Rasis Marak, Menunjukkan Standar Kebebasan Demokrasi Tidak Jelas


TintaSiyasi.com-- Terkait dugaan rasis yang dilakukan oleh Ambroncius Nababan (AN) kepada Natalius Pigai, Ricky Fattamazaya M., S.H., M.H. dari Indonesia Justice Monitor mengatakan, kebebasan dalam demokrasi standarnya tidak jelas.

"Demokrasi kan kebebasan yang ngawur (tidak jelas), kebebasan yang liberal, kebebasan yang tolak ukurnya kepentingan saya, (untuk) kepentingan orang banyak tetapi menyakiti orang lain," tuturnya dalam acara Rasialisme Oknum Relawan Projo Berujung Bui? Rabu (27/01/2021) di YouTube News Khilafah Channel.

Menurutnya, fakta yang terjadi saat ini kebebasan hanya dimiliki oleh satu orang (kelompok) tetapi menyakiti orang (kelompok) lain. "Demokrasi memang tidak memiliki standar yang baku, karena standar yang baku hanya ketika dekat dengan kekuasaan," ujarnya.

Kebebasan berbicara dalam demokrasi yang diduga kuat mengandung delik SARA, seperti kasus Ambroncius Nababan (AN) yang mendampingkan antara Natalius Pigai dengan gorila, menurutnya tidak layak dilakukan.

“Berawal dari faktor menganggap dia atau suku dia lebih hebat ketimbang yang lain atas dasar demokrasi mereka mengatakan yang demikian. Karena kita bersuku-suku kita memiliki adat istiadat yang lain mesti kita saling menghormati dan bentuk saling menghormati kita tidak menjelek-jelekan mereka apalagi sampai membandingkan dengan hewan inikan tidak semestinya,” paparnya.

"Semestinya, kita tidak ada yang rasis karena kita beragam suku, ras, dan golongan kita warga negara yang majemuk dari sabang sampai merauke. Latar belakang yang berbeda-beda suku adalah potensi untuk kekuatan bersama bukan menjadi hambatan hingga terjadi perpecahan," pungkasnya. [] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar