Refly Harun: Radikalisme dan Terorisme Bukan Musuh Utama Republik Ini




TintaSiyasi.com-- Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun menilai musuh utama republik ini bukan radikalisme dan terorisme.

"Mudah-mudahan kita sadar bahwa musuh utama kita di Republik ini so long time (selama ini) yang merusak sendi-sendi kehidupan kita menurut pendapat saya, bukan radikalisme, bukan terorisme," tuturnya dalam acara bertajuk Korupsi Bansos, KPK Periksa Adik Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari PDIP, Jumat (15/01/2021) di kanal Youtube Refly Harun.

Menurutnya, kalau pun ada, itu kelompok kecil dan bukan dari kelompok yang berkuasa. "Tapi persoalan kita so long time sejak zaman Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi itu adalah korupsi. Dan korupsi itu dilakukan oleh para penguasa atau orang yang dekat kekuasaan. Karena kalau dia tidak punya kekuasaan tidak mungkin dia melakukan tindak pidana korupsi. Kalau dia tidak dekat dengan kekuasaan tidak mungkin dia melakukan tondak pidana korupsi. Nah inilah penyakit akut bangsa kita," tegasnya.

Namun, menurutnya kadang agenda politik tertentu justru membelokkan agenda utama ini menjadi agenda melawan radikalisme, terorisme dan lain sebagainya. "Padahal kelompok-kelompok itu adalah kelompok-kelompok yang tidak berkuasa. Dan adanya mungkin juga di ujung-ujung juga. Kalau ada orang berpendapat atau berpendirian keras dengan agamanya, ya tidak bisa kita katakan radikal atau teroris," ujarnya.

Sementara terkait kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial Covid-19 yang melibatkan eks Menteri Sosial sekaligus Wakil Bendahara Umum partai PDIP Bidang Program Juliari Peter Batubara, Refly mengungkapkan bahwa UU Tindak Pidana Korupsi mengancamnya dengan hukuman mati.

"Dana bansos dikorupsi. Bahkan kita tahu bahwa dana itu sangat diperlukan oleh masyarakat yang terdampak oleh Covid-19 dan juga krisis ekonomi dan finansial yang sekarang kita hadapi dan kita alami. Tidak heran kalau undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi itu mengancam dengan hukuman mati kalau korupsi itu dilakukan pada saat krisis," katanya.

"Mudah-mudahan ada suatu masa kita menyadari dan kemudian mau melakukan perang bersama melawan korupsi sebagai the common enemy di republik ini yang sudah merusak sendi-sendi perekonomian republik ini," pungkasnya.[] Achmad Mu'it

Posting Komentar

0 Komentar