Si Merah Pedas Tak Sepedas Warnanya


Bagi penyuka makanan pedas, tidak lengkap kalau makan atau ngemil gorengan tanpa ditemani cabe rawit. Makanan dengan bumbu tajam yang menggigit lidah ini termasuk salah satu yang paling digemari di Asia, terutama negara Indonesia. Bahkan ada yang bilang makan belum terasa lengkap jika tidak didampingi sambal atau cabai rawit. 

Namun sayangnya diakhir tahun 2020, Jawa Tengah justru dikejutkan dengan berita cabe merah palsu. Rasa cabe sudah tak sepedas warnanya yang merah merona. Sebab yang awalnya cabe hijau sudah diberi pewarna merah agar serupa dengan cabe merah asli . Kasus ini terjadi di Banyumas, Temanggung dan sekitarnya.

TRIBUNNEWSWIKI.COM Kamis, 31 Desember 2020 melansir, - Heboh penemuan cabai rawit dicat warna merah di 3 pasar di Kabupaten Banyumas, Selasa (29/12/2020). Pelakunya yang merupakan petani cabai, kini telah ditangkap Polresta Banyumas. Petani tersebut nekat mengecat cabe rawit miliknya menjadi merah lantaran tergoda harga mahal.

BN (35), petani asal Nampirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengaku ingin untung banyak. Dari kasus tersebut, Kasat Reskrim Polresta Banyumas Kompol Berry mengatakan, pengecat cabai rawit kuning-hijau jadi merah karena harga cabai rawit merah di pasaran sedang tinggi. 

Pasalnya harga cabe rawit merah mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Sedangkan cabai rawit hijau biasa hanya dihargai Rp 19 ribu per kilogram-nya. "Motifnya ekonomi, cabai rawit merah harganya Rp 45.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit kuning Rp 19.000 per kilogram," kata Berry saat dihubungi wartawan, Kamis (31/12/2020). Perbedaan harga antara cabai rawit merah dan kuning itu, kata Berry, membuat terduga pelaku nekat melakukan perbuatannya.

Lagi-lagi untung dan rugi yang menjadi tujuan utamanya, rakyat benar-benar sudah terbius oleh kapitalisme. Kenapa tidak? Kapitalisme lah yang menyebabkan masyarakat hanya berpikir untung dan rugi, yakni memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Pada hakekatnya kapitalisme memanglah sistem yang zalim hanya memikirkan keuntungan pihak-pihak kapital, menjadikan rakyat sebagai tumbal atas segala kerakusan oligarki. Wajar jika kesejahterakan masyarakat sulit diwujudkan, kecuali pada orang-arang bermodal.

Sistem kapitalisme memungkinkan para pemilik modal untuk memainkan bisnisnya sesuai keinginan mereka. Sehingga kasus cabe palsu yang diwarnai hanya untuk mendapatkan keuntungan lebih pun dilakukan tanpa melihat dampak bahaya dari zat cat yang nantinya akan dikonsumsi. Tidak hanya itu kapitalisme juga telah merusak akhlak manusia untuk selalu berbuat curang tanpa ada rasa takut ataupun was-was terhadap dosa kecurangannya. Ditambah lagi kondisi pandemi Covid-19 ini belum juga tertangani dengan baik. Sangat ironis.

Di negara yang berdaulat petani lah yang menentukan harga komoditasnya. Sedang di negara yang tidak berdaulat regulator yang menentukan harga. Selama pemerintah 'tidak faham' fungsinya terhadap produksi maka yang terjadi petani akan terjajah. Sistem ekonomi kapitalisme dibangun atas tiga pilar:

Pertama, fokusnya pada pertumbuhan ekonomi bukan pada jaminan pertumbuhan kebutuhan pokok pada setiap individu secara merata. Akibatnya pertumbuhan ekonominya tinggi namun kemiskinan masih tetap ada, karena kekayaan yang melimpah itu hanya dikuasai oleh segelintir orang aja.

Kedua, adanya kebebasan kepemilikan. Kepemilikan yang seharusnya milik umum diserahkan pada swasta melalui liberalisme. Dampaknya adalah rakyat yg miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Ketiga, sistem pendistribusian diserahkan kepada mekanisme pasar sehingga yang kuat akan menang yang lemah seperti para petani akan semakin lemah.

Maka satu-satunya solusi untuk mensejahterakan masyarakat tidak lain adalah kembali kepada penerapan ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam telah terbukti berhasil mensejahterakan masyarakat selama 13 abad, bahkan terbukti bersih dari krisis ekonomi. Islam menjaga dari krisis ekonomi dengan menjadikan emas dan perak sebagai mata uang, bukan yang lain. Jika ada uang kertas yang beredar, maka ditopang dengan emas. Jadi, uang kertas di daerah manapun tidak akan mendominasi mata uang lainnya.

Selain itu Islam melarang  kepemilikan umum dikuasai individu. Pendistribusian yang ada pada lahan pertanian untuk tidak dikelola oleh asing sehingga petani lokal mampu mengelolanya. Negara pun bertanggungjawab atas pendistribusian hasil pangan serta tidak menyerahkannya ke pasar bebas. Sebab pasar bebas telah membunuh rakyat dengan kebijakan impor ini. Alasan impor karena hasil bumi kita kurang. Akhirnya para petani, produsen lokal yang seharusnya ditunjang agar mampu bersaing, pada sekarat karena membanjirnya produksi serta barang impor yang lebih murah harganya. Oleh karena itu pasar bebas harus dimusnahkan.

Berharap pada sistem kapitalisme dalam menyelesaikan setiap persoalan hidup itu tidak akan berhasil. Setiap solusi yang dilahirkan oleh sistem kapitalisme pada dasarnya bukanlah solusi. Akan tetapi, hanya sekedar 'obat penghilang penyakit'. Sumber penyakit tidak pernah diselesaikan. Kesejahteraan akan terwujud manakala kebutuhan dasar rakyat antara petani, penjual dan pengkonsumsi terpenuhi. Ini akan terwujud jika Syariat Islam diterapkan secara kaffah. Wallahua'lam bishshawab.[]

Oleh: Lina Ummu Dzakirah

Posting Komentar

0 Komentar