Ratusan Nakes Wafat, Saatnya Introspeksi!


Hati mana yang tak resah, jika pasangan jiwanya harus bertaruh nyawa di garda terdepan melawan keganasan covid-19? Terlebih menemui kenyataan korban jiwa dari kalangan tenaga medis banyak berjatuhan. Kalau menuruti perasaan, pasti mereka enggan melepas pasangannya untuk bertugas. 

Sejak awal pandemi, berbagai kalangan telah meminta pemerintah untuk membatasi mobilitas rakyat. Bahkan para pakar menyerukan lockdown untuk menghambat laju penyebaran virus. 

Terkait tenaga kesehatan, banyak pihak mengingatkan pemerintah untuk memberi perhatian lebih untuk menguatkan fisik dan psikis para tenaga medis. Mengingat mereka berhadapan langsung dengan musuh tak kasatmata, virus covid-19. 

Namun apa yang terjadi? Tentu masyarakat masih ingat, demi perputaran roda ekonomi, tak ada lockdown sebagaimana yang disarankan para ahli. Pemerintah masih pula membuka kran pariwisata. Hingga yang terbaru, pemerintah membiarkan bahkan terkesan memfasilitasi terjadinya kerumunan di hingar-bingar Pilkada. Akibatnya, angka positif Covid-19 melonjak tajam.

Sementara di sisi medis, terjadi kelangkaan APD terjadi hingga rakyat berjibaku membuat APD seadanya untuk para tenaga kesehatan. Insentif bagi pahlawan kesehatan ini juga sempat tersendat beberapa bulan. Bahkan yang lebih mengenaskan, saat mereka mulai berguguran, Menteri kesehatan kala itu sempat melontarkan kalimat minim simpati.  

Kini hampir setahun pandemi melanda dunia, bagaimana nasib para nakes di negara kita? Semakin memilukan, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyampaikan bahwa kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi se-Asia. Tercatat ada 504 yang wafat akibat terinfeksi covid-19, terdiri dari 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medis (Kompas, 2/1/2020). Angka tersebut dimungkinkan untuk terus bertambah seiring semakin menggilanya virus covid-19 dan masih gamangnya pemerintah mengambil tindakan dalam mengatasinya.

Beginilah nasib nakes di zaman kapitalisme, zaman dimana nyawa dan keselamatan manusia tak lebih berharga dari cuan. Atas nama pengabdian dan kemanusiaan, mereka dituntut untuk professional, namun minim penghargaan dan perlindungan.


Islam Terbaik

Wafatnya ratusan nakes akibat pandemi bukanlah hal yang sederhana, bahkan tak bisa sekadar dikatakan sebagai resiko pekerjaan. Ini adalah musibah yang harus kita pikirkan jalan keluar agar tak terulang lagi.

Jika kita telisik lagi, semua kejadian ini tak lepas dari paradigma pemimpin negara yang mengadopsi Sistem Kapitalisme. Dengan berorientasi pada pencapaian ekonomi, keselamatan manusia dinomorduakan. Jelas ini bertentangan dengan akal sehat dan fitrah manusia. Sehingga sudah seharusnya sistem bobrok Kapitalisme ini diganti karena sungguh tak layak menjadi pengatur dalam kehidupan.

Setiap manusia pasti menginginkan ketenangan dan jaminan perlindungan dalam hidupnya, termasuk para tenaga kesehatan. Terlebih di masa pandemic, di mana mereka sangat beresiko tertular covid-19. Lantas, ketika itu tak didapatkan dalam Sistem Kapitalisme, sistem apalagi yang mampu memberikannya?

Mengapa kita tidak kembali pada Sistem Islam? Bukankah sebagai diin dari Al-Khalik Islam begitu sempurna mengatur kehidupan, memuaskan akal sehat dan sesuai fitrah manusia.  

Islam sangat menghargai manusia, kehormatan bahkan nyawanya. Bahkan salah satu maqashidus syari’ah adalah perlindungan terhadap nyawa manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain , atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya . Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32)

Islam menetapkan tanggung jawab perlindungan itu di tangan penguasa sebagai junnah (perisai). Penguasa yang menyadari bahwa kelak dia akan dihisab oleh Allah yang Maha Memberi Balasan menjadikannya serius mengurusi rakyat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab, jangankan keselamatan manusia, seekor keledai pun tak dibiarkan terperosok akibat lubang di jalanan.

Sungguh suatu perpaduan sempurna, ketika penguasa yang beriman ini hanya mencontoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, yaitu dengan menerapkan syari’at Islam dalam mengurusi rakyatnya. Termasuk di dalamnya menjalankan sistem kesehatan Islam. 

Islam mengajarkan untuk melakukan lockdown Islami di wilayah yang terdampak pandemi, mencukupi kebutuhan, serta memberikan asupan gizi dan obat-obatan yang diperlukan rakyat di wilayah tersebut. Kemudian mendorong negara melakukan tracing, melakukan edukasi serta memperkuat ketahanan tubuh rakyat yang di wilayah yang belum terdampak. 

Sementara di sisi lain, negara memfasilitasi para ilmuwan untuk meneliti dan memproduksi vaksin serta obat-obatan yang tepat. serta tentu saja memperkuat tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dengan fasilitas terbaik. 

Semua tindakan yang dilakukan negara tersebut adalah dalam kerangka pelayanan, tidak berorientasi mendapatkan keuntungan materi. Semata demi mendapatkan ridho Allah Azza wa jalla.

Dari mana negara mendapatkan dana untuk pembiayaan kesehatan ini? Tentu saja dari kas Baitul Mal, serta donasi/infak dari rakyat yang mampu.

Penerapan syariat Islam tidak boleh bersifat parsial, karena setiap sistem kehidupan saling berkaitkelindan. Dan sosok penguasa bertakwa yang menerapkan syariat Islam mustahil hadir dalam sistem demokrasi. Hal ini hanya ada dalam naungan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyyah sebagai puncak pelaksanaan syariat Islam yang kaffah. 

Dalam naungan Khilafah lah jaminan perlindungan terhadap para tenaga kesehatan akan terwujud nyata. Wallahu a’lam.[]

Oleh: Maya Ummu Azka

Posting Komentar

0 Komentar