Perceraian Global Naik, Abu Zaid Nilai Dampak Pandemi Global



TintaSiyasi.com-- Menyoroti angka perceraian yang terus meningkat di berbagai negara, Pengasuh Kajian Keluarga Samara Ustaz Abu Zaid mengatakan hal tersebut dipicu karena pandemi yang merata di berbagai belahan dunia (global).

"Karena pandemi ini global, semua negara sudah terkena Covid dengan dampak yang berbeda-beda, sehingga dampak perceraian itu global juga," tuturnya  dalam Kajian Keluarga Samara Cerai Bukan Solusi Hadapi Pandemi, Rabu (13/01/2021) di kanal YouTube Kaffah Channel.

Ia memberi contoh di Inggris. Ia menjelaskan, pengadilan hukum di Inggris Stewarts, kasus perceraian meningkat kurang lebih 12 persen, Amerika Serikat meningkat 34 persen, dan pasangan yang baru menikah yang sudah cerai meningkat 20 persen. Menurutnya, angka tersebut menjadi cukup besar. Imbuhnya, tren naiknya angka perceraian juga terjadi di Cina dan Swedia.

"Para ahli memprediksi bahwa peningkatan perceraian akan terjadi sampai tahun 2021. Jadi meningkat di berbagai negara. Di samping problem ekonomi, ada faktor manusia. Yaitu faktor psikologis. Kalau di Eropa karena bosan. Karena di rumah terus, bekerja dari rumah, jarang keluar rumah, akhirnya mereka merasa suntuk," terangnya.

Ia mengatakan, karena karantina wilayah, suami istri lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumah. Ia menjelaskan, pada awalnya mereka senang, karena lebih banyak waktu. Ia mengungkapkan, setelah sebulan, dua bulan, dan nyaris setahun mereka mulai tidak senang dan akhirnya bosan di rumah, dan bosan dengan istrinya atau suaminya. Menurutnya, hal itu karena merasa terbebani dengan urusan-urusan rumah tangga dan akhirnya mereka memutuskan bercerai. Begitulah fakta yang terjadi dan ia temui.

"Dua faktor (ekonomi dan psikologis) bisa berpengaruh secara sama. Yaitu pertama masalah ekonomi yang menurun, yang kedua secara psikologis merasa bosan (terhadap pasangan) jenuh di dalam rumah sementara sisi lain ada tawaran-tawaran di luar sana ada yang lebih menarik," ujarnya.

Abu Zaid sapaan akrabnya menyampaikan nasihatnya, dalam suasana pandemi inilah seharusnya keluarga Muslim berbenah diri, karena Allah memang akan menguji hamba-Nya. Ia tambahkan, Allah sungguh-sunguh akan menguji, dengan rasa takut, dengan rasa lapar.

"Siapa orang yang sabar? Orang yang sabar itu adalah orang yang mengatakan innalilahi wa innailaihi roji'un. Jadi kita sadar betul ini ujian dari Allah, dan semestinya sebuah keluarga Muslim ketika diuji oleh Allah itu, ujian karena kita berusaha mencari ridha Allah, kemudian mendapatkan berbagai kendala seperti pandemi, maka sikap kita terus maju, jangan mundur," tandasnya.

Menurutnya, asas rumah tangga yang sakinah yang pertama, dibangun dengan tauhid dan akidah. Yaitu, ia menambahkan, laa Illa haillallah Muhammad Rasulullah, sekaligus tauhid menjadi tujuan berumah tangga. Menurutnya, yang kedua yaitu rumah tangga dilakukan untuk mencari ridha Allah SWT. "Posisi kita sudah benar, jalan yang kita tempuh sudah benar. Kita berjuang diatas akidah kita sesuai syariat kita, sudah benar membangun keluarga memuliakan suami, istri, anak, memberikan hak dan kewajiban masing-masing, berusaha menggapai keluarga takwa, mencetak generasi-generasi Islam andalan tentu itu sudah sesuai perintah Allah," bebernya.

Oleh karena itu menurutnya, setiap keluarga harus pantang mundur dalam membangun rumah tangganya. "Maka dari itu, sikap kita harus maju terus pantang mundur tidak boleh belok, kalau belok bubar keluarganya tidak jadi," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar