Sudah Saatnya Muhasabah Total


"Mengapa di tanahku terjadi bencana, mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa, atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang."

Potongan lirik lagu dari musisi legendaris, Ebiet G. Ade tersebut seakan menggambarkan kondisi bumi pertiwi kita saat ini. Di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung lenyap dari muka bumi. Bumi pertiwi kita diawal tahun 2021 tengah disapa dengan berbagai macam musibah, baik itu di darat, di laut, maupun di udara. 

Di laut, mulai dari Batam, musibah kapal tongkang yang menabrak pemukiman warga di Tanjung Uma, yang menelan korban jiwa dan badai gelombang tinggi yang menyapu sebanyak 23 rumah warga di Batu Merah. Terkait musibah tersebut Gubernur Kepri H. Isdianto, menyampaikan kepada masyarakat bahwa, ujian dan musibah ini adalah ujian untuk kita bersama diawal tahun 2021. Bersabar dan selalu berdoa agar musibah ini segera berlalu (Portallebak.com, 4/1/2021).

Di darat, musibah banjir seperti di Demak, Tanjung Pinang, Kabupaten Bandung, Indramayu, Gresik dan daerah-daerah lain yang mengakibatkan pemukiman warga terendam banjir (Kompas.com, 6/01/2021). Banjir juga terjadi di Kalimantan Selatan yang mengakibatkan ribuan warga terdampak. Seperti yang dilansir dari laman Kompas.com (15/1/2021), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyebut saat ini sudah ada lebih dari 21.000 warga yang terdampak bencana banjir di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Dengan jumlah tepatnya ada sebanyak 21.990 jiwa warga yang terdampak.

Begitu juga dengan gempa di Majene, Sulawesi Barat, yang banyak meruntuhkan bangunan rumah, perkantoran, pertokoan maupun bangunan lainnya. Dikutip dari Tribunnews.com (15/1/2021), gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo kembali menguncang Majene, Sulawesi Barat, pada Jum’at (15/1/2021) dini hari, yang sebelumnya pada Kamis (14/1/2021) lalu gempa juga dirasakan oleh warga disejumlah kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat.   

Di udara, pada 9 Januari lalu, insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 yang membawa 62 orang, dengan rincian 40 penumpang dewasa, 7 penumpang anak-anak, 3 penumpang bayi dan ditambah 6 kru aktif dan 6 ekstra kru (Kompastv, 10/01/2021). Musibah ini tentu menjadi duka yang mendalam bagi dunia penerbangan Indonesia, dan juga sangat menyayat hati keluarga yang ditinggal, para netizen pun membanjiri jagad maya dengan kiriman doa terbaik untuk para korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182.

Melihat beragam musibah yang terjadi menunjukan kepada kita semua betapa lemahnya manusia, alam semesta dan kehidupan, yang ketiganya ada pada genggaman Allah SWT sebagai pencipta dan pengaturnya, maka tiada daya dan upaya jika Allah berkehendak melululantakan segala sesuatu. 

Mengenai musibah, Allah SWT telah memberi kita peringatan bahwa segala kerusakan yang terjadi adalah akibat dari ulah kita sendiri, sebagaimana dalam firman-Nya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS.Ar-Rum:41).

Mengenai ayat tersebut, Imam Jalaludin dalam tafsir Jalalayn menjelaskan lafal “karena perbuatan tangan manusia” yang berarti “karena maksiat”. Dari ayat dan tafsir tersebut, maka sudahlah saatnya umat bersungguh-sungguh untuk bermuhasabah (intropeksi diri) atas perbuatan-perbuatan maksiat yang selama ini telah dilakukan. Melihat kembali, keseharian kita apakah semua sudah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, atau justru sebaliknya yakni mencampakkan perintah Allah dan mengerjakan larangannya. 

Jika kita cermati, sampai dengan hari ini begitu banyak kemaksiatan yang masih terjadi di tengah-tengah kehidupan kita. Seperti merajalelanya miras atau minuman keras, prostistusi atau perzinahan, perjudian, perampokan, pembunuhan, porno aksi, porno grafi, aborsi, riba, korupsi, pengundulan hutan, pembuangan limbah pabrik sembarangan dan beragam maksiat lainnya yang terus menerus terjadi. 

Tidak hanya itu, Allah SWT juga memperingatkan kita dalam firman-Nya mengenai musibah, juga disebabkan oleh adanya para pemimpin yang dzalim terhadap ayat-ayat Allah. Para pemimpin negeri tersebut mengatur negerinya tidak dengan aturan yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan dengan aturan-aturan buatan manusia. Misalnya sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem ekonomi ribawi, sosial, politik, pendidikan, dan sistem lainnya sangat jauh dari aturan Allah SWT. 

Dalam hal ini, Allah SWT dalam firmanNya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (TQS. al-Isra: 16).

Ayat tersebut dalam tafsir Jalalayn: (Dan Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepad orang-orang yang hidup mewah di negeri itu) yakni orang-orang yang dimaksud adalah para pemimpinnya, yaitu untuk taat kepada Kami melalui lisan rasul-rasul Kami (tetapi mereka melakukan kefasikan di negeri itu) maka menyimpanglah mereka dari perintah Kami (maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan Kami) azab Kami (kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya) artinya Kami binasakan negeri itu dengan membinasakan penduduknya serta menghancurkan negerinya.  

Maka tak heran jika Allah menegur kita dengan menimpahkan musibah demi musibah. Dan sebagai seorang muslim yang baik, tentu kita harus berlapang dada dalam menerima musibah sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan kita dan sebagai bahan muhasabah agar kita terus menerus untuk mengorksi setiap perbuatan yang kita kerjakan.

Sebagai manusia, memang kita tak akan pernah luput dari berbuat dosa. Akan tetapi, dalam kehidupan ini Allah SWT tak hanya menciptakan manusia begitu saja, melainkan juga telah membekali kita dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Pedoman tersebut ketika diterapkan dalam semua lini kehidupan kita, dalam artian diterapkan secara sempurna dalam kehidupan baik dalam lingkup individu, keluarga, masyarakat, dan dalam lingkup bernegara, maka akan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).
    
Maka, sudah saatnya sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, seharusnya muhasabah dilakukan secara total dalam artian bukan hanya skala individu saja tetapi urusan negara pun perlu untuk dimuhasabahi. Sebab, Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengambil Islam secara menyeluruh tanpa memilih dan memilah yang mana yang disukai akan diambil, sedangkan yang tidak disukai akan dicampakkan, dalam hal ini kita harus menerapkan Islam secara menyeluruh dalam semua lini kehidupan kita (individu, keluarga, masyarakat dan negara) tanpa merasa keberatan sedikitpun dari aturan Allah SWT.

Allah SWT berfirman: “Demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim atas perkara apa saja yang mereka perselisihkan,kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65). Wallahu’alam bishawab.[]

Oleh: Fadila
(Aktivis Muslimah Papua Barat)

Posting Komentar

0 Komentar