Selimut Cinta dari Ibunda


Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga
(Lirik lagu - Harta Berharga)

Kita harus jujur mengakui, bahwa kenyataan hidup tak seindah lirik lagu. Lika-liku kehidupan tak sempurna seperti sinetron dan film. Kini rumah bagaikan neraka dunia yang dipenuhi amarah dan tangisan penghuni rumah. Rumah-rumah yang seharusnya penuh kehangatan, justru menjadi mesin penghilang nyawa yang siap bekerja kapanpun tanpa disadari.

Sebagaimana yang diberitakan GoRiau.com, seorang ibu di Nias Utara, Sumatera Utara, membunuh tiga orang anaknya lantaran himpitan ekonomi. Adalah MT (30), yang tega membunuh anak-anaknya yang masih kecil pada Rabu (9/12) lalu. Ia membunuh tiga anaknya yang masih balita dengan cara menggorok leher ketiganya ketika sang suami dan anak sulungnya pergi ke TPS untuk ikut pemilihan Pilkada Nias Utara. 

Berita memilukan ini bukanlah kejadian yang pertama kali. Di Temanggung, seorang ibu tega menghabisi nyawa bayi yang barusan dilahirkan. Dilansir dari Tribunnews.com, hasil penyelidikan dan penyidikan, ada motif malu dari pihak pelaku dan ada problem ekonomi (Kamis, 17/12/2020).

Rumitnya cobaan hidup membuat sebagian Ibu mengambil jalan pintas untuk mengakhiri nyawa anak-anaknya. Kini anak-anak tak lagi menjadi buah cinta suami istri. Anak-anak tak lagi menjadi penyejuk mata yang menenangkan pikiran saat memandangnya. Sekarang anak-anak seakan menjadi "beban hidup" yang layak untuk dihilangkan. Naudzubillahi min dzalik.

Inilah ironi di negeri khatulistiwa. Sebuah negeri yang kaya raya, namun menyimpan berjuta himpitan masalah. Hingga sosok Ibu yang harusnya penuh kasih merawat keluarganya, justru menjadi sosok yang hilang welas asihnya.

Masalah Klasik 

Kebutuhan akan makan minum dan problem ekonomi, masih menjadi masalah klasik yang belum terpecahkan di negeri ini. Hingga membuat stres pikiran, depresi, lantas mendorong untuk melakukan perbuatan yang diluar nalar manusia normal.

Inilah musibah luar biasa, yang menyebabkan sosok ibu tercabut fitrah kelembutan dan jiwa pengasihnya. Hendak meminta bantuan ke orang lain pun, ternyata kondisi masyarakat sekitar dan sebagian besar penduduk di negeri ini juga diterpa masalah yang sama.

Ya, kemiskinan dan tidak ada jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok tidak hanya dialami satu atau dua Ibu rumah tangga. Di sisi lain, ada sebagian kecil ibu-ibu sosialita yang mempunyai kekayaan luarbiasa tengah menikmati aliran harta melimpah. Inilah fakta kehidupan sekuler kapitalis. Jurang kemiskinan dan kekayaan terbuka lebar.

Namun saat ini, ternyata kemiskinan maupun kekayaan sama-sama membuat hati tidak tenang. Yang miskin hidupnya tak tenang, yang kaya pun juga was-was dengan kekayaannya. Benarlah firman Allah Ta'ala dalam surah Thoha ayat 124, yang artinya: ”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud waman a'radla an dzikri yaitu sikap menolak perintah Allah Ta'ala dan apa yang diturunkan kepada Rasul-Nya, kemudian mengambil aturan/hukum selain dari petunjuk Allah Ta’ala. Sedangkan maisyatan dlanka adalah kesempitan hidup di dunia, tidak memperoleh kebahagiaan, dada mereka sempit karena kesesatannya.

Sangat benar firmanNya, saat manusia jauh dari Allah Ta'ala, maka inilah gerbang awal munculnya ketidaktenangan hidup. Walaupun Allah sudah memberi dengan banyak rezeki (pasangan hidup, anak-anak, harta, kendaraan, rumah dan sebagainya), namun itu semua justru melahirkan banyak musibah dan kerusakan.

Cahaya Islam

Islam hadir sebagai cahaya di tengah kegelapan berbagai problem hidup. Dengan cahaya Islam, maka semua musibah kegelapan akan bisa dituntaskan. Jalan satunya-satunya tentu bersama-sama mengembalikan panduan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Panduan inilah yang akan menyelamatkan seluruh manusia dari jeratan jutaan masalah, menuju lahirnya ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dan dengan cahaya Islam, InsyaAllah akan bisa mengembalikan peran Ibu sesuai fitrahnya yaitu menjadi pendidik pertama dan utama bagi putra putrinya, yang akan menyelimuti rumah-rumah kaum Muslimin dengan kasih sayang yang tulus. Sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam surah Thaha yang selayaknya menjadi renungan kita bersama.

"Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah. Melainkan peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)." (TQS. Taha : 1-3). Wa ma taufiqi illa bilLah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari, Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar