Sistem Pendidikan Islam Tidak Akan Melelang Potensi Unggul Generasi Demi Korporasi

Sistem pendidikan di Indonesia yang sekuler semakin menjadikan generasi didiknya sebagai “budak” para industri kapitalis. Hal ini nampak jelas dari perombakan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) Kementerian Pendidikan, serta adanya program Bangun Kualitas Manusia Indonesia Bangkit untuk dapat mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui proyek independen untuk mencetak lulusan yang siap kerja.

Melansir pada Kompas.com (8/1/21) Kemendikbud-Google Jaring 3.000 Mahasiswa Jadi Talenta Digital,  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021. Informasi tersebut disampaikan Ditjen Dikti melalui akun Instagram resmi, Jumat 8/1/21.

Program ini ditawarkan kepada mahasiswa di semua perguruan tinggi Indonesia untuk dapat mengimplementasikan Kampus Merdeka melalui studi/proyek independen untuk mendapatkan kompetensi di bidang machine learning, mobile development, dan cloud computing. Melansir laman resmi Bangkit 2021, pada akhir program, mahasiswa akan dibekali dengan keahlian teknologi dan soft skill yang dibutuhkan untuk sukses berpindah dari dunia akademis ke tempat kerja di perusahaan terkemuka (KOMPAS.com, 8/1/21).

Arah kebijakan pemberdayaan potensi generasi yang berbasis pelibatan korporasi, sama artinya dengan menyerahkan potensi unggul generasi pada korporasi (asing). Ini terbaca dari kurikulum Pendidikan menengah dan tinggi, Juga bermakna negara ‘rela’  kehilangan SDM untuk keunggulan bangsa, dengan iming iming mencetak lulusan yang siap kerja dengan alasan motif ekonomi belaka.

Demokrasi sekuler dengan kebebasan kepemilikannya yang tidak mengenal halal haram, yang menjadikan tolak ukur adalah materi, dan motif ekonomi menyebabkan orang yang memiliki modal dan menguasai kepemilikan akan menjadi pemenang. Dampaknya ilmu pengetahuan tidak lagi murni untuk dipelajari. Tetapi siapa yang menguasai ilmu adalah dia yang bisa menguasai ekonomi, ujung-ujungnya adalah uang. Bahkan inovasi sekarang juga berbasis ekonomi. Problem output generasi saat ini timbul akibat sistem pendidikan dalam bingkai demokrasi sekuler.

Pemecahannya tidak bisa dalam bingkai demokrasi tetapi harus khas dalam bingkai  Khilafah Islamiyyah, politik negara semacam inilah yang bisa mengeluarkan umat manusia dari kegelapan dan kebodohan akibat kekufuran, kerusakan, keputusasaan, ketidakadilan, dan lain sebagainya, menuju cahaya Islam yang mengangkat derajat umat manusia di setiap urusan kehidupan.

Bagaimana Islam mewajibkan negara menjamin terwujudnya generasi pembangun peradaban Islam. Karena mereka adalah anak-anak umat (abna’ul ummah) yang rasul banggakan karena jumlah dan kontribusinya bagi Islam, yakni dengan sistem yang unggul yaitu  pendidikan khilafah yang mempunyai ciri khas dan tujuan yang jelas yaitu menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Yaitu cara berpikir dan bersikap sesuai dengan Islam. Generasi yang  faqih fiddin yakni penguasaan terhadap ilmu agama , faqih finnaas yakni terdepan dalam saintek. Kreatif dan inovatif dalam konstruksi teknologi. Serta generasi yang berjiwa pemimpin. 

Dari keunggulan tersebut menghasilkan individu dan generasi berkualitas. Individu berkualitas yaitu ulul albab atau yang berpikir, yang menggunakan akalnya untuk kemashlahatan generasi dan umat manusia.
Sedangkan generasi berkualitas yaitu khoiru ummah atau umat terbaik yakni yang memberi kontribusi kemashlahatan bagi dunia dan isinya.

Untuk menghasilkan output pendidikan tersebut, Islam mempunyai  rincian cakupan politik pendidikan Khilafah Islamiyyah berupa:

Kesatu, asas pendidikan, yaitu akidah Islam,  dalam ilmu pengetahuan yang menjadi standar pemikiran. Sehingga yang dihasilkan adalah sesuatu yang murni untuk kemashlahatan umat.

Kedua, tujuan pendidikannya untuk membentuk generasi bersyakhsiyah (berkepribadian) Islam. Menjadi ulama yang bermakna berilmu dalam ilmu agama maupun ilmu terapan dalam semua aspek kehidupan. Semuanya menyatu, tidak menomor satukan yang satu dan menomorduakan yang lain. Mempersiapkan generasi khoiru ummah untuk membangun peradapan islam.

Ketiga, kurikulum pendidikan Islam yang mencakup rancangan pembelajaran dan metodenya untuk meningkatkan level berpikir para siswa agar berpikir cemerlang.

Keempat, metode pembelajarannya talqiyan fikriyan. Penyampaian ilmu kepada peserta didik sebagai sebuah konsep adalah mengaitkan akal dengan fakta yang terindra siswa. Proses penyampaiannya diarahkan agar siswa paham dan mampu menerapkannya sebagai landasan bersikap dan berperilaku. Setiap penyampaian ilmu pun disertai dorongan kepada siswa untuk mengamalkannya.

Materi pelajaran disusun berdasarkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Untuk menjadi bekal kehidupan. Menentukan sikap dan perilaku, sehingga materi pelajaran harusnya menjadi ilmu yang diyakini kebenarannya. Sedangkan ilmu-ilmu yang bertentangan dengan Islam tidak boleh diajarkan khususnya pada usia dini. Dan di dalam penanaman konsep ilmu, materi pelajaran yang dipilih adalah yang sesuai realitas kehidupan yang paling dekat dengan siswa agar lebih mudah dipahami.

Kelima ,Sistem evaluasi dalam pendidikan Islam harus mampu melingkupi perkembangan siswa baik dari sisi aqliyah maupun nafsiyah dalam kesehariannya. Sistem evaluasi mampu melihat pengaruh ilmu terhadap pemahaman siswa, selanjutnya bagaimana pengaruh pemahaman itu terhadap sikap dan perilaku siswa. Sistem evaluasi ini mencakup lisan, tulisan, dan praktik yang sesuai arah pembelajaran setiap ilmu yang diajarkan.

Keenam,  Perlunya peran optimal antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Terkait peran sekolah maka guru sangat berperan dalam proses pembelajaran yaitu sebagai teladan. Menggali dan mengoptimalkan potensi siswa. Memotivasi siswa untuk memiliki semangat belajar tinggi. Mengajarkan materi pelajaran secara sistematis untuk membangun pola pikir dan meningkatkan taraf berpikir siswa. Memotivasi siswa untuk meraih prestasi terbaik bukan sekadar mencari pekerjaan. Memotivasi siswa untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal saleh (fastabiqul khoiroot). Dan tidak lupa peran dari orang tua yang merupakan sekolah pertama untuk para generasi, serta doa' dari keduanya yang akan menghasilkan generasi cemerlang harapan umat.

Beginilah sistem pendidikan generasi yang akan diemban oleh negara Islam, Khilafah Islamiah. Khilafah akan memfasilitasi pendidikan tidak hanya sekadar fisik, tapi juga memposisikan pendidikan sebagai instrumen ketakwaan. Yakni senantiasa menyuasanakan peserta didik dalam rangka penghambaan kepada Allah SWT. 
Wallahu'alam bi showab.[]

Oleh: Isty Ummu Aiman
(Ibu Rumah Tangga)

Posting Komentar

0 Komentar