Sistem Islam Solusi Akhiri Pandemi



Sudah hampir setahun wabah covid-19 melanda dunia termasuk negeri ini. Namun tanda-tanda berakhirnya wabah ini belum juga tampak, bahkan hingga hari ini wabah pandemi covid-19 terus mengalami peningkatan. Tidak tahu kapan kurva nya akan melandai. Karena kasus positif covid-19 terus memperlihatkan lonjakan peningkatan, bahkan angkanya mencetak rekor nasional. 

Di Sumut misalnya Medan Jadi Satu-satunya Zona Merah Corona di Sumut
dan Persentase Kematian karena COVID-19 di Sumut Lampaui Nasional. Hal tersebut dilihat dari update zonasi risiko COVID-19 kabupaten/kota yang disampaikan Satgas COVID-19, Rabu (30/12/2020). Zonasi tersebut dibuat berdasarkan data per 27 Desember 2020. ( news.detik.com/02/01/2021)

Jika kita perhatikan wajar saja jika sampai hari ini jumlah kasus covid-19 ini terus mengalami peningkatan, karena dari awal wabah ini muncul hingga detik ini belum juga dapat terselesaikan karena penanganan yang diberikan oleh pemerintah terkesan santai dan asal-asalan. Penanganan yang tidak terpadu di semua aspek membuat warga mau tidak mau harus 'turun' dan keluar untuk bekerja, berdagang dll karena memang menyangkut hajat hidup keluarganya. Dilema memang bagi warga saat pandemi ini harus tetap keluar, satu sisi aktivitas untuk produktif dan beraktivitas keluar rumah memang sangat diperlukan namun sisi lain sangat berisiko akan menambah jumlah kluster baru. Namun jika tidak beraktivitas bekerja dan melakukan aktivitas di luar rumah, masyarakat mau memenuhi kebutuhan hidup dengan apa?

Maka semakin melonjaknya peningkatan jumlah kasus covid-19 saat ini harusnya disikapi oleh pemerintah dengan penanganan maksimal. Mirisnya yang terjadi diawal malah pemerintah mengatakan bahwa anggaran kesehatan untuk penanganan covid-19 tidak akan bertambah walaupun kasus positif covid-19 saat ini semakin banyak. Bahkan yang semakin membuat miris dana bansos yang selayaknya menjadi hak rakyat ditengah ganasnya virus habis dikorupsi. Innalillahi.

Padahal sebagaimana yang masyarakat rasakan sendiri bahwa dalam masa pandemi ini, kebijakan untuk merumahkan masyarakat sangat berdampak pada ekonomi, PHK dan banyaknya usaha yang gulung tikar, kebutuhan hidup yang meningkat dengan naiknya harga berbagai kebutuhan pokok. Ditambah pemerintah belum sepenuhnya memberikan pengurusan terhadap rakyat dalam hal memenuhi kebutuhan asasi mereka selama pandemi.

Di sisi lain memang, masyarakat juga cukup 'bandel' dan terkesan 'sepele' dengan pandemi yang ada. Tetapi ini juga karena tidak tegas dan tidak konsisten nya pemerintah menerapkan aturan penanganan pandemi. Pusat-pusat perbelanjaan dibuka, tempat wisata diberikan izin beroperasi, sementara rakyat diminta untuk tidak keluar rumah. Sungguh kebijakan yang aneh tapi nyata. Karena sebenarnya sebagaimana banyak kalangan menilai bahwa terjadinya peningkatan jumlah kasus covid-19 ini selain kondisi virus yang masih menyebar juga terjadinya pelonggaran kebijakan dari pemerintah. Dari yang sebelumnya PSBB, kemudian dilonggarkan dan kini telah memasuki new normal. Kemudian penerapan protokol kesehatan yang tidak dibarengi dengan adanya sanksi tegas dan edukasi massif di tengah masyarakat.

Maka dengan mempertimbangan kondisi yang hingga kini sangat jauh dari kondusif. Sudah seharusnya berbagai kebijakan yang telah diterapkan pada saat pandemi ini, harus dievaluasi kembali. Sebab pandemi ini harus segera diakhiri, jika tidak korban nyawa akan terus berjatuhan. Ekonomi akan semakin kolaps, sekolah dan aktivitas sosial lainnya juga akan terhambat. Selayaknya pemerintah segera membuat terobosan penanganan termasuk meningkatkan anggaran penanganan. Upaya maksimal dari pemerintah sungguh sangat dinantikan oleh seluruh rakyat. Sebab semua pasti berharap pandemi akan segera berakhir pergi meninggalkan negeri ini.
Hanya saja berharap pandemic ini akan berakhir dengan system kapitalis hanya sia-sia belaka. Ibarat pungguk merindukan bulan karena penguasa dalam system kapitalis memang tidak akan memperhatikan keselamatan rakyatnya, yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana ekonominya. Kapitalisme telah menjadikan kepentingan ekonomi di atas kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Sementara sistem kesehatannya hanyalah industri bisnis yang digerakkan oleh uang. Maka berharap kapitalisme akan mengakhiri wabah adalah suatu hal yang mustahil. Kapitalisme berpijak pada kepentingan para pemilik modal bukan kepentingan rakyat. 

Karena seharusnya seorang pemimpin ketika menghadapi wabah yang semakin ganas ini harus berpikir cepat, bertindak tepat, dan bersikap tegas. Bukan plin plan dan mengikuti kepentingan para pemilik modal. Sebab penyebaran virus ini sangat dahsyat. Pemimpin tak boleh berpikir lambat, yang berakibat jumlah korban makin banyak. Dan ini hanya akan terwujud ketika Islam yang dijadikan sebagai pijakannya. 

Islam yang merupakan din sempurna yang memiliki seperangkat aturan, dan negara Islam yaitu Daulah Khilafah adalah bagian darinya yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara kaffah. Hal ini yang akan menjadikan negara berfungsi secara sehat dan penguasanya hadir dengan karakter kuat sebagai pemelihara urusan rakyat. Termasuk kesehatan dan keselamatan jiwa ketika terjadi wabah. 

Maka sudah saatnya rakyat menjadikan Islam sebagai pijakan menuju kehidupan normal yang sesungguhnya untuk mengakhiri pandemi. Sebab, hanya Islam yang memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi dan materi.

Tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa menelan korban lebih banyak lagi. Pertama, penguncian areal wabah sesegera mungkin. Ditegaskan Rasulullah saw, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Kedua, pengisolasian yang sakit. Sabda Rasulullah saw, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari).

Ketiga, pengobatan segera hingga sembuh. Bersabada Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan didiadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”
Karena Islam memandang kesehatan adalah kebutuhan pokok publik yang harus dipenuhi oleh negara sebagai bagian dari kewajiban riayah kepada rakyatnya yang diberikan secara murah bahkan gratis. Prinsip sahih Islam ini dalam pelaksanaannya didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam yang merupakan hasil dari sistem kehidupan Islam. Khususnya, sistem ekonomi dan politik Islam. Sehingga memampukan negara melakukan tindakan penguncian sebagai tindakan paling efektif dalam memutus rantai wabah. Bahkan, mampu menjamin akses setiap orang terhadap tes dan pengobatan gratis yang berkualitas.

Ini semua akan terwujud ketika negeri ini mau kembali kepada Islam secara kaffah yang menerapkan aturan dari sang pencipta. Sistem Illahi yakni Khilafah yang akan menjadi pembebas segera Indonesia dan dunia dari pandemic. Bahkan bukan hanya masalah pandemi namun juga dari semua kerusakan akibat lalai dan abainya rezim kapitalisme dan cacat permanen yang dihasilkan sistem kapitalisme. Maka selayaknya system inilah yang kita perjuangkan agar keberkahan bisa terwujud. Wallahu`alam bisshawab.[]


Oleh: Fitriani,S.H.I 
(Founder Forum Silaturahmi Tokoh Muslimah Deli Serdang)

Posting Komentar

0 Komentar