bijak bersosial media. Media sosial bisa menjadi infrastruktur pendukung ekonomi, seperti halnya jalan raya.


Siber Polisi Bukan Solusi 

Awalnya, Mahfud berbicara tentang fenomena masyarakat yang gampang sekali main ancam di media sosial. Mahfud mulanya berbicara soal sekelompok orang yang selalu menghantam pemerintah, entah pemerintah itu benar atau salah. Mahfud bicara soal penegakan hukum pelanggaran siber.

Adanya polisi siber ini patut diwaspadai dalam hal pembungkaman sifat kritis masyarakat Indoensia. Media sosial memiliki kemampuan bekerja cepat dan menjadi salah satu ruang aspirasi rakyat. Tidak heran bila berbagai kalangan memberikan catatan agar polisi siber tidak memberangus kelompok kritis.

Selain itu, keberadaan polisi siber mesti memiliki tujuan yang benar tidak kemudian bertujuan mengkriminalisasi pengkritik. Sebab, negara ini adalah negara yang di dalamnya menjamin kebebasan berpendapat.

Sesuai dengan namanya, polisi siber mampu menangkal berita hoax sering muncul. Ini menjadi bahan evaluasi pemerintah atas seringnya terjadi ketidakjelasan dan lambatnya informasi yang diberitakan. 

Pengaktifan polisi siber bukan sebuah solusi mengatasi berbagai persoalan. Justru keberadaannya dikhawatirkan menjadi alat untuk membungkam suara kritis rakyat dan membatasi hak partisipasi luas masyarakat dalam berbagai kebijakan yang ada.


Mendiamkan Kezaliman Bukan Kultur Islam

Dalam Islam, tugas seorang pemimpin adalah mengurusi urusan rakyat. Kehidupan rakyat menjadi prioritas utama dalam menjalankan kepemimpinannya.

Umar bin Khaththab ketika dipilih menjadi pemimpin pernah berpidato di depan seluruh rakyatnya. “Hai orang banyak semuanya. Aku diangkat mengepalai kalian. Dan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Jika aku membuat kebaikan. Maka dukunglah aku. Jika aku membuat kejelekan. Maka luruskanlah aku. Kebenaran itu suatu amanat. Dan kebohongan itu suatu khianat.”

Beliau meminta kepada rakyatnya agar senantiasa berpegang pada Islam. Jika beliau melakukan kesalahan, dia tidak segan meminta rakyatnya menegur dan mengingatkannya. Sosok pemimpin memang patut memahami bahwa tanggung jawab kepemimpinannya akan dibawa sampai pengadilan Allah kelak.

Seorang pemimpin senantiasa menerima pendapat, kritik dan nasihat dari rakyatnya. Apabila dia bersalah, maka langsung bertaubat kepada sang Pencipta dan meluruskan kesalahan yang telah dilakukannya.

Penguasa dan para wakilnya harus terbuka, menerima dengan lapang dada,  menyadari keluhan dan mendengar aspirasi rakyatnya. Jika rakyat diam terhadap kezaliman, Allah tidak segan-segan menimpakan hukuman kepada pelaku kezaliman.

Allah SWT berfirman, “Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS Al-A’raf: 183-184)

Jika adanya polisi siber membuka jalan kezaliman yang dilakukan penguasa, maka penguasa sedang menzalimi seluruh rakyatnya. Semakin besar jumlah yang dizalimi maka semakin berlipat pula dosa kezalimannya.

Sebagai seorang muslim, kita memiliki tugas menasehati penguasa dan wakilnya bila kedapatan berbuat zalim terhadap rakyat. Semoga kita bukan menjadi bagian dari orang-orang yang diam atas berbagai kezaliman yang ada. Wallaahu a'lam bi ash-shawab.[]

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah
(Pegiat Literasi dan Media)

Posting Komentar

0 Komentar