Pentingnya 'Mental Recovery' Agar Hidup Lebih Baik dan Lebih Taqwa Pasca Bencana


Pagi itu usai sholat subuh, gempa terjadi lagi. Selesai mengimami sholat subuh, saya bergeser gabung dengan jamaah untuk mendengarkan ceramah yang disampaikan Kyai Marsiy (relawan ISN) dari Jakarta. Baru sekitar lima menit, tetiba terjadi gempa. Sebagian jamaah langsung berlarian keluar. Alhamdulillah, Sejenak gempa mereda. Kajian pun dilanjutkan lagi. Yang diluar pun masuk kembali ke dalam masjid. 

Namun sekitar dua menit kemudian terjadi gempa lagi. Kali ini cukup lama dan lebih besar. Bahkan lampu juga padam. Jamaah berhamburan keluar. Kajian dilanjutkan di halaman masjid dengan menggelar tenda darurat. Sebagai Relawan yang tergabung dalam ISN (Islam Selamatkan Negeri), saya mencoba menenangkan beberapa orang yang masih panik dengan membagikan air minum (sangat penting dan menenangkan). Tampak Pandangan mereka datar dan bibir bergetar. 

Kebanyakan wajah mereka pucat dan gemetaran. Ada juga yang cidera ringan akibat bertubrukan saat lari keluar masjid. Ternyata gempa pagi itu, 9 Oktober 2018 cukup besar dengan magnitudo 5,2. Terasa cukup menegangkan memang.

Air mineral yang dibagikan di tambah ceramah subuh oleh Kyai Marsiy itu terasa cukup membuat para jamaah tenang kembali. Semua ceria kembali dan siap menjalani hari dengan semangat. Sementara tim Relawan ISN bersiap untuk membatu evakuasi dan memberikan layanan kesehatan serta menyebarkan bantuan di beberapa titik yang belum terjangkau relawan. 

Dari pengalaman di daerah bencana, minimal ada tiga hal yang sangat dibutuhkan para korban bencana. Pertama, penyelamatan nyawa (evakuasi dan medis). Kedua, bantuan material (makanan, pakaian, sarana penunjang). Ketiga, bantuan nonmaterial alias dukungan mental dan spiritual. Ya, bantuan membangkitkan mental dan semangat agar bisa menghadapi bencana dengan baik dan benar. Di sinilah pentingnya program mental recovery yang berbasis spiritual. 

Penyelamatan nyawa ini merupakan kewajiban negara yang utama sebagaimana termaktub dalan konstitusi negara. Siapa pun pemimpinnya mesti cepat bertindak ketika ada bencana untuk menyelamatkan nyawa warganya sebagai wujud tanggungjawabnya. Semestinya hari pertama bencana sudah ada tindakan penyelamatan dan evakuasi. Dan yang tercepat adalah melalui jalur udara. Tujuanya, evakuasi korban yang perlu tindakan medis. Bagi yang bisa bertahan maka salurkan makanan dan obat-obatan untuk membuat mereka bertahan hidup. Jangan ada orang yang sudah selamat dari bencana dan terluka tapi tidak bisa ditolong atau terlambat ditolong. Juga jangan ada yang sampai kelaparan karena tak bisa mengakses sumber makanan. Disinilah pentingnya pengiriman makanan via udara. 

Betapa banyak korban yang terguncang dan kehilangan semangat menghadapi hidup pasca bencana. Apalagi kehilangan keluarga atau orang yang dicintai. Mereka secara materi, tidak masalah dan masih berkecukupan. Namun mereka lemah dan rapuh secara mental. Bahkan ada yang ingin mati menyusul keluarga atau orang yang mereka cintai. Di sinilah pentingnya penyelamatan nyawa manusia dengan dibarengi mental recoveri berbasis spiritual, tak cukup dengan bantuan material saja.

Selain membantu secara material yang mendesak dibutuhkan, mereka juga perlu dibekali pemahaman yang benar. Penting memahami makna bencana dan hidup pasca bencana. Setidaknya ada tiga catatan penting dalam membantu dan membangkitkan para korban bencana, sbb

Pertama, Memahami Makna Bencana. Para korban, baik yang kaya maupun miskin mesti diajak memahami apa makna bencana. Meminjam Istilah Legenda Ebiet G Ade “anugrah dan bencana adalah kehendak-NYA, kita mesti tabah…”. 

Bahwa bencana yang terjadi tak mungkin ditolak karena Ia adalah kehendak Allah, (QS at-Taubah [9]: 51). Oleh karenanya tak mungkin ditolak atau dicegah. Maka sikap yang tepat adalah RIDHA, MENERIMA dengan lapang dada, mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Harus BERSABAR dan BERSYUKUR, masih diberikan nikmat hidup dan selamat, (QS al-Baqarah [2]: 155-157). Nikmat kesempatan masih hidup itu harus disyukuri dan digunakan sebaik-baiknya.

Kedua, Meraih Hikmah dibalik Bencana. Momen bencana Bisa jadi sarana meraih amal sholih dan terhapusnya dosa-dosa. Bagi orang yang beriman dan bersyukur maka ia meraih ketenangan jiwa. Dengan ketenangan itu modal besar untuk meraih kebahagiaan. Meski tinggal dipengungsian dengan sarana terbatas tetap saja bisa tersenyum dan meraih bahagia. Sebaliknya betapa banyak orang diluar pengungsian bahkan tinggal dirumah megah dan istana yang mewah justru mereka tak mampu tersenyum dan meraih bahagia. 

Dengan sikap yang tepat, bukan hanya bahagia yang di dapat tapi bisa meraih amal sholih dan terhapusnya dosa-dosa. Ketika tertimpa musibah dihadapi dengan tetap bersyukur, Ridho dan Sabar maka musibah yang menimpa itu bisa menjadi penghapus dosa-dosa. Sebagaimana Rasul saw. bersabda: _Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus sebagian dosa-dosanya_ (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, menjadi Hebat dengan Taat dan mendekat pada Sang Pencipta. Setiap desah nafas digunakan untuk taat dan berbuat terbaik bagi sesama. Manusia Hebat itu bukan sombong dan membanggakan diri. Sehebat apa pun manusia membangun infrastruktur, jalan TOL, jembatan, bandara, dermaga, rumah mewah dll.  Semua yang dibanggakan itu bisa ambyar, runtuh berantakan, hanya dengan satu bencana sesaat. Betapa banyak manusia sombong seperti Raja Abrahah, Namrud, Fir’aun, dll yang bisa kita jadikan pelajaran. 

Oleh karenanya para korban juga harus diajak untuk lebih mendekat dan mohon perlindungan kepada Allah SWT. Bencana bisa saja terjadi lagi dan manusia tak berdaya mencegahnya. Bahkan Presiden, Menteri, Gubernur, para Jendral bintang empat dan para raja bergabung semua pun, mereka tak mungkin menghentikan Bencana jika Allah SWT sudah berkehendak.  

Beragam bencana yang terjadi menunjukkan betapa manusia itu begitu lemah. Betapa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT. Betapa tidak layak manusia bersikap membangkang terhadap ketentuan-Nya, bermaksiat serta berani mencampakkan petunjuk dan aturan-Nya. Allah SWT berfirman:  "Apakah kalian merasa aman terhadap (hukuman) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap (azab) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku." (TQS al-Mulk [67]: 16-17).

Selain harus Sabar dan syukur dalam menghadapi bencana, maka harus bisa mengambil pelajaran dari bencana yang terjadi. Harus ada perubahan sikap dan tindakan yang lebih baik. Harus bisa jadi lebih taat pada Allah ketika pasca bencana. Termasuk menghindari tindakan dan sikap yang bisa memicu terjadinya bencana.  Betapa banyak musibah yang terjadi itu disebabkan atau setidaknya melibatkan peran manusia. Allah SWT berfirman: "Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian)." (TQS asy-Syura [42]: 30).

Ketika para korban memiliki bekal mental spiritual yang baik, maka mereka akan mampu menghadapi hidup pasca bencana dengan lebih baik lagi. Tentu semua itu butuh kerja keras dan bantuan dari segenap komponen masyarakat. Disisi lain tetap mendorong pemerintah menjalankan tanggungjawabnya untuk menyelematkan dan menolong rakyatnya. Karena sesungguhnya itulah kewajiban setiap pemimpin pemerintahan, tanggungjawab menolong rakyatnya. Sementara posisi masyarakat membantu dan sumbang saran serta menasihatinya. 

Secara teknis upaya membangkitkan semangat menghadapi bencana dapat dilakukan secara bersamaan dengan bantuan lainnya. Pengalaman relawan Tim ISN saat gempa palu dan sulteng, Sudah Hadir pada hari ke-3 setelah terjadi gempa jumat 28 September 2018. Personil Tim Relawan ISN yang dari Jakarta baru hari ke-5 setelah gempa dengan menempuh jalan darat dari Luwuk Banggai karena kala itu penerbangan langsung ke palu belum dibuka. 

Masyarakat bukan hanya berhak mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan logistik dalam menghadapi bencana. Lebih dari itu mentalnya juga harus dikuatkan kembali. Mereka harus memahami apa penyebab bencana dan bagaimana menyikapinya. Inilah yang dikenal program mental recovery.

Kegiatan mental recovery yang bisa dilakuakan ketika bencana antara lain; Trauma Healing, Makmurkan Masjid, Indonesia Mengaji, Indonesia Belajar, Mama memasak bersama, Mari makan bersama, dan bersih lingkungan bersama serta berbagai kegiatan lainnya yang rutin mereka lakukan. Agar lebih efektif maka penanganan setiap kelompok masyarakat disesuaikan dengan segmennya. Tim penanganan Orang Dewasa, tim Penanganan Pemuda/Mahasiswa, tim Penanganan Pelajar dan tim Dakwah Masjid. Semua mesti di menej dengan baik.

Dengan berbagai program tersebut, maka korban bencana tidak sekedar bisa bertahan dan melewati kehidupan ketika terjadi bencana. Lebih dari itu mereka bisa memahami makna bencana dan meraih hikmah dibaliknya. Mereka bisa mempersiapkan Kehidupan pasca bencana yang lebih hebat dengan lebih taat pada aturan dan lebih dekat pada Allah SWT sang Pencipta semesta alam. 

Semoga dengan taat dan mendekat pada Allah, kita dan negeri terhindar dari berbagai bencana. Aamiin…
Sejarah sebagai inspirasi bagi kebaikan masa depan kita. Tabiik.[]

Oleh: Wahyudi al Maroky
(Dir. Pamong Institute/Tim Relawan ISN)

Posting Komentar

0 Komentar