Sayembara Ibu Negarawan



Tahun 2020 adalah tahun anak-anak mendapatkan bounding attachment dalam pelukan dan asuhan ibu. Sekiranya ada sayembara, juri pasti akan kesulitan menilai. Karena banyak para ibu yang ternyata bisa all out bakatnya, mengajar ilmu dan keterampilan kepada anak-anak mereka. Para ibu menjadi supermom, sanggup menyelesaikan tugas domestik rumah tangga ditambah mungkin ada yang sembari bekerja, berdakwah. Saat studi sekolah dilangsungkan daring, ibunda pula tambah pahala karena harus memainkan peran sebagai guru informal dari pendidikan kurikulum negara. Wahai bunda, benarlah negara ini rubuh jika engkau sebagai tiangnya tak kokoh menghadang tantangan spesial pandemi ini.

Ironinya, nyata ada kasus penganiayaan oleh seorang ibu tiri (SS) berujung tewasnya anaknya SL (7 tahun) di Singkawang selatan dengan benda tumpul yang membuat luka lebam (Kompas.com, 5/12). Ibu terancam 10 tahun penjara dan ditambah 1/3 karena terduga pelaku adalah orangtua korban (Pasal 80 UU 35 tentang perlindungan anak). Adapula ibu yang stress ditinggal mati suami, hingga membunuh dua anak kandungnya dengan bantal hingga lemas dan wafat di Hulu Sungai Tengah, Kalsel (27/11). Tak jua kita lupa, ibu yang membunuh anaknya yang baru berusia 8 tahun dengan alasan susah diajari kala belajar online (15/9).  

Seorang ibu lainnya (MT, 30 tahun) tega membunuh tiga anak kandungnya disaat semua keluarga sedang berangkat mencoblos ke TPS karena sedang Pilkada. Ibu di Nias Utara ini membunuh anak-anaknya dengan parang karena himpitan ekonomi (Jpnn.com, 9/12). Naasnya, dia pun menyusul meninggal karena sakit muntah-muntah akibat upaya bunuh diri yang gagal dilakukan, setelah segera diketahui oleh suaminya yang baru pulang dari mencoblos. Harapan ibu ternyata sirna dikala rakyat Nias Utara sedang menanti harapan baru dari pemimpin yang kelak terpilih memimpin daerah mereka. 

Tragis sungguh jika kasus-kasus yang dilakukan oleh para ibu seperti diatas kian kerap kita jumpai. Fisik dan psikis ibu tidak lagi dapat waras karena kehidupan yang kian kejam baginya. Kehidupan yang harusnya ada yang mengurusinya, yakni penguasa. Betapa beratnya hisab para pemimpin yang telah gagal melindungi rakyatnya. Gagal mencerdaskan rakyatnya dengan kurikulum pendidikan. Dan gagal mensejahterakan rakyatnya dengan sistem ekonomi kapitalismenya. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban meski hanya satu nyawa yang hilang dibawah kepemimpinannya. 

Rasulullah SAW sebagai kepala Negara, kepada hewan saja begitu menyayangi apalagi dengan nyawa manusia. Tauladan beliau ketika menugaskan prajurit menjaga segerombolan anjing yang sedang istirahat dijalur lalu lintas pasukan perang beliau. Atau dikala kucing-kucing kota yang tak pernah kelaparan di masa beliau SAW. Beliau bahkan mengajarkan adab mengunggang unta dikala tenaganya tidak sedang digunakan semestinya. Apalagi akan nyawa manusia, beliau amat sedih mendalam kala satu demi satu umat Islam wafat, bukan hanya karena peperangan membela agama tapi juga yang wafat karena uzur dan sakitnya. Bahkan di menjelang wafat pun, beliau SAW masih memikirkan nasib umatnya. Masya Allah sebegitu cintanya baginda Nabi SAW kepada kita.

Sayangnya, fakta ibu tega diatas dimanfaatkan oleh feminis untuk menguatkan argumen mereka akan pentingnya menyuarakan penghilangan sumber stress para ibu. Dari sisi ini kita pun menyetujui, namun solusi fasad feminis sendiri sangat tega membiarkan perempuan disuguhi edukasi semu dan pemberdayaan yang menjauhkan mereka dari keluarga dan agamanya. Sudah dalam 25 tahun pasca Global Beijing Platform for Action pada perjuangan HAM perempuan, feminis merasa sudah melakukan segalanya, namun tidak berbuah hasil malah tambah berani menyalahkan solusi agama. Masih alergi ‘bawa-bawa agama’ dalam solusi politik dan kehidupan. 

Apapun alirannya, feminis tetap membawa ide sesat. Feminisme masih menyuarakan kesetaraan gender dengan memanfaatkan ketertindasannya di dunia. Padahal mereka sedang di bawah hegemoni raksasa kapitlisme, tidak menyadari bahwa hegemoni itulah yang membuat mereka masih melihat fakta ketertindasan. Lalu mengapa solusinya pun adalah solusi yang diamini kapitalisme itu sendiri? Kebebasan berpendapat, bertingkah laku, berkeyakinan dan pemilikan sumber daya. Yang mana bebas dimaknai tanpa batas dan mengeyampingkan agama yang katanya membatasi dan kalangan yang membatasi ini disebut mereka sebagai konservatif. 

Terang saja konservatif yang dimaksud adalah Islam. Padahal Islam membawa misi kebenaran. Meletakkan hak dan kewajiban perempuan pada tempat yang semestinya serta punya kebebasan yang diberkahi oleh Tuhannya. Bebas namun punya arahan yang jelas, fokus pada tujuan hakiki maka perubahan yang disuarakan pun bukan untuk tambal sulam produk perundang-undangan (law approach) atau tuntutan khas liberalisme yang dibungkus istilah ilmiah dan dibawa kalangan intelektual. 

Sayangnya ibu negarawan yang konsisten membela perempuan itu hari ini langka, yang ada membawa ide atas dikte dari kalangan feminis dan lilberalis. Sehingga posisi strategis pun dalam legislatif, eksekutif  dan yudikatif tidak akan pernah mengembalikan kewarasan perempuan dan fitrah pada tempatnya. Karena tempatnya disirami dengan ide barat yang tidak pernah terbukti mensejahterakan dan melindungi perempuan. Berulang pemilu, perempuan mendulang kecewa atas pengkhianatan keterwakilannya. Mungkin karena feminisme tak ubahnya kolonialisme di negeri ini, malah mewakili agenda PBB dan entitasnya seperti UN Women, UNDP, UNICEF dan lain-lain.

Maka pencarian kita terhadap ibu negarawan akan kian panjang mengingat demokrasi bukanlah habitat produktif untuk kaderisasi. Tidak akan kita temukan ibu pendidik mujahid seikhlas Al-Khansa Binti Amru dan seberani Nusaibah Binti Ka'ab. Atau orator muslimah dan jubir kalangan muslimah selantang Asma Binti Yazid dan penegak hukum setegas Asy-Syifa’ binti Abdullah. Juga gemilangnya ide dan profesionalitas Hindun binti Utbah bin Rabiah. Dicari pula ketulusan sebagaimana tulusnya bunda Siti Khadijah dalam optimalisasi sumberdaya yang dimiliki untuk tegaknya Islam dimuka bumi. Tidak akan ada ibu negarawan sejati kecuali sistem terbaik yang membentuknya yakni sistem Islam. Wallahu a’lam Bi As Showab.[]

Oleh: Yeni Ummu Ara
Founder Kutiba (Komunitas Aktif Baca Muslimah Kalbar)

Posting Komentar

0 Komentar